Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 42


__ADS_3

Hari ini keluargaku pulang, tak ada air mata ataupun pelukan perpisahan. Ya, memang begitulah kami tak pernah berubah.


Ayah, ibu, Sena dan Melati sibuk menyiapkan barang-barang bawaan mereka. Barang bawaan mereka menjadi 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan awal kedatangan mereka.


"Astaga... tas ini nggak muat!" keluh ibu yang tak berhasil menutup resleting tas nya.


"Kenapa bisa nggak muat? padahal waktu berangkat kan masih longgar saja tas ini?" sahut ayah yang berdiri disamping ibu.


"Itu semua karena kamu yah, kamu membeli pakaian dan celana panjang beberapa lembar. Makanya tas ini sudah nggak muat?!"


"Kenapa ibu menyalahkan ayah? kalian semua kan juga membeli pakaian??! Apalagi Sena dan Melati. Pakaian yang mereka beli sampai berjumlah belasan lembar!"


"Ibu nggak mau tahu, ibu nggak mau membawa 2 tas besar ini. Tas ini tugas ayah yang bawa!"


"Iya, letakkan saja tas nya di sana!"


Kepalaku menjadi pusing mendengar pertengkaran kecil mereka. Tak berapa lama Sena dan Melati juga muncul dengan keluhan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ibu.... aku lupa membeli suncreen buat wajahku, bagaimana ini.... ayo kita ke mall dulu Bu...." Sena merengek.


Melati mendekati ibu dan ikut merengek. "Aku belum beli sepatu yang aku mau Bu.... kita pulang besok saja, ayolah bu....." Melati hampir menangis dengan permintaan konyolnya itu.


Ibu hanya bisa menarik nafas panjang. "Kalian berdua ini benar-benar merepotkan! kita sudah hampir terlambat, nanti kita ketinggalan bis! ayo cepat siap-siap!


"Ibu... aku belum sempat makan di chines food terkenal itu, kemarin ibu menolak ku ajak kesana. Kita mampir ke sana dulu Bu.... ayolah Bu!" Sena terus saja merengek.


Rengekan mereka berdua seperti anak balita yang kekeh meminta sesuatu. Membuat telingaku berdenging mendengarnya.


"Kalian berdua terlalu banyak permintaan, memangnya kalian punya uang mau beli ini dan itu??!" Aku hampir kehabisan kesabaran ku.


"Kalian tahu ini sudah jam berapa?? 15 menit lagi bis tiba di stasiun, dan kalian masih sibuk membuang waktu yang tidak berguna??!" Aku menunjuk ke arah jam tanganku. Meskipun mereka tak melihatnya, aku ingin mereka segera bergegas menuju stasiun sekarang juga.


Semuanya sekarang sudah siap, untung saja jarak dari rumah ini ke stasiun sangat dekat. Kami hanya perlu membayar taksi dan durasi 10 menit kami sudah sampai di stasiun.


Ayah, ibu, Sena dan Melati bergegas naik ke bis dan mencari tempat duduk mereka masing-masing.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan... jaga diri kalian!" Teriak Briyan melambaikan tangannya.


Sena dan Melati melambaikan tangan dengan senang dan antusias.


"Dadaaahhh kak Briyaann.... sampai ketemu lagi...!!" teriak Melati.


Ayah dan ibu juga nampak melambaikan tangan. Aku hanya membalas lambaian dengan santai. Tak berapa lama bis pun melaju perlahan dan lebih cepat lagi.


"Fuuuhh.... akhirnya mereka pulang juga." Aku menghembuskan nafas kasar.


Briyan menoleh ke arahku. "Kamu memang aneh, baru kali ini ada anak perempuan yang senang ditinggal pergi ayah dan ibunya."


Aku hanya terdiam mendengarnya, terkadang aku juga berpikir aku kelewatan. Aku berharap kebiasaan buruk mereka sedikit demi sedikit bisa berkurang.


Sebenarnya, aku juga merindukan mereka saat mereka jauh. Akan tetapi, mengingat apa yang selama ini mereka lakukan terhadapku, dan pekerjaan mereka yang membuatku muak aku tak dapat menahan amarahku pada mereka.


"Ayo kita kembali ke rumah." Ajak Briyan.

__ADS_1


"Ya!"


Kami berdua akhirnya bisa tenang, aku merebahkan diri di ruang tengah. Rumah ini sepi sekali tanpa keluargaku. Kemarin rumah ini begitu ramai.


__ADS_2