
Aku kembali masuk ke dalam setelah mengunci pintu toko. Ku lihat sekilas Sena yang tak sadarkan diri di lantai, lalu ke aku masuk ke dalam kamar dan mengambil tali tambang kecil di atas meja.
Sebenarnya tali tambang ini akan aku gunakan untuk membuat tali jemuran di belakang karena aku biasanya mandi sore sebelum pulang ke rumah.
Beberapa pakaian ku juga sudah menumpuk di kamar mandi karena aku malas membawanya pulang. Tak ku sangka tali jemuran ini akan aku gunakan untuk mengikat tangan dan tubuh Sena, adikku.
Aku mengikat tangan, tangan dan tubuhnya ke kursi. Beberapa kali lilitan di tubuhnya ini tidak akan bisa membuatnya bergerak lagi. Adik durhaka ini akan menerima akibat perbuatannya.
Uhuk!
Uhuk!
Sena tersadar, tetapi dengan cepat aku mengikat mulutnya dengan kain panjang melilitnya hingga dua lilitan dan ia tak mampu berbuat apa-apa sekarang.
Eeeerrrrgggghhh!!!!!
Eeeerrrrrggghhhh!!!!!!
Ia terus berteriak dan memberontak, tapi sekeras apapun ia mencoba tak akan meluluhkan hatiku untuk membuka ikatannya.
"Nampaknya kamu sangat senang kalau bisa tinggal satu rumah dengan kekasihmu, Ben." Aku duduk di sampingnya dan segera menelepon polisi.
Eeeeerrrgggghhhhh!!!!!!!
Eeeerrrrgggghhhhhh!!!!!!!
Sena terus berjuang melepaskan ikatan tangannya. Tapi percuma saja, ikatan yang kubuat tidak akan mudah untuk dilepaskan.
Kulihat wajah Sena perlahan mulai lebam dan bengkak. Ujung bibirnya juga biru karena pukulan entah tendangan yang aku lancarkan padanya.
Aku berbicara pada polisi untuk melanjutkan kasus ku semalam dan polisi akan segera menuju ke TKP.
Aku lega sekali mendengarnya, nampaknya adik ku yang durhaka ini bukan hanya ingin satu rumah dengan kekasihnya. Akan tetapi di juga harus ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa lebih lanjut lagi.
Kaca beling berserakan dimana-mana, terpaksa aku membersihkannya perlahan dengan hati-hati sambil menelepon Briyan untuk segera menyusul ku.
Eeeeerrrrggghhhh!!!!!
Eeerrrrrggggghhhh!!!!!!
__ADS_1
Eeeerrrrrrggggggghhhhhh!!!!!
Seba terus berteriak hingga membuat kepala dan telinga ku sakit.
"Kenapa?? mulai merasa sakit??" tanyaku pada Sena. Aku mengambil sapu dan mulai membersihkan setiap inci ruangan.
Eeeeeerrrrrrrgggggghhhhh!!!!!!!
Teriakkan itu membuat kepalaku menjadi pening. Ingin rasanya aku tenggelamkan dia di dalam bak mandi.
"Anak durhaka seperti kamu pantas mendapatkan akibatnya! dan satu lagi... kalau kamu nggak bisa berkelahi jangan sok ingin menjadi preman!"
Aku tak dapat menahan rasa kecewaku padanya. Kali ini dia benar-benar harus menanggung akibatnya, meskipun harus memasukkan adikku sendiri ke dalam sel tahanan.
Membersihkan beling membuatku harus berkonsentrasi dan teliti, kalau tidak serpihan-serpihan kaca ini akan tertinggal di lantai ataupun sapu yang aku gunakan. Jadi aku menyapu ulang sebanyak 3 kali.
Kemudian membawa etalase yang hanya tinggal rangka ke ujung ruangan untuk di buang. Aku menghembuskan nafas kasar karena kelelahan.
Pukul 11.00.
Seharusnya aku sudah mendapatkan 1 atau 2 pembeli lagi. Tapi, hari ini benar-benar hari sial ku.
Aku memutar ulang kejadian yang terekam di cctv dalam ruangan itu. Sementara itu, Briyan juga sudah tiba di toko dengan wajahnya yang penuh khawatir. Ia kebingungan dan terkejut melihat kedatangan beberapa orang polisi. Terlebih lagi, Sena yang terikat di kursi membuat Briyan terbelalak melihat semua itu.
"Sa—sayang, sebenarnya apa yang sudah terjadi di sini?" Tanya Briyan kebingungan. "Apa sudah terjadi sesuatu padamu??"
Aku menggeleng.
"Sena berulah lagi, aku terpaksa memanggil polisi." Ucapku lesu dan duduk di kursi bersandar, aku merasa sangat kelelahan.
"Mbak Dewi, kami akan membaca rekaman cctv ini sebagai bukti. Dan kalian ikut kami ke kantor polisi sekarang untuk menjelaskan semuanya di sana." Ucap salah seorang polisi.
Aku bergegas ke luar memasukkan sepeda motorku ke dalam toko. Cuaca di luar sangat panas, aku yakin sama panasnya dengan otakku saat ini.
Lagi-lagi aku menyeret Briyan ke dalam masalah seperti ini, sangat memuakkan.
Briyan menghela nafas panjang melihat etalase di hadapannya yang sudah porak poranda. Kemudian kulihat ia menerima sebuah telepon, dari raut wajahnya nampak sangat serius. Aku bahkan tak berani bertanya tentang apa itu.
Beberapa polisi itu melepaskan tali yang mengikat Sena dengan cepat. Satu persatu ikatannya terlepas, dan terakhir mulutnya yang aku ikat dengan kain kini sudah terbebas dan mulai mengeluarkan sumpah serapah nya.
__ADS_1
"Dasar kakak nggak berguna! selama hidupmu belum pernah berguna untuk keluarga! dan sekarang kamu hidup mewah tanpa mengingat saudara dan keluargamu!"
Aku tak ingin membalas kata-kata gilanya. Sena terus berteriak menyalahkan ku.
Aku dan Briyan mengunci toko dan masuk ke mobil mengikuti para polisi itu ke kantor polisi. Semua mata sekarang tertuju pada kami.
Saat itu jalan di depan toko sedang padat sekali. Tamatlah sudah, orang-orang tidak akan mau membeli roti di toko ku lagi setelah melihat insiden ini.
Di dalam mobil Briyan menanyakan secara detail apa yang sudah terjadi kami berdua. Aku tak menjawabnya langsung, menatap ke kiri dan membuka jendela mobil. Aku yakin angin-angin segar akan sedikit membantuku.
"Sena sudah keterlaluan, dia harus diberi pelajaran. Meskipun dia adik mu, perlakuannya sudah merugikan banyak orang." Ucap Briyan memandangku sekilas.
"Ya, kamu benar."
"Sayang, aku terpikir sesuatu... tapi, aku takut membuatmu sedih." Briyan mengatakan itu dengan nada pelan.
"Ada apa? apa yang kamu pikir kan?" aku menatap Briyan penuh penasaran.
"Aku mencurigai sesuatu, em... sepertinya adikmu—"
"Mengkonsumsi obat pencerah otak?" sahut ku.
"A—apa? pencerah otak??" Briyan semakin heran mendengar 'pencerah otak' yang aku katakan, ia menatapku sekilas.
Aku menghembuskan nafas lagi, begitu lelah rasanya hidupku ini. Aku hanya merangkak di di atas dahan rapuh nan sangat tinggi. Suatu saat aku akan terjatuh apabila salah melangkah atau salah berpijak.
Kami tiba di kantor polisi.
Hari ini akan menjadi hari yang panjang dan menyebalkan lagi bagiku. Aku dan Briyan masuk ke dalam kantor polisi, seakan kami langganan tetap kantor polisi ini.
Dan hari ini Sena resmi di tahan lagi karena perbuatannya. Ia menjadi dingin, semakin dingin. Dia tidak ingin menatap apalagi berbicara padaku.
Tanpa terasa mataku berkaca melihat pemandangan ini.
"Saudari Dewi, adik anda setelah menjalani beberapa tes kami menemukan beberapa hasil tes. Pertama saudari Sena positif narkoba dan minuman keras. Dan yang kedua, positif hamil."
Seperti ada petir menyambar, aku dan Briyan dibuat terbelalak oleh penyataan polisi itu.
Aku tak mampu berkata-kata. Ku pandangi Sena yang sama sekali tidak terkejut mendengarnya. Rupanya inilah alasan kenapa ia sangat marah ketika aku memasukkan Ben ke dalam penjara. Ia nampak senang membuat masalah denganku, rupanya inilah yang dia inginkan sebenarnya.
__ADS_1