Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 25


__ADS_3

Tak ada apapun di dalam lemari usang itu, hanya beberapa helai kain lebar. Dengan masih mengendap aku hanya bersembunyi diujung lorong agak gelap tersebut. Sepertinya ini persembunyian yang aman untukku.


Beberapa pekerja melintas di hadapanku tanpa mengetahui keberadaan ku. Salah seorang dari mereka meletakkan sebuah bungkusan di atas kursi, apakah itu nasi? sepertinya itu nasi. Dan jumlahnya lumyan banyak. Kalau aku mengambil 1-2 bungkus tak akan ada yang mengetahuinya.


Setelah mereka semua terlihat sepi, dengan cepat aku mengambil 3 bungkus nasi di hadapanku.


Hap


Hap


Hap


Dapat!


Aku kembali bersembunyi layaknya maling. Sejak kapan aku berbakat mencuri?


Aku kembali ke tempat persembunyian ku. Perutku terasa lapar sekali, tapi bagaimana aku makan ini tanpa air minum? sial sekali.


Aku hanya bisa menunggu para pekerja melintas dan membawa air. Tapi apakah mereka akan membawakan ku air? sementara hati akan semakin sore. Bagaimana kalau aku terkunci di sini? aku takut mereka akan mengunci ruangan dan mematikan lampu. Bagaimana ini?


Aku berinisiatif mengambil kain di dalam lemari dan melanjutkan mencari Briyan. Aku terus berusaha berjalan. Ketika itu, aku menemukan sebuah pintu. Aku membukanya perlahan, ternyata tempat itu adalah gudang.


Tak ada sesuatu yang dapat ku pungut di sana, hanya kumpulan barang-barang bekas. Aku kembali mengintip ke luar, tetapi di sana para karyawan sedang ramai sekali. Mereka mengambil satu per satu nasi di dalam kantong plastik.


"Mana jatah makan siang ku?" iya nampak mencari nasi di dalam kantong plastik tapi tidak menemukannya.


Ia memanggil seseorang yang bernama Sam dan menanyakan kepada Sam kenapa nasi nya bisa kurang. Sam menjawab bahwa dia memesan dengan jumlah 25, kemudian ia lebihkan 2 bungkus.

__ADS_1


Aku menjadi tegang, seharusnya tadi aku hanya mengambil 2 bungkus saja. Aku sudah membuat masalah.


Orang yang belum makan tersebut memerintahkan Sam untuk kembali membeli nasi. Dengan wajah penuh heran Sam menuju ke luar untuk membeli nasi lagi.


"Makan siang terlambat, nggak kebagian pula!" umpat orang tersebut.


"Sabar dulu, duduk saja dulu. Ini ada beberapa minuman energi bisa untuk menahan lapar." Ucap seorang di sampingnya menyuguhkan botol minuman suplemen.


Dengan cepat ia mengambil minuman suplemen dan meminumnya, kemudian dia berbaring di antara teman-temannya yang sedang makan.


Aku memastikan tak ada orang lain lagi selain mereka, jadi aku berusaha berjalan terus ke depan. Aku memasuki sebuah ruangan besar, di sini terdapat alat-alat berat. Kulihat ada sebuah tas kain jinjing. Aku mengambilnya, kulihat di dalamnya ada hanya ada sampah dan kantong plastik usang, aku membuangnya dan memasukkan kain yang ku bawa beserta nasi ke dalamnya.


Aku terus melewati ruangan demi ruangan yang berbeda. Hingga aku tiba di sebuah ruangan yang terkunci rapat. Bisa ku dengar suara sangat berisik di sebelah. Aku berharap bisa menemukan Briyan, bagaimanpun cara nya aku harus menemukan Briyan.


Aku berusaha mencari cara dan celah untuk bisa menuju ruang sebelah. Di sana ada sebuah tangga kecil di ujung ruangan hampir tak terlihat. Aku memberanikan diri menuju tangga dan menaikinya. Akan tetapi aku mendengar suara langkah kaki dari atas. Dengan segera aku kembali turun dan bersembunyi di bawah tangga.


Kulihat orang tersebut turun dari atas, ia mengenakan pakaian yang rapi dan sangat berbeda dengan para pekerja pabrik. Sepertinya dia komplotan penculik Briyan.


Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu, secepat kilat aku mengambil senter dan menaiki tangga. Untung saja di sana tak ada siapapun. Aku menemukan tumpukan karung besar, aku tak berani menyentuhnya karena baunya saja sudah sangat tidak sedap. Jadi aku terus melewatinya.


Aku berada di puncak gedung sekarang, aku bingung apakah harus turun atau ke puncak gedung. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari puncak gedung. Aku mencoba mengintip, dan sesuatu yang membuatku merinding terjadi.


Aku melihat Briyan di rendam dalam sebuah kolam. Kaki dan tangannya di ikat. Sementara air sudah berada sampai di dagu nya. Pemandangan itu membuatku tak bergerak sedikitpun, lutut ku gemetar dan kepala ku pusing. Aku merasa akan pingsan.


"Kalau orang tuamu tak menyerahkan aset nya, nyawamu jadi bayarannya." Ucap salah seorang dari mereka.


Penampilannya yang sangat menyeramkan, bahkan di pinggangnya ada sebuah pistol. Dia memakai topi seperti koboi, dia sudah tua dan tubuhnya gemuk. Penampilannya sungguh membuatku merinding. Jangan-jangan dia adalah bos mafia!

__ADS_1


Aku sangat gugup, detak jantungku tak beraturan. Dapat kulihat dari kejauhan Briyan penuh memar habis di hajar, dia sangat lemah tak berdaya.


Dengan gemetar aku mengambil ponselku dan mengirimkan video situasi di sana kepada bu presdir. Sebuah keajaiban terjadi, sinyal ponselku kembali meskipun sangat lemah. Mungkin karena aku berada di atas gedung.


Syukurlah!


Aku menitikkan air mata, entah itu air mata syukur, ketakutan atau apa.


Aku terus mengirim pesan kepada bu presdir untuk bergerak cepat. Meskipun sangat lelet, tapi semua pesan ku berhasil terkirim.


"Kirim video nya!" ucap si bos mafia meninggalkan Briyan.


Apa mereka gila? kalau mereka mengirimkan video, pasti lokasi mereka akan segera ketahuan. Aku tak habis pikir.


Sementara itu air semakin bertambah naik sampai hampir ke mulut Briyan. Para bawahan bos mafia itu merekam Briyan sekitar 3 menit. Setelah itu mereka mematikan air dan meninggalkan Briyan.


Aku merinding melihat itu, setelah mereka pergi barulah aku bisa bernafas sedikit lega. Aku mengikuti kemana para bawahan mafia itu. Aku terus membuntutinya. Kali ini aku tiba di sebuah ruangan, nampaknya ruangan itu adalah markas mereka. Di sana terdapat pakaian dan bekas makanan dan minuman.


Dengan segera aku mengambil pakaian dan minuman. Ku lihat mereka semua pergi, akan tetapi para penjaga gerbang masih di sana.


Aku berlari dengan cepat menuju atap gedung untuk menyelamatkan Briyan. Dan satu pemandangan yang mengejutkan ku lihat di sana. Seseorang sedang berusaha menenggelamkan Briyan.


Kaki ku gemetar melihatnya, aku mencari benda di sampingku untuk memukulnya dan aku melihat sebuah kayu. Aku berlari menuju orang yang menenggelamkan Briyan dan memukulnya tepat di kepalanya.


Laki-laki itu masih sadar, aku kembali memukulnya dengan kuat, menendang dan menendang kepalanya hingga ia pingsan.


Briyan terbatuk karena sempat menghirup air, ia terus batuk dan matanya merah. Sedangkan aku terduduk terkulai lemas di depan kolam na'as Briyan.

__ADS_1


Aku dan Briyan saling berpandangan. Aku berusaha bangkit dan melawan ketakutan ku, aku melepaskan semua tali pengikatnya. Aku mendapatkan pisau dari orang yang aku pukul tadi.


Setelah Berhasil melepaskan Briyan aku langsung memeluknya dengan perasaan takut. Aku sangat takut hingga aku menangis. Akan tetapi Briyan melepaskan pelukanku dan menarik ku untuk bersembunyi. Sementara hari mulai senja dan gelap.


__ADS_2