
Aku tak mudah mengeluarkan air mata meskipun sedang marah dan sedih. Tapi hari ini hatiku sakit sekali dan juga malu. Orang tuaku tega sekali pada Briyan.
Aku hanya bisa terduduk dengan menyilangkan kedua tanganku di dada. Tiba-tiba Briyan memelukku dari belakang.
"Ma'afkan aku, aku nggak bermaksud berbohong... lupakan saja masalah hari ini, oke?"
Aku tak bergeming, di saat amarahku memuncak dia meminta ku melupakan masalah hari ini? itu membuat perasaanku tiba-tiba down.
"Ayo, lebih baik kita menghirup udara segar di luar. Aku ada meeting sebentar di kantor, aku harus ke sana. Kamu ikut atau nggak?" tanya nya masih memelukku.
"Iya, aku ikut. Lagipula nanti sore aku bekerja dan pulang larut malam. Kamu sebaiknya tidur di rumah mamah ayah kamu, di sana lebih aman dan nyaman."
"Jadi kamu akan kembali ke wisma pulang kerja?"
"Iya, meskipun kita sudah sah jadi suami istri tapu kita belum melakukan resepsi pernikahan seperti yang diinginkan ayah dan mamah. Kita nggak boleh bertindak seenaknya."
"Iya, itu lah yang aku suka dari kamu. Kamu sangat konsisten." Briyan melepaskan pelukannya. "Tapi, kita tetap boleh tidur berdua kan?"
"A—apa?!"
"Itukan wajar.... kenapa ekspresi mu begitu??"
"Nggak, mana bisa!" Aku berjalan mendahuluinya, aku yakin sekarang wajahku memerah karena mendengar pertanyaan Briyan.
Dasar laki-laki, yang dia pikir cuma hal-hal mesum. Timpal ku dalam hati.
Sepuluh menit kemudian aku dan Briyan pergi ke kantor. Aku dan Briyan berpisah di loby. Dia langsung ke ruangan meeting, sedangkan aku ingin menuju ruangan Merry setelah itu duduk santai di ruangan Briyan saja.
Bruk!
Aku bertubrukan dengan Yuri.
"Ya ampuuunn... kamu jalan pakai mata dong!" Yuri memandang ku dari atas sampai bawah.
Aku juga menatapnya sinis. Kemudian terus berjalan tanpa menghiraukannya.
"Hey, tunggu! habis nabrak langsung minggat aja! minta ma'af, sekarang juga!" Yuri melotot padaku dengan matanya yang sipit.
"Apa, minta ma'af?! cih!" Aku melipat kedua tanganku di depan dada.
"Ngapain kamu di sini, bukannya kamu sudah di pecat. Dasar, nggak tahu diri! lebih baik kamu pulang ke rumah mu dan tidur kalau kamu nggak punya pekerjaan!"
__ADS_1
Perempuan ini, benar-benar penghina.
Sekarang semua mata memandang kami berdua. Akan tetapi kami berdua sama-sama tidak menghiraukan dan nggak merasa malu sedikitpun.
"Dengar ya Yuri, kita sama-sama nggak melihat jalan. Jadi nggak perlu saling menyalahkan, lebih baik kamu kembali bekerja karena aku sama sekali nggak tertarik meladeni kamu!"
Aku berjalan menjauh dari Yuri. Meladeni perempuan tempramen seperti ini cuma membuat darahku naik saja. Lebih baik aku menghindar sebelum bapak dan bu Presdir melihat kejadian memalukan ini.
Akan tetapi Yuri malah menarik ku dan mendorongku hingga terjatuh.
BRUK!
Aku hampir membentur meja di samping ku.
"Yuri, apa yang kamu lakukan?!" teriak pak presdir dari kejauhan.
Aku terkejut karena bapak dan bu presdir ternyata melihat insiden itu. Apa yang harus aku lakukan? ini benar-benar memalukan sekali.
"Kalian berdua ikut saya ke ruangan!" ucap Bu Presdir lantang. Ia nampak kesal dengan kejadian di hadapan kami.
Aku dan Yuri diam mematung dan mengikuti bapak dan bu presdir ke sebuah ruangan.
"Apa yang kalian berdua lakukan?! apa kalian sadar di atas ada tamu, dan saya lagi meeting dengan mereka. Bagaimana kalau mereka melihat kejadian memalukan ini?! jawab!!" Bu presdir nampak sangat marah.
"Yuri, saya paham sekali tempramen kamu. Apa kamu mau saya pecat karena terus berbuat onar?!"
Yuri hanya menunduk tak dapat menjawab apapun. Dan tak berani mengangkat wajahnya .
"Dengar Yuri, ini kantor perusahaan tempat bekerja! kalau kamu mau jadi preman bukan di sini tempatnya, silahkan kamu pergi ke pasar tungging!"
Aku dan Yuri dibuat tak bergeming sedikitpun.
"Kalau kamu buat onar lagi, saya pastikan kamu dapat sp 1! sekarang kalian berdua keluar!"
Kalimat penutup Bu Presdir membuatku lega, lebih baik dia mengusir kami daripada harus mendengarkan dia mengomel untuk sekian menit.
Yuri kembali ke ruangannya dengan wajah merah. Sedangkan aku tetap berjalan santai menuju ruangan Merry dan Briyan.
Di sana kulihat Merry sedang bersantai dengan Sean. Mereka berdua terkejut melihatku.
"De—Dewi... kamu di sini??" Merry nampak senang dengan kedatanganku.
__ADS_1
"Aku di sini cuma berkunjung, apa yang sedang kalian lakukan??"
"Aku dan Sean lagi senggang, jadi kami mengobrol saja berdua." Merry duduk kembali di kursinya.
Sean nampak sibuk dengan ponselnya.
"Girls... aku ada urusan penting, kalian mengobrol saja dulu." Sean bergegas memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil selempang ya. "Oya, aku cuma keluar sebentar, apa kalian mau makan sesuatu atau makanan ringan??"
"Ya, makanan apapun yang kamu bawa kami akan selalu senang..." sahutku.
"Okeyy..."
"Tapi, kamu harus ingat Sean... Merry nggak bisa makan makanan yang mengandung MSG, kalau kamu kesulitan mencarinya kamu bisa belikan buah saja. Iyakan Merry??" tanyaku dengan antusias.
"Iya... itu benar Sean."
"Okeey Girls....!" Sean segera bergegas keluar dari ruangan. Ia nampak berlari-lari kecil, seperti akan mengejar sesuatu.
Kini hanya ada aku dan Merry.
"Jadi, apa calon suamimu itu Sean??" tanya ku pada Merry.
"A—apa??"
"Nah, itu benarkan...? kamu jadi gugup dan wajahmu merah." Ucapku meledeknya.
Merry tidak langsung menjawab, tapi aku tahu tebakan ku benar.
"Nggak perlu sungkan begitu kan... aku temanmu, kenapa harus malu?"
"Iya, kamu benar... masalahnya, sekarang hubungan kami juga di tentang oleh orang tua Sean." Merry menghembuskan nafas kasar.
"Kenapa?? apa yang salah dengan kalian? kalian pasangan yang serasi dan nggak punya masalah sepertiku."
"Siapa bilang? nyatanya, orang tua Sean masih mencari calon menantu sempurna seperti yang mereka inginkan. Perempuan berada, dan dari keluarga yang mereka inginkan." Merry menghembuskan nafas kasar. Dari matanya terpancar kesedihan yang mendalam.
"Kami harus kuat, perjuangkan lah cinta kalian... aku nggak bisa berkata apa-apa, tapi aku akan ada saat kamu membutuhkan ku. Okey??"
Merry bersandar di bahu ku, ia nampak rapuh dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Sesekali Merry mengusap air matanya, namun kembali menggenang dan jatuh.
Untuk pertama kalinya aku melihat Merry bersedih, biasanya dia selalu tersenyum ceria. Hari ini tak ku sangka melihatnya terbalut dalam kesedihan.
__ADS_1
Agak lama kami berdua terdiam, hanya suara langkah kaki beberapa orang yang melewati ruangan terdengar mengisi kekosongan. Jam menunjukkan pukul 11 siang, namun Briyan belum juga selesai dengan meeting nya. Begitupun dengan Sean yang berjanji hanya keluar sebentar, ia belum juga kembali.