Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 34


__ADS_3

Aku memasak makan malam, makan sup hangat pasti akan sangat enak rasanya. Karena Merry tak tahan menggunakan MSG, aku menggunakan kaldu jamur dan kaldu sapi sebagai penyedap rasa.


"Merry, kamu cobain dulu rasanya." Aku menyodorkan kuah di dalam sendok.


Merry menyeruput kuahnya.


Srruupp!


"Hmmm.... enak sekali, apalagi kalau di makan masih hangat-hangat begini." Ucap Merry mengacungkan jempol.


"Ayo kita makan sekarang!" Ajak ku.


"Sebentar, aku akan bikin teh es untuk kita berdua." Ucapnya membuka kulkas.


Merry memecahkan es batu dan membuat teh es. Sementara aku menyusun makan di atas meja. Menu makan kami malam ini adalah sup daging sapi, dengan tambahan jamur. Juga ada sambal yang Merry buat sendiri dengan resepnya.


Juga ada kerupuk ikan yang dikirimkan orang tua Merry dari kampung. Rasanya sangat enak luar biasa, menurutku. Dari semua jenis kerupuk yang pernah aku makan, ini yang paling enak.


Kami makan dengan lahap, sesekali kami berdua megap-megap karena kepedasan. Makan malam ini sungguh nikmat. Aku ingat 3 hari yang lalu aku kelaparan sepanjang malam bersama dengan Briyan. Apa yang sedang Briyan lakukan malam ini? apa dia akan kemari?


Kenapa aku jadi memikirkannya?? hah! si Briyan ini memang penyebab masalah dalam hidupku.


Malam ini sepi sekali dan juga gerah, aku keluar untuk menghilangkan rasa gerah, Merry juga mengikuti ku.


"Wi... biasanya pak Briyan sudah datang jam segini, kenapa dia nggak muncul ya?" Ucap Merry duduk di samping ku. Kaki kami berdua menjuntai ke bawah.


"Entahlah Merr, aku juga nggak mau melihatnya." Ucapku santaisambil menyandarkan punggungku ke tiang.


"Kamu memang seperti itu Wi... rupanya kamu masih nggak bisa melihat isi hati pak Briyan."


"Aku nggak bodoh Merry... aku bisa melihat jelas perasaan itu." Ucapku menghembuskan nafas kasar.


"Jadi, kamu tetap nggak bisa menerima perasaan pak Briyan??"

__ADS_1


"Nggak ada yang perlu diterima Mer, semakin aku jatuh ke dalam perasaan itu aku cuma akan semakin tenggelam. Apa yang dulu pernah di katakan pak Briyan benar."


Merry menoleh dan menatapku tajam. "Memangnya apa yang pernah pak Briyan katakan?"


"Dia pernah bilang dia nggak butuh cinta, karena itulah dia ingin menikah kontrak denganku. Aku juga menyetujuinya, tapi sayang.... sekarang kami sama-sama terjebak dalam perasaan itu. Aku juga jatuh cinta padanya."


Kami berdua terdiam, suasana menjadi hening. Inilah yang tak kuinginkan, seseorang akan mengetahui apa yang aku rasakan. Akan tetapi aku tak tahan memendamnya sendirian. Aku ingin ada satu orang yang tahu, bahwa aku sebenarnya mencintai Briyan.


Cuaca berubah drastis, hawa dingin mulai mengalir. Sepertinya hujan akan turun.


"Aku paham sekali watak mu Wi, kamu hanya minder dengan status kamu yang bukan siapa-siapa dibandingkan pak Briyan. Sedangkan pak Briyan hanya menginginkan perempuan yang benar-benar tulus mencintai dia. Akan tetapi berbanding terbalik dengan keinginan bapak dan bu presdir."


Aku semakin terdiam mendengarkan ucapan Merry, dia memahami segalanya akan tetapi aku menepis segalanya.


"Posisi ku terlalu sulit Merry, cepat atau lambat aku pasti akan mundur. Sekarang, atau dua tahun lagi. Akan lebih baik kalau aku membunuh perasaanku sejak awal."


"Itu kejam sekali Wi..." Merry menunduk saja mengatakan itu. "Kamu juga seorang perempuan, kamu berhak bahagia dan kamu nggak perlu membunuh perasaan kamu. Kamu cuma perlu berjuang bersama pak Briyan. Aku selalu melihat kamu selalu mengejar karir dan uang."


"Ya Merry... kamu benar."


"Iya, aku jadi tegang."


Kami berdua tertawa bersama.


"Jadi, apa kamu pernah menjalin cinta sebelumnya?" Merry bertanya dengan penasaran.


"Aku... emm, aku punya kebiasaan buruk." Aku mengatakannya dengan khawatir.


"Apa itu?"


"Setiap laki-laki yang dekat denganku, aku pasti selalu meremehkan mereka. Aku selalu merasa lebih baik dari mereka dalam hal bekerja. Karena laki-laki yang mendekatiku memiliki pekerjaan yang nggak pasti. Aku menyesal sudah meremehkan mereka, padahal mereka laki-laki yang baik seperti Briyan... semua itu karena keegoisanku."


"Jadi, kamu menghina mereka??"

__ADS_1


"Ng—nggak, bukan menghina secara langsung begitu... maksudnya cuma dalam hati saja, tapi itu juga sangat buruk kan??"


"Jadi kamu nggak punya pengalaman manis dengan laki-laki lain??"


"Sama sekali nggak pernah.... itu menyedihkan bukan??"


Merry mengangguk, aku jadi menghembuskan nafas kasar karenanya. Malam ini Merry benar-benar memerasku.


"Jadi, bagaiman dengan kamu Merry...?" Aku bertanya balik padanya.


"A—aku...??


"Kenapa kamu gugup begitu?"


"Ng—nggak, aku... sebenarnya aku juga mau curhat sama kamu."


"Cerita saja... siapa dia??" tanyaku penasaran.


"Aku malu, tapi... dia memintaku untuk menikah segera."


"Apa??!"


Aku menatap Merry tajam tak percaya, aku menatapnya benar-benar tak percaya.


"Siapa dia?? ayo cepat katakan Merry..."


"I—itu, masih rahasia Wi... kami berjanji untuk merahasiakannya." ucapnya dengan gugup.


"Emmmm, kamu jadi bikin aku penasaran saja Merry." Ucapku kesal padanya. "Aku nggak menyangka kamu akan menikah segera Mer... aku selalu tertinggal dari teman-teman ku kalau masalah percintaan."


"Aku yakin, suatu saat kamu akan bersama dengan pak Briyan... kamu cuma perlu yakin dengan pak Briyan, dan yakin sama hati kamu."


"Iya Merry... tapi sebenarnya aku nggak terlalu berharap, menurutku itu lebih baik." Aku melemparkan senyuman padanya.

__ADS_1


Kami berdua masuk ke dalam kamar karena cuaca semakin gemuruh pertanda hujan akan segera turun. Aku dan Merry masuk ke kamar kami masing-masing.


__ADS_2