Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 61


__ADS_3

Benar saja, roti-roti ini masih utuh di dalam etalase. Aku menghela nafas panjang, nyali ku seakan menciut, hanya kata-kata Briyan yang menjadi penyemangatku. Ia mengatakan padaku jangan terkejut apabila seminggu pertama belum ada pembeli. Karena seperti itu lah dulu awal dia merintis karir nya, begitu juga dengan ayah dan ibu nya.


Aku memasukannya ke dalam paper bag satu persatu. Untung saja hari ini aku tidak membuat terlalu banyak, hanya ada 40 buah roti dan yang terjual hari ini ada 8. Jadi aku harus membagikan 32 roti lainya.


Drrrrtttt drrrrtttt drrrrtttt.


Ponselku bergetar, Briyan menelepon.


["Sayang, kamu masih belum pulang juga? apa mau aku jemput?"]


["Nggak, nggak perlu. Aku sudah menutup toko, tapi aku harus membagikan roti-roti yang tidak terjual hari ini. Aku akan pulang secepatnya."]


["Oh, begitu. Yasudah, berhati-hatilah di jalan."]


["Ya.]


Di sepanjang jalan aku berusaha mencari seorang tunawisma ataupun orang-orang yang nampak membutuhkan makanan. Aku berhenti di sebuah taman kota.


Kuamati dengan seksama setiap orang yang berada di sana. Ada seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk menemani anaknya bermain. Anak perempuan itu nampak sangat senang bermain di sana. Akan tetapi wajah lelaki itu nampak sangat murung.


Aku mencoba mendekatinya, dan menawarkan sekantong plastik roti. Awalnya ia menolak, raut wajahnya nampak ragu. Tetapi aku menjelaskan bahwa roti ini gratis untuknya karena ini hari pertama aku membuka toko.


Akhirnya dia menerima roti yang ku bawa, aku juga memberikan 1 kantong roti lagi padanya. Ia nampak sangat senang menerimanya. Akan tetapi, masalah baru muncul.


Baru saja ia memakan beberapa potong roti, ia nampak kebingungan dengan air minum.


"Ayah, itu di sana ada penjual minuman. Aku mau minum es, ayah!" Ucap anak perempuan itu bersemangat.


Tapi, riang wajah si anak tak sama dengan raut wajah ayahnya semakin murung dan bingung. Agaknya si ayah tak memiliki uang untuk membeli minuman itu. Aku mendekati si anak perempuan.


"Ayo, kita beli es! Kakak juga mau."


"Yey! beli es..!" Si anak sangat gembira.


Kami berdua berjalan berdampingan sampai di penjual minuman. Si anak memilih es yang sama dengan ku. Sejujurnya minum es malam-malam begini bukan hobi ku, tapi apalah daya.

__ADS_1


Aku membelikan beberapa minuman untuk mereka. Aku juga memberikan anak perempuan itu uang 300 ribu. Aku hanya mengatakan uang itu untuk dia membeli jajan.


Semoga saja uang itu bisa sedikit membantu ayahnya, siapa tahu ia sedang kebingungan karena tidak memiliki uang. Setelah itu aku langsung menuju motor ku dan bergegas pulang.


Karena masih ada 2 kantong roti, aku menuju wisma untuk memberikannya pada Merry dan satpam yang berjaga di gerbang wisma. Briyan berkali-kali menelpon ku.


["Sabar sayang, aku masih di wisma. Aku akan segera pulang."] Ucapku pada Briyan.


Setelah melalui hari yang panjang, akhirnya aku sampai ke rumah dan langsung istirahat di kamar.


Nenek tiba-tiba masuk ke kamar ku. Ia membawakan ku potongan makanan kecil yang baru ia pesan melalui telpon.


"Apa ini nek?"


"Ini kue lumer yang di buat oleh koki handal ala restoran bintang lima." Ucap nenek sambil tersenyum.


"Terima kasih nek."


Nenek berbalik keluar dari kamarku. Briyan mendekatiku dan bertanya.


Aku kembali berbaring di kasur. "Mana mungkin nenek memarahiku, lihat saja nenek membawakan roti spesial untuk ku."


Briyan tersenyum mendengarnya.


*********


Keesokan hari.


Aku kembali membantu memasak di dapur. Di menu masakan keluarga ini tak pernah ketinggalan sayur rebus. Pagi ini masakannya sangat menggoda ku, sup ikan gurame. Sebagian orang mungkin tidak menyukainya, akan tetapi syukurlah selera ku tak pernah menubruk di keluarga ini.


Sayur hijau rebus yang selalu eksis di meja makan, ikan laut kukus, tumis capcay kesukaan ayah Briyan dan bubur ayam untuk kakek. Semua sudah tersedia dan sarapan. Hanya obrolan kakek, nenek, ayah dan ibu Briyan yang terdengar di meja makan. Selain mereka semuanya hening.


"Aku mau bubur ayam ini di beri kuah sup ikan gurame." Ucap kakek menyodorkan piring nya kearah ibu Briyan.


Ibu Briyan segera menyodorkan piring kakek ke dekatku.

__ADS_1


"Tambahkan kuah sup untuk kakek." Pinta ibu Briyan.


Tentu saja, panci sup itu tepat di hadapanku. Aku segera mengambilkannya untuk kakek dan kembali menyodorkan dengan pelan ke ibu Briyan.


Briyan hari ini tidak menyentuh sup, capcay ataupun sayuran. Ia malah memilih makan bubur ayam milik kakek.


"Sa—sayang, itu kan punya kakek." Aku mengingatkan Briyan. "Memangnya kamu lagi sakit gigi?"


Briyan menggeleng. "Kebetulan dari kemarin aku membayangkan bubur ayam." Ucapnya santai. Untung saja ART sudah memisahkan ayam goreng suwir di dalam mangkuk. Dengan cepat Briyan menaburkan suwiran ayam ke atas bubur ayamnya.


Aku terus memperhatikan Briyan makan. Ia nampak bersemangat. Aku yakin berat badannya sudah bertambah lagi. Mungkin aku harus mengajaknya berolah raga teratur agar dia lebih langsing dan sehat.


Selesai makan, rumah kembali sepi, karena kami sibuk bekerja. Hanya ada kakek dan nenek yang nampak menikmati jalan-jalan pagi mereka.


Aku bergegas pergi ke toko. Di sana dengan cepat aku menyiapkan segala alat dah bahan. Aku merasa seakan aku sedang dikejar sesuatu, harus menyelesaikan semua roti ini dengan cepat. Meskipun sebenarnya satu pelanggan pun belum tentu ada yang datang hari ini.


Aku menghela nafas panjang. Baiklah, mungkin pagi ini aku akan memanggang sedikit roti saja. Aku memanggang 2 loyang yang berisi 12 buah roti. Tidak banyak, tapi aku akan memasaknya secara berkala.


2 jam kemudian tak ada tanda-tanda pembeli. Aku hanya memanaskan roti yang sudah matang tadi. Tiba-tiba seorang pembeli datang.


"Apakah rotinya sudah matang?" ia bertanya padaku.


"Sudah, silahkan pilih variannya pak. Karena belum buka, pilihannya masih sedikit, silahkan pak!" Aku mengeluarkan roti yang masih hangat dari dalam oven.


"Aku mau semua yang masih hangat itu." Ucapnya menunjuk roti yang ku bawa.


"Ma'af pak, tapi roti hangatnya hanya ada 6 buah. Apakah anda mau menambahkan lagi?"


"Boleh juga, aku mau yang masih hangat 10 buah." Ucapnya sambil mencari tempat duduk untuk menunggu.


"Baik pak, silahkan tunggu sebentar."


Aku kembali menghangatkan roti yang baru saja aku keluarkan. Karena sudah aku hangatkan, aku takut roti itu akan gosong. Untuk menghindari roti itu menjadi gosong, aku menggunakan api kecil untuk menghangatkannya.


Setelah 10 menit kemudian, pembeli itu pergi dengan membawa semua roti yang dipesannya. Aku sungguh beruntung pagi ini, semoga keberuntunganku bertahan sampai mati malam dan seterusnya.

__ADS_1


Aku kembali memanggang roti, kali ini aku memanggang agak banyak. Sekitar 40 buah roti dan tanpa kuduga, 2 pembeli datang dan hampir menghabiskan roti yang ku masak. Akhirnya aku kembali memanggang untuk ketiga kalinya.


__ADS_2