Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 28


__ADS_3

Aku, Briyan dan pemilik perahu melanjutkan perjalanan kami. Dalam kegelapan, jauh dari jalan raya dan dingin yang semakin menusuk. Kami berharap bisa segera sampai ke rumah.


Pukul 22.00 malam, si istri pemilik perahu mengantuk dan tidur dengan santai di salah satu sisi perahu.


Sedangkan Briyan membantu pemilik perahu mendayung. Meskipun awalnya dia kesulitan, Briyan berhasil mendayung seperti yang telah diajarkan.


"Untung saja arusnya sangat deras, sangat membantu kita untuk berlayar dengan cepat." ucap si pemilik perahu.


Pcak


Blub


Blub


Blub


Pcak


Arus air memang sangat deras, membuat perahu berlayar dengan sangat cepat ditambah dengan dayungan Briyan.


"Saya mau tidur dulu, lebih baik kita bergantian. Sungai ini tidak bercabang, jadi kita tinggal mengikuti saja." Ucap si pemilik perahu.


"Baiklah pak."


Si pemilik perahu tidur di dekat istrinya, sedangkan aku mendekati Briyan dan ikut membantunya mendayung.


"Apa kamu bisa mendayung?" tanya Briyan.


"Nggak sama sekali." sahutku.


"Lebih baik kamu tidur, jangan sampai kamu sakit nanti."


Aku mencoba mendayung, akan tetapi perahu malah oleng.


"Awas, pelan-pelan!" Briyan terkejut melihat perahu yang oleng dayungan ku.


"Bukannya cara nya sudah benar? kenapa perahunya malah oleng?"


"Karena kamu terlalu menggunakan kekuatan, mendayung itu juga harus pakai perasaan. Lihat lah, perhatikan...!"


Briyan mempraktikkan di depanku cara mendayung.


"Aku akan mencobanya." Ucapku kembali mendayung. Kali ini aku mencoba dengan perasaan dan perlahan.

__ADS_1


Akan tetapi perahu kembali oleng.


"Kamu nggak berbakat, lebih baik kamu tidur...." Ucap Briyan menarik nafas panjang.


Tapi aku tidak mau disepelekan, jadi aku kembali mengayuh.


Kiri


Kanan


Kiri


Kanan


Kiri


Kanan


Aku bisa mendayung, akan tetapi perahu ikut oleng bergantian kanan kiri dan kiri kanan. Aku menjadi frustasi.


Bahkan si istri pemilik perahu terbangun sebanyak dari tidurnya karena merasakan pergerakan perahu yang aneh.


Aku menjadi cemberut. Akan tetapi aku tidak putus asa, aku terus mencobanya.Briyan kembali menghela nafas panjang melihat wajah cemberut ku.


"Briyan...."


"Apa?"


"Sejak aku melihatmu di bawa para penjahat itu, aku terus menghubungi ibu mu. Aku berusaha mengirimkan kabar pada nya. Tapi, kenapa sampai sekarang bantuan nggak datang?"


Briyan terdiam mendengarnya.


"Itu nggak mudah Wi."


"Nggak mudah? kenapa?"


"Biar aku ceritakan semuanya terlebih dulu."


"Ada apa??"


Briyan menarik nafas panjang.


"Aku bukan anak tunggal, dulu aku punya adik perempuan. Akan tetapi dia di culik oleh komplotan mereka, dia tidak di siksa seperti aku. Mereka cuma meminta asset mereka di kembalikan. Sama seperti kasus ku."

__ADS_1


"Apa kalian sudah mengambil asset mereka?"


"Mereka bukan orang lain, mereka adalah saudara tiri mamah, si bos mafia itu."


"Jadi apa yang terjadi sama adik mu?"


Briyan tak dapat menahan kesedihannya.


"Adikku sangat depresi setelah di culik kemudian sakit dan meninggal dunia."


Aku terkejut dan ikut sedih mendengarnya, tidak ku sangka akan mendengar semuanya dari Briyan.


"Jadi, ibu mu melaporkan kejadian tersebut ke polisi?"


"Tentu saja, akan tetapi ada oknum polisi yang membantu Kenan, nama saudara mamah si bos mafia itu."


"Jadi mereka menghilangkan bukti-bukti?"


"Ya, mereka menghilangkan bukti. Apalagi adikku meninggal di rumah sakit dengan hasil visum menunjukkan tidak ada tanda kekerasan. Jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak kehilangan adikku, kesehatan ayah juga semakin memburuk. Ayah seringkali masuk rumah sakit karena sakit ini dan itu. Aku dan mamah menjadi cukup frustasi dibuatnya."


Aku menghela nafas mendengar semuanya.


"Jadi, asset apa yang mereka maksud? ma'af aku terlalu ingin tahu. Tenang saja, aku akan menyimpan rahasia ini."


"Asset yang mereka ingin adalah sebuah dermaga di perbatasan kota. Karena itu adalah warisan yang seharusnya menjadi miliknya. Tetapi, karena perseteruannya dengan kakek dan nenek dia jadi kehilangan hak nya."


Aku semakin terdiam mendengar semuanya, jadi semua ini hanya tentang uang? nyali ku menjadi semakin ciut. aku merasa semakin harus menjauh dari Briyan dan mereka semua.


"Jadi, kalau aku nggak menyelamatkanmu pun sebenarnya nggak masalah? karena mereka nggak mungkin menyakitimu berlebihan kan??"


"Seperti nya juga tidak, tapi aku nggak akan mau di siksa secara gratis. Bisa-bisa aku juga trauma."


"Jadi, apa yang akan terjadi kalau aku nggak datang menyelamatkan mu?"


"Jawabannya sudah pasti, mamah dan ayah juga punya orang-orang bayaran. Diantara


orang-orang Kenan menjadi agen ganda mamah dan ayah, jadi aku nggak perlu cemas tentang keselamatanku. Hanya saja mamah dan ayah selalu memikirkan segalanya dengan matang dan mencari bukti yang kuat untuk bisa menjatuhkan Kenan."


"Oh, begitu. Syukurlah... tapi, siapa orang yang berusaha menenggelamkan kamu??"


"Itu juga yang menjadi pertanyaan ku sejak tadi, siapa dia sampai mencoba membunuhku? atau kah hanya menakut-nakuti ku saja."


Aku dan Briyan terdiam setelah perbincangan kami. Kami hanya bisa berharap segera pulang. Akan tetapi perjalan kami masih sangat panjang.

__ADS_1


__ADS_2