
"Apa kamu yakin kita berjalan ke arah yang benar??" tanyaku pada Briyan. Sekarang kaki ku sangat pegal dan kaku.
"Ya, kita sudah sampai sini. Aku yakin ini jalan yang benar..." Briyan menoleh ke arahku. "Kamu masih kuat jalan kaki? jangan bilang kamu mau pingsan lagi."
Aku terkekeh mendengar pertanyaannya.
"Aku lapar sekali, dari tadi belum ada penjual makanan yang lewat sama sekali." ucapku meringis merasakan perutku yang sudah keroncongan.
"Sabarlah sebentar... lihat, ada komplek perumahan di sana. Kita sudah dekat." Briyan menunjuk komplek perumahan di depan kami yang berjarak sekitar 500 meter.
Aku menjadi bersemangat melihat itu, akan tetapi kaki ku sudah sangat kaku dan pegal.
"Bisa kah kita berhenti sebentar? kaki ku sangat kaku." tanyaku pada Briyan.
"Lihat, di depan sana ada tempat untuk duduk. Ayo kita ke sana!" Briyan menarik tanganku dan berlari.
"Tu—tunggu!" teriak ku.
Tetapi Briyan tak menghiraukan perkataan ku, dia masih menarik tangan ku.
"Cepat lari, kamu lambat sekali!" Teriak Briyan sambil terkekeh melihatku yang sudah ngos-ngosan.
Dengan susah payah aku berlari sekitar 20 meter. Dan kami sampai di tempat duduk cor semen di pinggiran parit. Parit itu lebar dan sepanjang parit dibentuk dengan sedemikian rupa agar nampak kuat dan kokoh dan langsung terhubung ke sungai besar.
Aku memijat-mijat kaki ku yang sudah sangat pegal sekali. Begitu juga dengan Briyan, ia sibuk memijat kakinya.
20 menit kemudian.
"Ayo, jalan lagi..." ucap Briyan berdiri.
Aku juga bangkit dari tempat duduk ku. Kami berdua berjalan menuju komplek perumahan. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 Tengah hari mulai terik memancarkan cahaya panasnya dengan lantang.
Beberapa menit kemudian kami tiba di komplek, kami menyusuri gang demi gang.
"Apa di sini rumah temanmu, atau saudara mu?" tanyaku penasaran.
"Dibilang saudara juga bukan, dibilang teman juga bukan..."
"Ha??" Aku sangat heran dengan jawabannya.
__ADS_1
"Iya, begitulah..." Briyan nampak bingung.
"Jangan-jangan dia mantan mu??"
"Mantan?? bukan..."
Aku menjadi semakin bingung. Perbincangan kami berakhir sampai di situ. Karena tenaga kami sudah habis sekarang. Rasa haus kembali merasuki dahaga kami.
Hingga kami tiba di sebuah rumah besar yang mewah. Briyan memanggil dan berusaha membuka pagar.
"Kalia.....! Kalia......!" Briyan berteriak, namun tak ada jawaban.
Briyan berhasil membuka pagar dan kami masuk ke dalam.
"Kaliaa......!" Briyan terus memanggil namun tetap tak ada jawaban.
Briyan berjalan ke samping rumah.
"Tu—tunggu! lebih baik kita menunggu di luar. Aku takut kita dikira pencuri!" Ucapku pada Briyan dengan wajah penuh khawatir.
"Nggak apa-apa, anggap saja rumah sendiri." Sahut Briyan dan ia terus berjalan menuju pekarangan belakang rumah.
Ada banyak tanaman bunga di dalam tempat yang sengaja dibuat dengan cor semen yang sangat cantik, kemudian diwarnai dengan warna yang sungguh menyejukkan pemandangan mata.
Aku terpaku pada sebuah tempat tanaman, di sana ada beberapa tumbuhan kecil dan berakar. Sepertinya itu tanaman obat, tetapi aku tidak tahu tanaman apa itu. Mirip seperti bumbu dapur, jahe atau kencur. Tetapi sama sekali berbeda.
"Kalia.....!" sekali lagi Briyan memanggil.
Dan satu pemandangan di depan mataku benar-benar mengejutkanku. Seorang perempuan menggunakan bikini sedang berjemur di bawah payung sambil membaca sebuah majalah kecantikan. Perempuan itu terkejut melihat kedatangan kami. Ia menggunakan headset di telinganya, pantas saja ia tidak mendengar panggilan Briyan.
"Hello boy.....! apa kabar kamu???"
Perempuan itu berdiri dan langsung memeluk Briyan tanpa sungkan. Ia nampak sangat senang dengan kedatangan Briyan.
"Aku baik, kamu apa kabar??" tanya Briyan kembali, mereka nampak akrab.
Bikini nya yang seksi membuatku minder, apalagi belahan dada nya yang menyembul membuatku dag dig dug. Hanya saja raut wajahnya sangat berbeda dengan yang kubayangkan.
Perempuan ini berumur lebih tua dari ibunya Briyan, keriputnya sudah sangat jelas terlihat. Riasan wajahnya yang tebal menambah kesan 'tua' padanya. Jadi, aku harus memanggilnya dengan sebutan apa? tante, atau nenek?
__ADS_1
Dia sangat ramah, ia mempersilahkan kami masuk. Ia segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Sementara itu ia menyuruh kami untuk makan di dapurnya. Dengan cepat kami menyerbu makanannya di meja.
"Bolehkah aku mencharge ponselku?" tanyaku pada perempuan itu.
"Ya, silahkan saja. Kamu boleh mengisinya di manapun kamu mau. Mau di ruang tengah, di depan tv atau di dapur juga ada." Sahutnya dengan ramah.
"Oke, terima kasih."
Aku segera menyusul Briyan ke dapur, mengisi daya ponsel dan duduk di meja makan.
"Jangan malu-malu Wi... anggap saja rumah sendiri, anggap saja dia kakak mu." ucap Briyan sambil mengambil makanannya tanpa jeda.
Aku yang juga kelaparan sejak tadi malam mengambil piring dan makan segera.
"Sebaiknya kita menunggu nya, tidak sopan kalau kita makan berdua." Ucapku pada Briyan.
"Dia akan lama di kamarnya, percayalah... Dia harus berganti pakaian, merias ulang wajah nya dan dia orang yang kikuk. Untuk berdandan saja dia bingung mau pilih yang mana, ini cocok atau tidak dan bla bla bla." Briyan menjelaskan kebiasaan Kalia padaku.
"Kalian sangat akrab, kamu beruntung punya kenalan seperti Kalia."
"Ya, dia orangnya sangat fun dan ramah. Mirip seperti Merry. Hanya saja Merry lebih pendiam."
"O,ya??"
Aku dan Briyan mengisi perut hingga kenyang. Beberapa menu makanan mewah di hadapanku tak akan kulewatkan begitu saja. Dan benar saja, hingga kami selesai makan Kalia belum selesai dengan urusnnya di kamar.
Jadi, kami hanya menunggu di pekarangan belakang rumahnya. Aku kembali melihat-lihat tanaman milik Kalia yang tersusun sedemikian rupa dengan berbagai macam jenisnya.
Di sana juga ada kolam renang. Kolam renang itu nampak banyak dedaunan yang berjatuhan karena memang banyak tanaman di sana.
Di sana juga ada sebuah pohon yang sedang berbuah. Ternyata itu adalah pohon buah manggis. Kalia membudi dayakan tanaman manggis hingga berbuah begitu banyak. Ada beberapa pohon manggis di sana.
Di komplek perumahan seperti ini, lahan Kalia termasuk luas sehingga memudahkannya untuk menanam beberapa pohon manggis. Selain itu juga ada banyak tanaman bonsai yang begitu cantik.
Beberapa saat kemudian Kalia muncul dengan pakaian sederhana dan riasannya yang agak tipis. Kami duduk bersama, KLIA membawa beberapa cemilan untuk kami. Dia membawanya dengan keranjang yang agak besar.
Di dalam keranjang itu ada banyak sekali makanan dan minuman dingin kemasan botol. Ia duduk dan menyusun makanan di meja sambil menanyakan apa yang sudah terjadi.
Briyan menceritakan segalanya pada Kalia. Nampaknya, Briyan juga sangat percaya kepada Kalia sehingga dia bersedia menceritakan semuanya.
__ADS_1