
Hari ini aku masih bersantai tinggal di rumah, sama sekali tidak diperbolehkan bekerja ataupun melakukan aktivitas fisik hingga kehamilan ku menginjak usia trimester kedua.
Di rumh sendirian sangat membosankan, yang aku kerjakan hanya bolak balik ke kamar dan ke halaman rumah. Memandangi bunga yang bermekaran membuat ku merasa tentram.
Briyan sudah mengatur segalanya untuk syukuran yang ia rencanakan. Sayangnya ia hanya melakukan semuanya sendirian, ia bahkan tak mengajakku. Ayah dan ibunya juga sangat sibuk bekerja sehingga tidak bisa membantu.
Drrrttttttt
Drrrrrttttt
Drrrrtttt
Ponselku terus bergetar, ku lihat Briyan yang sedang melakukan panggilan video. Aku mengangkat telpon darinya.
["Ada apa sayang?"]
["Kamu lihatlah, dekorasi ini bagus kan?"]
Briyan mengarahkan kameranya pada dinding yang sudah dihias dengan bunga-bunga sederhana. Ia mengetahui betul seleraku seperti apa, aku tidak suka yang berlebihan. Sederhana lebih baik.
Karpet tebal juga sudah siap digelar, meja-meja prasmanan dan lain sebagainya. Briyan terlihat kelelahan, keringatnya nampak memenuhi keningnya.
["Sayang, aku suka dekorasinya... tapi, apa kamu melakukan semuanya sendirian? ma'af tapi aku nggak yakin kamu bisa mendekor ruangan sedemikian rupa seperti itu."]
Briyan mengalihkan kameranya menjadi kamera belakang hingga memunculkan wajah Merry dan Sean.
["Kamu benar sayang, aku nggak ahli dalam hal dekorasi. Mereka berdua yang sudah melakukannya. Ha ha ha ha."]
__ADS_1
Briyan tertawa lebar.
Merry melambaikan tangan padaku. Hari ini dia nampak berpakaian berbeda dari biasanya, ia mengikat rambutnya dan mengenakan kaos oblong biasa berwarna putih dengan celana kain berwarna abu muda.
Aku tersenyum melihat wajah mereka semua, ingin sekali rasanya aku menyusul mereka dan mengawasi setiap hal yang mereka lakukan. Sayang, aku hanya bisa berdiam di rumah saja.
Jangankan untuk keluar mengendarai motor, bahkan untuk berjalan di dalam rumah saja aku masih sempoyongan seperti orang mabuk. Dan lebih parahnya lagi, akhir-akhir perutku tidak bisa diajak kompromi. Banyak makanan yang aku makan, tetapi hanya sedikit yang mampu dicerna. Sisanya keluar begitu saja dengan percuma.
Briyan mengintari seluruh ruangan di dalam rumah kecil kami dengan kamera belakangnya. Ia berjalan dari halaman depan hingga ke halaman belakang.
["Bagaimana, kamu suka?"] tanya Briyan padaku.
["Tentu saja, semuanya begitu rapi dan indah."] Aku membalasnya dengan senyuman manis.
["Jangan lupa minum vitamin mu, jangan sampai besok ketika semua keluarga berkumpul kamu malah tiduran tidak berdaya."]
["Em, sayang... bisa kamu sampaikan pada ART, tolong buatkan es buah untuk menu makan siang kita nanti. Merry dan Sean akan makan bersama kita nanti."]
Aku bersemangat ketika Briyan mengatakan itu.
["Benarkah? syukurlah... aku sangat ingin kita makan bersama lagi. Aku akan menyampaikan permintaanmu secepatnya sayang.."]
Briyan mengalihkan kamera ponselnya pada kamera depan sehingga bisa ku lihat senyumannya yang manis.
Briyan menutup telponnya. Aku segera bergegas ke dapur untuk membantu memasak sebisaku. Merry yang tidak bisa memakan masakan dengan bumbu penyedap rasa, akhirnya aku turun tangan untuk Merry.
Tiba-tiba saja aku teringat pada Sena, apakah yang dia lakukan saat ini? apakah hari-hari nya menyenangkan seperti yang aku alami?
__ADS_1
Tiba-tiba saja pikiran ku berkecamuk. Aku memikirkannya dan begitu mengkhawatirkannya. Mungkin besok atau lusa aku akan mengajak nya makan bersama. Belum tentu nasibnya sebaik diriku. Aku bisa makan enak setiap hari, tetapi Sena...
Aku begitu frustasi di buatnya. Hingga sup yang aku buat selesai aku masih memikirkan tentang Sena. Tak tahan rasanya aku membayangkan dia yang sedang hamil, apakah Ben bisa menyayanginya seperti kasih sayang yang aku dapatkan dari Briyan?
Bel berbunyi, tentulah itu Briyan, Merry dan Sean. Mereka langsung masuk menuju ke dapur.
"Apa yang kamu masak?" tanya Merry padaku.
"Nggak ada yang istimewa, cuma makanan sederhana. Yang pasti untuk mu sudah aku pisahkan tersendiri." Sahutku sambil meletakkan beberapa ikan laut kukus yang baru saja di goreng.
"Ikan yang kamu bawa kelihatannya sangat sedap sekali." Merry nampak tergiur dengan ikan laut goreng yang baru saja aku letakkan.
"Kamu tenang saja Merry, kamu boleh memakannya karena ikan itu di kukus dan di goreng tanpa penyedap rasa sedikitpun."
Merry sangat senang mendengarnya. Ia langsung menyambar ikan laut goreng yang ada di depannya.
Hap
Hap
Hap
Hap
Aku tercengang melihat Merry makan dengan lahap. Sean juga tak kalah bingung melihat Merry. Sedangkan Merry terus saja memuji rasa ikan yang dia makan, rasanya manis alami dan tanpa penyedap rasa pun rasanya bisa sempurna seperti itu.
"Aku sangat suka ikan ini, di kampung ku ini makanan keseharian. Sayangnya di kota seperti ini sangat sulit mendapatkan jenis ikan seperti ini. Apalagi harganya yang terbilang mahal, jadi aku sudah jarang sekali makan ikan yang di masak seperti ini." Ucap Merry telah selesai menghabiskan satu ekor ikan lautnya.
__ADS_1
Sedangkan Sean, ia bukan tipe pemilih makanan. Ia sama saja seperti Briyan, makanan apapun bisa ia makan dengan mudah. Hanya saja, beda nya Briyan lebih rakus dalam hal makanan.