
Hari ini aku sengaja berjalan-jalan mengelilingi mall untuk sekedar mencari inspirasi. Beberapa produk kecantikan membuatku tertarik untuk membuka usaha di bidang ini, akan tetapi semua itu kutepis dengan logika. Sekarang ini ada banyak produk kecantikan yang di jual bebas secara online dan harganya lebih bersaing, aku tidak akan mampu bersaing dengan mereka menggunakan toko offline ku.
Aku kembali berjalan-jalan melihat perlengkapan bayi, ini pasti lebih menarik untuk kembangkan. Akan tetapi, lagi-lagi aku memikirkan nya dengan banyak pertimbangan.
Untuk menjual perlengkapan dapur juga tidak mudah, sekarang minimarket sudah tersebar di seluruh kota dengan berbagai diskon yang menarik pembeli. Aku jadi sangat bimbang harus bagaimana.
Akan tetapi aku tidak mudah menyerah, aku harus terus memikirkan dan mencari inspirasi hingga tiba saat pulang. Briyan menungguku di belakang pintu masuk mall.
Aku harus membiarkan Sela, Dian dan teman-teman ku yang lain berlalu barulah aku keluar. Aku yakin Briyan sudah menungguku terlalu lama.
"Sayang, kamu lama sekali." Briyan nampak kusut dan penampilannya juga kusam.
"Ma'af, sayang... kenapa wajah dan pakaianmu sama kusutnya?"
Briyan memperhatikan wajahnya di cermin dan memperhatikan pakaiannya. "Benarkah? hari ini aku sangat sibuk di pabrik. Terjadi kesalahan di sana, dan hampir membuat korban jiwa."
"Apa yang terjadi??"
"Listrik tiba-tiba padam, ternyata di sana ada korsleting listrik dan membuat beberapa bahan bakar terbakar. Untung saja cepat ditangani, kalau tidak api bisa saja melahap segalanya." Ucap Briyan dengan wajah khawatir.
"Semua akan baik-baik saja, jangan khawatir. Oke?"
__ADS_1
"ya."
Kami berdua segera pulang ke rumah. Kulihat nenek sedang mendorong kursi roda kakek. Beberapa hari terakhir kesehatan kakek juga semakin memburuk. Kami menjadi semakin sedih.
Kami berpapasan dengan ibu Briyan.
"Mamah, mau kemana?" tanya Briyan.
"Mamah dan ayahmu akan membawa kakek dan juga nenek untuk memeriksakan kesehatan. Apa kalian mau ikut?"
"Nggak mah, sepertinya aku harus banyak kerjaan sore ini hingga malam. Ma'afkan aku mah."
Ku dengar suara mobil dari garasi telah dikeluarkan oleh ayah, mereka semua lalu berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan.
Aku dan Briyan makan bersama, sore ini aku tidak bisa membantu memasak. Namun makanan di meja ini sungguh mewah. Udang lobster yang ditumis pedas, beberapa sayuran rebus, ikan kukus kemudian di goreng. Dan masakan china kesukaan ayah, entahlah apa itu namanya. Sejenis mie ramen mungkin dan sayuran capcay kalau aku menyebutnya.
"Sayang, makanan di meja ini banyak sekali. Apa tidak terlalu boros untuk memasak semua ini?" tanyaku pada Briyan.
"Boros?? aku rasa tidak." Sahut Briyan.
"Tapi, makanan ini sangat banyak."
__ADS_1
"ART biasanya akan membawa pulang sisa makanan ini. Jadi, nggak akan terbuang sia-sia."
Aku heran mendengarnya.
"Mungkin kamu terkejut mendengar kata sisa yang aku bilang. Tapi sebenarnya mereka juga sudah memisahkan masakannya untuk mereka bawa pulang sebelum disajikan di meja makan. Sedangkan sisa dari meja makan ini biasanya mereka bungkus dan entah lah aku juga tidak tahu apakah mereka bawa pulang atau bagaimana."
Aku mengangguk dan melanjutkan makan.
"Sayang, malam ini aku akan bekerja lembur. Ada banyak sekali yang harus kerjakan menggunakan laptopku. Bisakah kamu membuatkan aku camilan dan segelas besar kopi susu?"
"Camilan apa itu?"
"Terserah saja, kamu tanyakan saja pada ART bahan apa saja yang tersedia di rumah dan kami minta bantuan nya untuk membuatnya, oke?"
"Ya, baiklah."
Setelah selesai makan, Briyan beristirahat sebentar lalu mandi. Setelah itu dia langsung membuka laptopnya.
Sedangkan aku bersama ART sedang membuatkan makanan permintaan Briyan. Kami membuat kue bole brownis berukuran besar sebanyak 3 buah.
Pantas saja Briyan agak gemuk, cemilan malamnya saja berat begini. Penuh kalori, protein dan karbohidrat. Kami membuat bolu itu selama 1,5 jam. ART nampak senang bekerja di rumah ini. Mereka sedikit curhat kepadaku, dan selalu memuji kebaikan bapak dan bu presdir.
__ADS_1