Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 60


__ADS_3

Akhirnya toko roti ku telah buka sempurna. Akan tetapi hari ini aku tak banyak membuat roti, karena baru hari pertama jadi masih belum ada pembeli.


Sangat membosankan di sini sendirian. Aku berjalan-jalan mengelilingi toko untuk sekedar mengepel meja dengan kain lap atau memastikan pemanggang telah padam.


Karena merasa bosan, aku menelpon ayah dan ibuku.


["Bagaimana keadaan ayah Bu?"]


["Baik, kami di sini semua baik. Semua berkat kamu dan Briyan. Sampaikan terima kasih ibu pada Briyan."]


["Ya, Bu."]


["Dan terima kasih juga sudah berusaha membantu mengembalikan surat-surat rumah yang di sita rentenir. Berkat kalian berdua, sekarang ibu sudah lebih tenang. Kalau saja nggak ada kalian, ibu, ayah dan Melati sudah jadi gelandangan sekarang."]


["Ya Bu, itu bukan masalah."]


["Tapi, sayang sekali sekarang ini ibu kehilangan mata pencaharian. ibu sudah tidak diperbolehkan lagi berdagang di area biasa ibu berjualan. Karena sekarang tempat itu akan dilakukan pembangunan. Ibu menjadi frustasi, harus bekerja apalagi ibu mu ini. Sementara ayahmu juga sudah lama menjadi pengangguran."]


Ibu bercerita panjang lebar di telpon. Lambat lain aku merasa kasihan padanya. Seakan aku bisa mengerti rasanya menjadi seorang ibu. Kalau aku di posisinya, kira-kira apa yang akan aku lakukan?


Entahlah, sekarang pun aku juga sedang berjuang dengan usaha ku sendiri. Mungkin setelah usahaku bersemi, aku bisa kembali membantu mereka. Dan entah sejak kapan aku perduli tentang mereka. Terkadang, aku merasa kasihan.


["Carilah pekerjaan sebisa mu Bu, karena untuk sekarang aku belum bisa membantumu lagi. Carilah pekerjaan yang tak terlalu berat, dan yang pasti bukan pekerjaan malam."]


["Iya, iya sayang. Ibu akan terus berusaha."]


Beberapa saat kemudian, aku mengakhiri panggilan telpon. Tiba-tiba seorang pembeli datang. Ia nampak melihat-lihat roti dan memperhatikan setiap harganya.

__ADS_1


"Tolong bungkus kan beberapa roti ini!" pinta lelaki paruh baya yang baru saja masuk.


Aku memilih membungkus beberapa roti untuknya, dan dia memberikan uang pertamanya.


Hatiku benar-benar berbunga menyaksikan ini. Meskipun hanya 1 pembeli, aku berharap dia akan kembali lagi besok, lusa atau Minggu depan. Sebenarnya bulan depan pun tak apa.


Hingg tengah hari, belum lagi ada pembeli yang masuk ke toko. Aku kembali merasa bosan terus menunggu.


"Sayang, apa kamu sudah makan?" Briyan tiba-tiba datang.


Aku terkejut dengan kedatangannya.


"Bukannya hari ini kamu ada pertemuan penting? kenapa tiba-tiba ke sini?"


"Aku cuma mau makan siang bersama istriku," ucapnya meletakkan makanan yang ia bawa.


Aku bersemangat melihat makanan yang dibawa oleh Briyan.


"Bukan, kamu salah."


Aku membuka bungkusannya dan terkejut melihat isinya. Ternyata masakan sea food yang di masak dari rumah. Briyan sengaja pulang dan mengambil makanan sea food di dapur lalu dia bawa ke mari.


"Kenapa repot-repot pulang?" tanya ku sambil membuka setiap wadah yang tertutup rapat. Di dalam wadah itu ada juga sambel dan sayuran rebus.


"Ada beberapa berkas yang ketinggalan, jadi sekalian saja aku minta bungkusan ini pada ART untuk kit makan."


"Kasian mereka, pasti mereka kebingungan lagi memikirkan masakan apa yang akan mereka buat karena kamu sudah membawanya sebanyak ini."

__ADS_1


"Aku sudah meminta mereka memasak nasi goreng spesial malam ini."


Aku heran mendengarnya. "Nasi goreng? memangnya orang rumah suka nasi goreng??"


"Iya, kami semua kadang-kadang suka sekali makan nasi goreng, masakan biasa yang bisa dipoles menjadi masakan mewah. Tergantung topping nya. Kalau aku lebih suka makan nasi goreng bersama acar, sawi rebus, ayam suwir atau Kentucky juga boleh. Dan yang yang pasti minumannya adalah es jeruk."


Kami berdua makan siang bersama. Briyan selalu datang tiba-tiba dan membawa kejutan untukku. Aku sangat tersanjung dibuatnya.


"Sayaang... bagaimana hari ini, apa sudah dapat pembeli?" tanya Briyan.


"Baru dapat satu orang, itu membuatku lesu." sahutku tidak bersemangat.


"Kenapa lesu sekali, ini baru hari pertama wajar saja. Aku yakin. esok pembelinya bertambah."


"Iya, semoga saja."


Briyan sudah selesai makan dan mencuci tangan ke kamar mandi, ia juga masuk ke kamar untuk beristirahat.


"Sayang, aku mau tidur sebentar. Bangunkan aku setengah jam lagi." Ucap Briyan bersiap menutup matanya.


"Sayang, kamu baru saja selesai makan... jangan langsung tidur." Aku berteriak kecil dari luar.


"Hhmm!" dia hanya membalas ku singkat.


Sejak Briyan tidur, ada satu lagi pembeli yang datang. Aku berharap dia bukan yang terkahir.


"Terima kasih," ucapku memberikan bungkusan dan kembalian pada pembeli.

__ADS_1


Si pembeli lalu pergi, itu cukup menjadi mood booster ku di siang yang panas ini. Aku membersihkan lantai dengan kain pel, dari kejauhan kulihat roti-roti itu masih terhampar luas di etalase. Ku harap ada 2 atau 3 lagi lagi pembeli yang datang.


Aku khawatir jika roti-roti ini masih utuh hingga menjelang malam, mau tidak mau aku harus membawanya pulang atau membagikannya.


__ADS_2