
Dingin semakin dingin menyelimuti perjalananku dan Briyan. Ia masih menarik gas sepeda motor dengan kecepatan 90 km perjam. Aku sangat takut hingga berpegangan sangat erat padanya.
"Hati-hati, di depan banyak lubang!" teriakku pada Briyan.
Briyan memperlambat laju motor. Beruntung aku masih ingat medan nya, kalau tidak bisa bahaya. Bahkan tadi siang aku juga hampir terpental, untung saja aku hanya membawa diriku sendiri.
Dan masih untung aku membawa helm, kalau tidak akan terasa semakin dingin. Meskipun hanya ada 1 helm, itu bisa digunakan oleh Briyan. Tak ada waktu untuk kami berdebat sekarang.
"Pegangan Wi! kita akan terbang!!" Teriak Briyan.
BUUGGH!!
Aku memukul bahu Briyan dari belakang.
"Berhati-hatilah, keselamatan kita lebih penting!!" Teriakku pada Briyan.
"Baiklah sayangku! aku akan menjaga dan mengembalikan mu sampai rumah dengan selamat!"
Aku kesal padanya, di saat genting begini Briyan masih sempat bercanda. Akan tetapi aku merasa senang, jujur saja ibarat kencan ini yang paling romantis.
Briyan sangat dapat diandalkan, aku mengira dia tidak bisa naik sepeda motor. Tapi sekarang aku merasa aman. Sesekali aku membenahi kain yang melilit tubuh Briyan yang mulai melorot dari bahu atau pinggangnya.
Sesekali aku menoleh ke arah belakang, aku khawatir para penjahat itu mengikuti kami. Dan benar saja, dari kejauhan dapat kulihat sorot lampu kendaraan. Sepertinya ada beberapa. Entah itu mobil atau sepeda motor.
"Briyan, mereka di belakang! masih sangat jauh, tapi bisakah kita lebih cepat?"
"Ya!"
Briyan menarik gas lebih kuat lagi.
"Briyan, tetap hati-hati! ingat, keselamatan lebih penting!"
Briyan tak menjawabnya, dia hanya fokus menyetir.
"Briyan, sepertinya sebentar lagi ada persimpangan. Belok ke kiri!"
"Ya!"
Tak berapa lama kami tiba di persimpangan dan sampai di tanah kuning. Untung saja belum ada hujan, karena kalau hujan sudah pasti jalan ini sangat hancur.
"Briyan, berhati-hatilah! jalan ini nggak terlalu mulus!"
Briyan tetap fokus menyetir. Sekarang kami menempuh perjalanan yang panjang. Di belakang para penjahat mafia masih mengejar. Aku berharap mereka tidak semakin dekat, aku menjadi sangat khawatir.
__ADS_1
Briyan masih melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara penjahat mafia masih mengejar dibelakang. Nampaknya mereka sama laju dengan Briyan. Aku yakin, mereka benar-benar ingin melakukan hal yang buruk pada Briyan sampai melakukan hal seperti ini.
Kurang lebih setengah jam sudah kami di perjalanan, sampai kulihat 2 buah cahaya terlihat semakin dekat.
"Briyan, seperti nya ada mobil yang berhasil menyusul kita dengan kecepatan tinggi."
"Dia nggak akan bisa mengejar kita!"
BRUUUUMMM!!!!
Briyan menarik gas lebih kuat, kecepatan 110 km/jam. Aku tak dapat menahan ketakutan ku. Aku memeluk pinggang Briyan dengan erat.
Sepuluh menit kemudian, kami dapat melihat cahaya lampu pedesaan.
Tiada henti ku ucapkan rasa syukur.
Mobil di belakang kami semakin dekat, berjarak kurang dari 1 km.
Briyan menggunakan kesempatan beberapa belokan di pedesaan untuk mengecoh.
Kami berhenti dan bersembunyi di semak belukar pertigaan jalan.
Mobil berhenti dan menurunkan 1 penumpang. Kemudian mobil itu kembali melanjutkan perjalanan.
Orang yang turun tersebut menggunakan sebuah alat komunikasi untuk saling berbicara dengan temannya.
Aku dan Briyan masih di semak belukar tepat di belakang orang itu.
Kenapa orang ini ada di hadapan kami sekarang sih? tukas ku dalam hati. Aku berharap ia tak menyadari keberadaan kami.
Sekitar 15 menit kemudian para pemotor tiba. Orang yang di hadapan kami mengisyaratkan dengan kedua tangannya agar mereka berpencar ke beberapa arah.
Kemudian satu sepeda motor berhenti dan menjemput orang tersebut kemudian mereka semua pergi dari hadapan kami.
Aku dan Briyan menarik nafas lega.
"Briyan, sepertinya mereka benar-benar menginginkan kamu." ucapku menatap Briyan dengan lelah.
Briyan terbaring di gundukan tanah yang diselimuti rerumputan.
"Ya, sepertinya aku sudah ada di DPO mereka."
Aku dan Briyan terdiam membisu di keheningan suasana jalan. Kami sudah tak tahu apa yang akan kami lakukan, melarikan diri sekarang atau besok bukankah sama saja dalam bahaya?
__ADS_1
Aku menatap Briyan yang kelelahan, ia nampak meringis karena lengannya kram dan ngilu.
"Kamu baik-baik saja?" tanyaku padanya.
Briyan menatapku dan kembali meringis, "aku tidak apa-apa."
Briyan kembali menatapku, "kamu berantakan sekali."
Rupanya ia memperhatikan penampilanku yang sudah tak karuan diselimuti dengan kain besar seperti kain saringan tahu.
Kami berada tepat di pinggiran sungai kecil. Lampu rumah warga sekitar nampak jelas di bantaran sungai kecil itu. Akan tetapi suasana sangat hening. Padahal ini masih jam 8 malam.
"Andai aja ada perahu...." ucap Briyan masih berbaring.
Kami kembali bersandar di pinggiran berharap kami menemukan sebuah ide cemerlang untuk bisa kembali pulang.
Tiba-tiba saja, dari samping ku muncul seseorang mengayuh sebuah perahu kecil.
"Tunggu pak!!"
Briyan memanggil pengemudi perahu itu.
Si Pemiliki perahu berhenti dan menepikan perahunya. Dengan segera Briyan menuju kearah perahu dan aku mengikuti langkah Briyan dari belakang.
"Ada apa?" ia nampak kebingungan dengan keadaan kami yang seperti orang aneh.
Si pemilik perahu tersebut tak sendirian, ia sedang bersama dengan istrinya. Sang istri juga tak kalah heran dengan penampilan kami.
Briyan menceritakan secara singkat apa yang telah telah terjadi pada kami dan meminta tolong untuk mengantarkan kami ke kota dengan bayaran yang fantastis.
Si pemilik perahu dan istrinya hampir tak percaya dengan apa yang Briyan katakan. Cukup lama mereka bertanya jawab.
"Tolong lah kami pak, nyawa kami bergantung pada kalian..." ucap Briyan memelas.
Briyan memperlihatkan dompetnya, mengeluarkan uang tunai sekitar 3,5 juta. Lembaran uang itu masih basah dan lengket. Ia juga memperlihatkan identitasnya secara lengkap. Briyan dengan sabar menceritakan semua yang terjadi agar mereka faham.
Briyan juga menunjukkan sepeda motor yang ia letakkan di semak belukar. Briyan mengatakan sepeda motor itu untuk mereka.
Setelah bernegosiasi agak lama, akhirnya si pemilik perahu dan istrinya bersedia membantu.
Mereka memberikan tumpangannya.dan mempersilakan kami naik ke perahunya. Si istri pemilik perahu mengatakan bahwa mereka harus berhenti terlebih dahulu di depan sana ke rumah saudarinya. Kami hanya mengiyakannya saja.
Si pemilik perahu menyalakan mesin dan melaju sekitar beberapa ratus meter kedepan hingga tiba di sebuah rumah di bantaran sungai.
__ADS_1
Si istri meminta kami untuk ikut naik bersama mereka. Si istri meminta saudarinya untuk memberikan pakaian kepadaku dan Briyan. Dengan ramah, saudarinya memberikan beberapa helai pakaian panjang lengkap dengan jaket. Ia bahkan memberikan beberapa makanan dan membungkusnya untuk kami makan di perjalanan. Kami sangat lega dan berterima kasih padanya.
Dan kami melanjutkan perjalanan malam itu juga atas permintaan Briyan. Akan tetapi, Briyan meminta untuk tidak menyalakan mesin perahu. Karena itu akan menimbulkan kecurigaan apabila salah satu dari komplotan penjahat itu menemukan kami.