Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 33


__ADS_3

"Briyan... kamu nggak kenapa-kenapa kan sayang??!" tanya ibu Briyan menyambut kedatangannya. Ibunya nampak sangat khawatir. Iya memeluk Briyan dan hampir menangis.


"Aku baik-baik saja mah."


Ayahnya juga datang menghampiri Briyan dan memeluknya. Memar di wajah Briyan masih kelihatan jelas. Ibunya meminta pembantu rumah tangganya mengambil kotak obat.


"Ma'afkan ayah Briyan, pertolongan datang terlambat. Ayah menerima kabar kalau kamu sudah pergi dari sana... Syukurlah kamu bisa kembali dengan selamat nak." Raut wajah ayahnya sangat sedih.


Briyan duduk di sofa dan pembantu rumah tangga mereka datang dengan membawa kotak obat. Ibunya segera mengambil kompres alkohol untuk memar Briyan.


"Siapa yang sudah menolong kamu sayang?? bagaimana kamu bisa pulang apa benar Dewi yang sudah mengikuti para penculik itu yang sudah menolong kamu??" ibunya terus bertanya karena sangat khawatir.


"Iya mah, aku diculik tepat di depan wisma. Beruntung Dewi melihatku dan langsung mengikutiku. Aku dan Dewi berhasil pergi dari sana berkat pertolongan beberapa orang. Dan terakhir kami ditolong dan diantar oleh Kalia, mamah masih ingat Kalia kan?"


"Oh, ya Kalia.... jadi mana dia??"


"Dia ada urusan sangat penting, jadi dia cuma bisa mengantarku sampai halaman rumah." sahut Briyan sambil meringis merasakan sensasi dingin dari kompres alkohol.


"Istirahat lah sayang di kamarmu, mamah dan ayahmu akan memikirkan cara memperketat pengawasan keamanan."


"Iya mah," Briyan berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


Di dalam kamarnya Briyan langsung merebahkan diri, ternyata kasur nya sangat nyaman dan empuk. Ia kembali mengingat tidur di perahu di bawah tumpukan nanas, tidur di sana benar-benar tidak menyenangkan.


Ia memeluk bantal dan guling kesayangannya. Menyalakan AC kemudian tidur sangat lelap. Sedangkan di ruang keluarga ayah dan ibunya sedang merundingkan sesuatu.


"Yah, kita kita harus menyelidiki asal usul Dewi. Entah kenapa aku sedikit menaruh curiga padanya. Aku takut Dewi adalah anggota komplotan Kenan." Ucap ibu Briyan sambil menarik nafas panjang.


"Aku juga berpikir seperti itu. Kirim orang untuk menyelidiki identitasnya. Jangan sampai dia masuk kehidupan kita dan mengusik kebahagiaan keluarga kita." Saut ayahnya yang juga memiliki niat yang sama.


"Bagaimana dengan wisma? mereka semua sudah mengetahui Briyan sering pergi ke sana?"


"Aku akan kirim orang untuk mengawasi di sekitaran sana. Dan bagaiman menurutmu, kalau Dewi kita suruh tinggal di sini? itu akan lebih mudah untuk kita memantau dia."


"Apa?? Dewi tinggal di sini??" ekspresi ibu Briyan sekarang berubah.


"Dia juga akan menikah dengan Briyan, cepat atau lambat dia akan pindah kesini juga."


Agak lama mereka terdiam, nampaknya mereka benar-benar sedang berpikir keras.


"Apa kita akan menikahkan mereka berdua segera??" tanya ibu Briyan lagi.

__ADS_1


Pertanyaan ibu Briyan membuat suasana semakin hening. Bahkan mereka berdua tak tahu apakah keputusan yang mereka ambil sudah benar.


Hingga larut malam perbincangan antara suami istri belum juga berakhir. Mereka nampak frustasi, setelah beberapa jam berdiskusi.


Akhirnya mereka berdua hanya mengerjakan pekerjaan kantor yang sempat terbengkalai karena skandal penculikan Briyan.


"Kita akan pikirkan lagi besok," ibu Briyan menyudahi obrolan mereka dan masuk kamar.


"Ya,"


Sementara suaminya masih di depan laptop, samar-samar terdengar suara tv yang juga masih menyala di hadapannya.


Pak presdir mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


["Halo, Ben."]


["Ya, pak presdir?"] Ben menjawab.


["Ada pekerjaan buat kamu."]


["Apa itu pak?"]


["Kamu cari 2 orang teman lagi dan datang ke wisma 'Pelangi House'. Kamu awasi secara bergantian anakku Briyan dan tunangannya bernama Dewi. Satu lagi, kamu juga harus melaporkan apabila ada gerak-gerik mencurigakan atau orang asing. Kalau kamu bisa selidiki itu lebih bagus."]


["Saya akan kirim security juga di sana untuk membantu kamu. Bayarannya akan saya transfer sekarang juga."]


["Baik pak, siap."]


Pak presdir menutup panggilan telpon. Ia kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.


Sementara Briyan tengah malam terbangun dan pergi ke dapur untuk makan. Briyan nampak lebih segar dibandingkan sebelumnya.


Setelah selesai makan, Ia kembali ke kamarnya. Namun ia tak sengaja melihat ayahnya yang tengah sibuk, kemudian Briyan menyusul ayahnya yang ada di depan tv.


"Ayah, kenapa belum tidur?"


Ayah menatap Briyan, ia tak menyadari kehadiran anaknya di sampingnya sedari tadi.


"Ayah nggak ngantuk, lihat sekarang sudah jam berapa?"


Ayah Briyan menengok sekejap jam yang ada di dinding, pukul 23.00 malam. Lalu ia kembali menatap layar laptopnya, menghela nafas lalu bersandar.

__ADS_1


"Cepat sekali, padahal ayah baru saja bekerja." Ucapnya menutup laptop.


"Ayah, aku ingin bicara sesuatu."


"Apa? katakan..." Ayahnya mengambil kopi di meja dan menyeruput.


"Ayah, Dewi sudah membantuku terlalu banyak. Dia juga hampir celaka karena aku..."


"Ya, itu benar.... Dewi harus mendapat imbalan yang pantas. Dan ayah rasa kamu tahu imbalan apa yang pantas untuk Dewi."


"Ya, Ayah.. aku sudah tahu. Tapi, lebih dari itu... sejujurnya, aku jatuh cinta padanya Ayah..."


Ayah hampir tersedak dengan kopinya.


Uhuk!


Uhuk!


"A—ayah..!" Briyan terkejut melihat ayahnya tersedak.


"A—pa yang kamu katakan Briyan?? ka—kamu jatuh cinta??" Ayahnya menatap Briyan.


Briyan menunduk, dan terdiam. Suasana hening seketika, ayahnya menarik menghembuskan nafas kasar dan kembali bersandar.


"Briyan... Apa Dewi juga memiliki perasaan yang sama padamu?"


"Entahlah Ayah... aku belum pernah mengatakan isi hatiku padanya."


"Apa kamu sudah mengetahui asal usulnya? keluarganya?"


"Sama sekali belum ..."


"Briyan... Ayah bisa menerima pernikahan kontrak kalian, tapi kalau kalian menikah karena saling cinta... Pertama-tama kamu harus pastikan asal usul keluarganya terlebih dahulu."


"Iya Ayah...."


"Karena menikah bukan hanya tentang cinta... kamu paham kan?"


"Iya Ayah..."


Ayahnya Briyan berdiri dan membawa laptopnya, "sekarang tidurlah Briyan, sudah larut malam." Kemudian ayahnya berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Briyan semakin tenggelam di dalam perasaannya. Ia hanya tahu tentang perasaanya. Malam semakin larut, Briyan masuk ke kamar dan mencoba memejamkan mata.


__ADS_2