Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 14


__ADS_3

Sean memang tampan, baru seminggu dia bekerja di perusahaan sudah menjadi pangeran idaman para perempuan di sana. Sean seperti bintang film yang sedang di wawancarai jika ia baru datang bekerja.


Sean yang sangat ramah selalu memberikan senyumannya kepada para perempuan yang merubungi nya, dan senyumnya seakan membuat hati para perempuan meleleh.


"Hani, Hari ini ayah dan mamah datang ke perusahaan. Mereka kembali dari luar negeri kemarin." ucap Briyan membuyarkan lamunan ku.


"Benarkah? jadi, bagaimana nasibku besok?" tanyaku asal ceplos.


"Santai saja, jangan terlalu tegang, oke?"


"Oke, itu gampang. Yang menegangkan itu nanti kalau sudah menikah kita harus berpura-pura saling mencintai dan tinggal satu kamar." ucapku padanya.


"Benar juga yang kamu katakan," ucap Briyan menggaruk kepalanya.


Terkadang aku berpikir untuk membatalkan perjanjian ini, tapi aku menyukai harta yang Briyan tawarakan padaku. Pura-pura menikah dengannya selama 2 tahun tak masalah bagiku.


Belum selesai lamunanku, seorang laki-laki dan perempuan paruh baya masuk ke ruangan Briyan dengan beberapa asistennya, merekalah orang tua Briyan! jantungku sedikit berdebar lebih kencang dari biasanya.


Aku dan Merry menunduk memberi hormat dan menyapanya. Ayahnya nampak tersenyum ramah, sedangkan ibunya ekspresinya masih saja datar sejak kedatangannya semenit yang lalu. Suasana di kantor berubah menjadi horor sejak kedatangan ibunya Briyan yang tanpa senyuman dan ekspresinya yang datar. Yuri muncul dan memberikan bingkisan hadiah kedatangannya hari ini.


Yuri penuh dengan kepercayaan diri tersenyum pada ibu nya Briyan, namun ibunya hanya membalas dengan senyuman selama 1 detik sekian mikro atau nano.


Kemudian ayah dan ibunya masuk ke dalam ruangan mereka yang ada di lantai atas. Ayah dan ibunya tak lagi muncul atau turun ke lantai bawah hingga jam pulang kerja.


Semua karyawan beranjak dari tempat kerjanya, begitupun aku dengan Merry. Tiba-tiba ibunya Briyan memanggil Merry.


"Sekretaris Merry, kemari!" ibunya Briyan memanggil Merry, "dan karyawati di samping kamu, kemari juga!" ucapnya juga memanggilku.


Kami berdua mendekat dan menyapanya, namun ia tak membalas kalimat sapa yang kami ucapkan.


"Kamu karyawati baru?" tanya ibunya kepadaku yang membuatku jadi gugup.


"Ya, Presdir. Saya karyawati baru," ucapku tanpa ragu.


"Jabatan apa yang kamu pakai sekarang?"


"Saya sekretaris keuangan Bu presdir."

__ADS_1


"Karyawati baru, sudah jadi sekretaris keuangan??" ia nampak heran, "saya akan pantau pekerjaan kamu nanti. Dan Merry, kumpulkan data karyawan dan karyawati baru pada saya besok pagi secepatnya. Dan suruh mereka menghadap ke ruangan saya pukul 2 siang. Kamu mengerti?!" ucapnya dengan tegas.


"Baik, Bu presdir!" sahut Merry.


Aku dan Merry berlalu dari hadapan bu presdir, dan bisa kulihat Briyan sedang terlibat perdebatan dengan ayahnya. Aku dan Merry segera berlalu melewati mereka, sepertinya mereka sedang mempermasalahkan Briyan yang memilih tinggal di kost-kostan ketimbang di rumahnya sendiri.


Briyan mengatakan pada ayahnya itu bukan hal penting yang harus di bahas, dan mereka bisa bahas itu di rumah. Bukan di tempat kerja. Namun ayah nya Briyan tak mengindahkan apapun yang dikatakan Briyan. Ayahnya kelihatan murka dan kecewa melihat Briyan yang selalu ingin bebas.


Aku dan Merry telah sampai di wisma, di sana sudah ada Sean yang terlihat sedang menyapu terasnya. Ia memanggilku apakah aku memiliki pel lantai. Aku mengambilkan pel lantai bekas di kostan lamaku.


"Ambil saja pel ini, nggak perlu kamu kembalikan," ucapku pada Sean.


"Apa kamu yakin? apa kamu punya pel yang lain?"


"Ya, aku punya 2. Ambil saja!"


"Oke, terima kasih." ucap Sean padaku.


Ia kelihatan bersih dan rajin, ia terbiasa mengerjakan segalanya dengan tangannya sendiri. Agak berbeda dari Briyan yang masih suka memerintahkan orang lain untuk mengerjakan pekerjaan yang terbilang sederhana.


Malam itu, Briyan tak datang di wisma kami. Biasanya hampir tiap malam ia bertamu. Aku lega karena tak ada lagi yang mengganggu waktu istirahatku.


Ku dengar suara mobil Sean pergi, ia tak mengindahkan hujan yang turun sangat lebat disertai petir. Aku dan Merry segera mematikan televisi dan tidur di kamar kami masing-masing.


Tengah malam, hujan turun sangat deras disertai petir yang saling bersahutan. Seseorang menggedor pintu wisma kami, aku terbangun dan membuka pintu kamar. Kulihat Merry juga terbangun akibat gedoran suara gedoran itu.


"Dewi! Merry! buka pintunya!"


"Pak Briyan?!!" Aku dan Merry terkejut bersamaan. Kami segera membukakan Pak Briyan pintu, dan...


Jedddeerrr !!!!!!


Aku dan Merry berteriak histeris, jantung kami seakan akan terlepas. Briyan sudah basah kuyup menggigil kedinginan. Aku berlari ke kamarku dan mengambilkan handuk untuk Briyan. Aku kembali ke kamarku mengambilkan 2 lembar selimut, jaket dan 1 bantal untuknya.


Ku lihat ia hanya terbalut dengan handuk, bibirnya pucat karena kedinginan. Ia segera mengenakan jaket yang kuberikan dan membalut seluruh tubuhnya dengan selimut dan berbaring di sofa.


"Pak, apa yang terjadi? kenapa bapak bisa sampai kemari hujan-hujan begini??" tanya Merry yang mendekati Briyan.

__ADS_1


"Aku sedang jalan-jalan, tiba-tiba saja mobilku mogok sekitar 400-500 meter dari sini. Aku terpaksa berlari menuju kemari," ucapnya dengan nada gemetar menahan dingin.


"Kenapa bapak tidak berlari ke kamarnya Sean?!" tanyaku padanya.


"Sean tidak punya banyak selimut dan bantal. Kalau di sini, kalian punya segalanya yang aku butuhkan. Sekretaris Merry, buatkan aku kopi susu!"


"Baiklah pak," Merry segera berlari-lari kecil ke dapur dan menghidupkan kompor untuk merebus air.


Jeddeerrr!!!!


Petir kembali menyambar dengan keras, membuatku menutup kedua telingan ku menggunakan tangan.


"Pak, untung saja kamu baik-baik saja! bagaimana kalau kamu tadi di sambar petir?!!"


"Berarti kamu akan jadi janda Dewi!" ucapnya asal menyeplos.


"Sembarangan kamu pak! memangnya kapan kita menikah?!"


"Kamu masuk saja ke kamarmu wi! aku mau tidur, tapi sebelumnya aku mau minum kopi dulu."


"Ya pak, kamu bilang kami punya segalanya? dan sekarang kamu cuma mengenakan handuk dan jaket yang dibalut selimut. Kamu nggak punya selembar pakaian pun di badan mu pak!"


"Memangnya kenapa wi?! jangan bilang kamu bernafsu melihat ku seperti ini?!" ucapnya tanpa menoleh ke dan menenggelamkan sedikit wajahnya ke dalam selimut.


"Sembarangan kamu pak! lebih baik aku tidur, dari pada harus meladeni kamu ngobrol tiap malam!" ucapku beranjak dari tempatku m


dan menuju kamar.


"Baguslah wi, tidur sana! bangun pagi dan besok mulai bekerja! kalau kamu bisa menceramahiku seharusnya kamu juga bisa menceramahi calon mertuamu besok." Ucapnya terus bicara yang tidak-tidak.


Tak berapa lama kemudian Merry tiba dengan segelas kopi susu dan sedikit cemilan yang kami beli saat pulang kerja. Briyan dengan senang hati duduk minum kopi yang masih panas menggunakan sendok.


Sesekali petir menyambar namun dengan suara yang tak sekeras sebelumnya. Merry masuk ke kamarnya dan tidur.


Hingga pagi hari, kulihat Briyan masih mendengkur di sofa. Aku pergi ke kamar wisma tempat tinggal Sean dan memberitahukan kedatangan Briyan tadi malam. Aku juga memberitahunya bahwa ia memerlukan pakaian ganti, Sean dengan ramah memberikan pakaiannya kepadaku.


"Aku akan ke kamar wisma mu menemui Briyan sebentar lagi. Aku harus mandi terlebih dahulu," ucapnya mengambil handuk yang tergantung di jemuran pakaian di dekat dapur.

__ADS_1


"Oke, makasih untuk pakaian ini." ucapku padanya dan keluar dari kamar wisma Sean.


Kulihat Briyan sudah bangun dan pergi ke kamar mandi, "tunggu pak, ini pakaian Sean!" aku menyodorkan pakaian yang ada di tanganku. Ia mengambilnya dan masuk ke kamar mandi.


__ADS_2