Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 70


__ADS_3

Keadaanku mulai stabil dan membaik, semua orang di rumah ini sangat mendukungku. Aku tak merasa kekurangan suatu apapun. Di tambah lagi, kehadiran bayi yang aku kandung sekarang menjadi perhatian terpusat padaku.


Sayang sekali, kakek dan nenek sudah pulang ke rumah mereka di pantai. Aku sangat ingin sekali mengunjungi mereka, yang paling kuingat di sana adalah pemandangannya dan lampu latar rumah kakek dan nenek yang begitu cantik.


Aku merasa berada kehidupan ku berada di titik puncak. Semoga saja, keadaan ini terus berlangsung lama.


"Sayang... sekarang kan kamu sudah membaik, ada baiknya kita mengabari keluargamu untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan." Ucap Briyan di depan laptopnya.


Hari ini dia tidak bekerja, hanya di depan laptop sudah setengah hari penuh. Sebentar lagi pasti dia akan merasa lapar karena jam sudah menunjukkan pukul 12.00.


Aku yang masih berbaring di tempat tidur menatapnya sejenak memikirkan perkataannya barusan.


"Ide bagus sayang... tapi jangan di rumah ini, sebaiknya di rumah kecil kita saja."


Briyan berhenti dengan aktivitasnya dan menutup laptop. Wajahnya nampak lelah.


"Terserah kamu saja, yang penting keluargamu harus tahu... dan tentang Sena, aku juga mau kamu mendiskusikan masalah ini dengannya. Maksudku, kamu dan Sena bisa melakukan acara syukuran di rumah kecil kita nanti. Lebih hemat biaya dan tempat."


Aku menghembuskan nafas kasar, ide Briyan begitu cemerlang. Aku lega mendengarnya, Riyan benar-benar sosok suami yang baik.


"Tapi sayang... Sena dan Ben belum menikah, kamu tahu sendiri kan."


"Iya, aku tahu.. justru itu, aku ingin kamu membicarakan ini dengan Sena. Tentang kapan mereka akan menikah, kemudian barulah syukuran itu kita laksanakan."


"Iya sayang, baiklah kalau itu yang kamu mau. Aku akan berbicara dengan Sena."


Tok


Tok


Tok


Seorang ART mengetuk pintu dan masuk ke kamar membawakan makan siang untukku.


"Nggak usah repot-repot, aku bisa ke belakang mengambil makanan ku sendiri." Ucapku pada ART yang membawa makanan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa non, makan saja di sini... saya takut non pingsan nanti." Ucapnya menyerahkan nampan berisi makanan ke atas meja di samping kasurku.


"Terima kasih..." Ucapku padanya.


ART tersebut lalu keluar meninggalkan kamarku. Briyan menengok ke arah nampan makananku.


"Sayang.... menu makanan mu kali ini sepertinya sangat sedap. Tapi... sambel apa itu??"


Briyan memperhatikan sambel di wadah mangkuk sedang, sambel yang di peras air jeruk purut dan di campur dengan buah ramania matang.


Si samping nya ada ikan gurame bakar satu potong besar, dengan bayam, kubis yang di rebus. Lalu di mangkuk yang berbeda ada bermacam-macam potongan buah lengkap dengan gula merah dan cabai rawit.


"Apa kamu suka masakan ini sayang??" tanya Briyan.


"Ya," sahutku singkat sambil terus makan.


Aku benar-benar beruntung di perlakukan seperti bak ratu di rumah ini. Tapi, aku juga harus tahu diri. Jangan sampai aku melupakan membuat semua orang kerepotan.


Briyan juga beranjak dari duduknya dan makan siang di dapur. Sudah 3 hari dia tidak bekerja untuk menemani ku di rumah.


Obat yang diresepkan dokter Moe juga sudah habis, hanya tersisa vitamin saja. Setelah makan, aku menelpon Sena membicarakan acara syukuran yang Briyan rencanakan.


["Aku baik, kakak bagaimana?]


["Aku juga baik. Begini... aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, tapi karena aku sedang sakit aku nggak bisa menemui mu sekarang."]


["Apa yang mau kakak bicarakan? katakan saja di telpon, mungkin itu sangat penting."]


["Apa kamu sudah punya rencana kapan menikah dengan Ben?"]


Sena terdiam sejenak.


["Kakak.. aku berat mengatakan ini."]


["Ada apa?"]

__ADS_1


["Ayah dan ibu sangat marah pada Ben, mereka nggak akan membiarkan aku dan Ben menikah."]


["Begitu...?"]


["Ben bahkan dipukuli ayah sewaktu mendengar aku mengatakan tentang kehamilanku. Mereka bahkan mengusirku dari rumah."]


["Benarkah?"]


["Kami pantas mendapatkannya..."]


["Begini, aku baru saja mengetahui kalau aku sedang hamil. Briyan menginginkan untuk mengadakan syukuran bersama-sama dengan dirimu. Kamu kan juga sedang mengandung. Aku pikir kamu dan Ben akan segera menikah."]


["Itu rencana yang bagus, tapi.. kenyataan ku berbeda. Kalau kakak ingin melaksanakan syukuran lakukan saja tanpa aku. Aku sama sekali nggak masalah."]


["Baiklah... Sena, kalau ada apa-apa bicara saja padaku. Jangan sungkan."]


["Ya, kak. Terima kasih banyak."]


Aku menutup telpon, pikiranku semakin berkecamuk. Briyan yang sudah selesai makan siang memandangiku yang begitu semrawut.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Briyan.


Aku hanya memijat-mijat keningku yang kembali terasa pening.


"Tadi aku menelpon Sena."


"Jadi?"


"Ayah dan ibu nggak menyetujui mereka, meskipun ayah dan ibu sudah mengetahui kalau Sena sedang mengandung."


Briyan duduk di sampingku.


"Kalau mereka nggak mendapatkan restu, itu bukan masalahmu. Jadi, berhenti memikirkan yang tidak-tidak. Biarkan mereka berpikir sendiri, mereka bukan anak kecil lagi."


"Ya."

__ADS_1


Briyan kembali membuka laptopnya dan bekerja. Sedangkan aku masih berada di tempat tidurku hanya memainkan ponsel saja seharian penuh.


Aku memainkan beberapa game yang sudah aku download. Briyan sesekali menengok apa yang sedang aku mainkan. Kemudian ia kembali bekerja. Kopi hitam dengan gelas besar sudah berada tepat di samping laptopnya.


__ADS_2