
Hari ini adalah hari ketiga aku membuka toko, seberkas cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui pintu depan. Sederetan orang berlalu lalang di di depan toko. Bagaimana tidak, di dekat sini adalah pasar tradisional yang sangat besar.
Aku bahkan baru mengetahuinya ketika mencoba berjalan-jalan di sekitar toko ini. Beberapa hari yang lalu pasar tradisional ini memang di tutup sebagian untuk sementara karena ada penataan ulang dan sedikit perbaikan jalan.
Aroma campur aduk di sana mulai bertebaran. Pengunjung pasar mulai membludak dan semakin banyak orang yang berlalu lalang di depan toko roti milikku.
Dengan cepat aku membuka pintu toko dan menggantung tulisan buka/open. Aku khawatir hari ini ada banyak pembeli sedangkan aku masih belum menyiapkan adonan sama sekali.
Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.00.
Aku segera membuat adonan dan memanaskan pemanggang. Dengan cepat dan gesit aku bergulat dengan waktu. Ku uleni beberapa potongan adonan dan segera memasukkannya ke pemanggang.
Tepat setengah jam kemudian, dua orang pembeli datang.
"Permisi, apakah tokonya tutup?" seorang ibu paruh baya masuk ke dalam toko melihat etalase yang masih kosong melompong.
"Ma'af Bu, silahkan tunggu 5 menit lagi rotinya baru matang. Silakan duduk dulu." Aku mempersilakan nya duduk di kursi tunggu.
"Oh, baru saja di panggang? baguslah, roti memang enaknya di makan selagi masih hangat." Ucap perempuan tersebut, ia bersama dengan anak perempuannya yang sudah remaja.
Anak remaja perempuan itu nampak menengok ke kanan dan ke kiri seakan mencari sesuatu.
"Ma'af kak, apa di sini menyediakan Wi-Fi?" tanya anak perempuan itu.
Aku tersenyum padanya. "Ma'af ya, untuk WiFi belum tersedia. Mungkin beberapa hari lagi baru akan di pasang."
Sebenarnya aku sama sekali tidak menginginkan untuk memasang WiFi di sini, karena jujur saja aku jarang bermain ponsel apalagi sosial media. Tentunya hanya orang-orang yang senang bermain ponsel yang menginginkan WiFi.
"Oh, begitu." Si anak perempuan kembali duduk tenang.
Si ibu berdiri dan menanyakan tentang roti dan isian nya. Ia memilih beberapa roti sambil sedikit bercerita tentang pasar ini.
Sepuluh menit kemudian ibu dan anak perempuan itu pergi keluar setelah membayar. Sementara aku melanjutkan memanggang roti yang baru, hari ini aku bersemangat sekali. Rasanya seperti aku harus melangkahi waktu dalam sekejap.
Satu jam kemudian, seorang pembeli laki-laki paruh baya datang. Ia membeli puluhan roti, 4 paper bag full.
"Terima kasih." Ucapku padanya. Ia mengangguk perlahan.
Gaya jalannya yang gagah dapat kulihat dari belakang, meskipun wajahnya nampak agak tua tetapi ia terlihat kekar dengan celana cargo dan atasan kaos berkerah berwarna hitam polos.
Masih pukul 09.00
Aku berharap akan datang beberapa pembeli lagi. Aku melanjutkan pekerjaanku, hari ini aku ingin memenuhi etalase ku secara berkala, semoga saja laki-laki tadi itu bukan pelanggan terakhirku.
Aku memanggang perlahan, sebelum semua roti ini menjadi dingin. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam dengan cepat.
Sena?
Ia masuk tanpa permisi dan memeriksa seluruh toko, ia seperti preman yang sedang mendekati mangsa.
"Apa ini? wah wah wah... ternyata sekarang kamu sudah benar-benar menjadi wanita karir yang sukses!"
__ADS_1
Plok!
Plok!
Plok!
Plok!
Plok!
Ia bertepuk tangan dengan lantang.
"Hebaat hebaattt sekali kakak!" Ia tersenyum sinis, duduk di kursi plastik tempat duduk ku di samping pemanggang.
Ia duduk menyilang kan kakinya. Merogoh sakunya dan menyalakan sebatang rokok.
Set!
Aku merebut rokoknya dan menginjaknya sampai padam.
Srek!
Srek!
Aku menginjak sampai rokok itu hancur tak berbentuk.
"Asap rokok mu akan membuat pencemaran udara di ruangan ini." Aku menatap Sena tajam sambil membuka pemanggang untuk mengeluarkan roti.
"Sepertinya hidupmu yang sudah seperti ratu ini membuat kamu lupa darimana kamu berasal." Sena mengatakan itu dengan nada tajam.
"Aku bukan ratu, kalau aku ratu kenapa aku harus bekerja keras untuk mendapatkan uang? dan aku nggak akan lupa darimana aku berasal. Mungkin kamu lah yang lupa darimana kamu berasal? karena kalau kamu nggak lupa, kamu nggak akan tega menjual rumah mu sendiri tempat mu tinggal bernaung dari panas dan hujan. Tempat tidur ayah dan ibumu dan juga saudarimu."
Aku mengatakan itu dengan tenang sambil memasukkan roti ke dalam etalase. Aku yakin perkataan itu membuatnya sedikit mual pagi ini.
Tak ada balasan apapun dari perkataan ku tersebut, nampaknya memang sangat mengena. Seorang perempuan yang sudah berumur tetapi tidak berakal, ingin rasanya aku masukkan kepalanya ke dalam oven yang membara ini.
Seorang pembeli datang, ia membeli beberapa roti. Nampak nya ia memperhatikan Sena yang duduk seperti preman, gadis cantik namun tidak punya akhlak. Ia melemparkan wajah tidak senang kepada pembeli yang datang.
Akan tetapi aku menyapunya dengan sambutan ramah pada pembeli itu. Kemudian pembeli itu pergi dengan cepat.
Aku kembali memasukkan adonan ke dalam pemanggang. Dari pukul 8 tadi pagi aku belum juga duduk dan minum air putih. Bisa-bisa aku dehidrasi berat kalau terus begini. Tukas ku dalam hati.
Aku mengambil air putih dari dispenser. Tak ku hiraukan keberadaan Sena di sana, aku hanya menganggapnya perempuan yang tidak waras sedang berkunjung kemari.
"Kamu nggak pantas mendapatkan kemewahan ini," ucapnya mengeluarkan roti dari dalam etalase. Aku berpikir mungkin ia akan memakannya, tapi...
Pluk!
Pluk!
Lagi dan lagi....
__ADS_1
Pluk!
Ia melemparkan satu persatu roti ke lantai. Dan itu cukup membuat darah naik ke kepalaku.
Tap!
Set!
Aku memegang tangannya kuat dan memelintirnya ke samping.
"Krek!!"
Suara tulang tangan Sena yang ku pelintir dengan keras.
"Aaaaarrggghhhh!" Sena menjerit kesakitan.
Aku memberikan pukulan di lambungnya dan memberikan gerakan kunci agar dia tidak bisa bergerak, dan...
Bruggh!!
Sena terjatuh keras ke lantai.
Bagh!!
Satu tendangan lagi di kepalanya ku luncurkan untuk membuat jalan otaknya segera lancar.
Sena tidak berdaya, aku yakin sekarang ini dia ingin menangis. Tetapi aku salah, dia segera berdiri dan menghunuskan pisau belati padaku.
Set!
Set!
Set!
Dengan sigap aku menghindar.
Akan tetapi Sena mendorong etalase di depannya sampai terjatuh dan pecah. Pecahan kaca kini ada di mana-mana, kehancuran pun tak terhindarkan.
Sena terus menghunuskan pisau belati padaku.
"Kamu lah, yang sudah menghancurkan hidupku! Kamu akan merasakan akibatnya!" Sena terus menyerang kearahku.
Beberapa detik berlalu, aku mengambil kesempatan untuk menendang tangannya yang memegang pisau belati.
Pak!!
Ptang! pting! pting! pting!
Pisau belati terbang dan jatuh tepat di bawah oven. Aku meluncurkan tinju dan beberapa pukulan ke Sena hingga ia tak sadarkan diri.
Aku berlari ke pintu untuk membalik tulisan buka/open menjadi tutup/close. Kemudian kembali ke dalam untuk membereskan semuanya.
__ADS_1