Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 56


__ADS_3

Pagi-pagi sekali aku sudah mencuci buah-buahan yang kubeli tadi malam, dan segera meletakkannya di meja. Seorang ART di rumah itu membuatkan jus apel untuk kakek.


Aku berusaha beradaptasi di sini, setiap menu masakan yang mereka buat selalu kuingat, dan juga bumbu-bumbu yang mereka gunakan.


Pagi ini menu sarapan hampir sama dengan kemarin. Nasi putih, nasi merah, kentang dan wortel rebus, lalapan selada, tomat, timun. Sup daging dengan kaldu jamur, kemudian ikan laut kukus.


Aku juga ikut andil dalam memasak, meskipun para ART tersebut selalu mengatakan untuk tidak ikut memasak, tetapi aku selalu memaksa mereka dengan dalih Briyan yang memintaku menyiapkan sarapan.


Setelah semuanya matang, kami semua makan bersama. Aku khawatir nenek akan memarahiku lagi nanti, untung saja aku dapat shift pagi hari ini. Aku meminta Briyan untuk mengantar dan menjemput ku.


Hari ini, aku akan mencabut laporan ku pada Sena di kantor polisi agar dia terbebas. Bagaimanapun juga dia adalah adik ku, aku juga tidak tega membiarkannya kedinginan di dalam sel.


Meskipun begitu aku tidak akan memberikan kasihan ataupun kesempatan lagi padanya. Sena dikeluarkan dari sel, wajahnya nampak sangat frustasi. Aku juga masih diberikan beberapa pertanyaan pada polisi.


Setelah beberapa saat, aku dan Sena diperbolehkan pulang.


"Sekarang pulang lah, ayah dan ibu menunggu mu." Ucapku pada Sena.


"Kehidupanku bukan kakak yang mengatur atau yang bertanggung jawab." Sena menatap tajam padaku.


"Oh, begitu? kalau begitu selanjutnya terserah padamu." Aku beranjak dari hadapannya.


"Kenapa kamu nggak membebaskan Ben?!" Sena berteriak padaku.

__ADS_1


Ingin sekali wajahnya ku pukul nya hingga dia sadar. Akan tetapi aku berusaha tetap waras menghadapi adik ku yang b***h ini.


"Kenapa nggak kamu tanyakan pada pak polisi di dalam sana?" sahut ku santai sambil terus berjalan menuju mobil Briyan.


Aku tak tahu sehancur apa hati Sena saat ini, apakah dia benar-benar dibutakan oleh cinta? pada lelaki yang sebenarnya masih banyak lelaki di luar sana yang lebih baik dan mau menerimanya.


Aku dan Briyan berlalu dari hadapannya, bahkan Briyan juga tak berani berkata apapun melihat kondisi Sena yang begitu emosi melihat ku. Beberapa polisi mendekatinya dan mencoba menasihatinya.


Briyan mengantarkan ku ke tempat pekerjaanku.


"Sayang... aku khawatir pada adik mu Sena."


"Aku juga, tapi... aku ingin dia menyadari kalau laki-laki pilihannya itu tidak benar."


"Yang pasti, dia bisa membimbing istrinya kepada kebaikan. Dan yang pasti punya sopan santun, tidak seperti Ben.... aku heran, kenapa Sena dibutakan seperti itu."


"Aku harap kalian segera berbaikan nanti, jangan terlalu berlarut-larut. Kalian itu saudara sesama perempuan."


Aku menghembuskan nafas kasar mendengar ucapan Briyan. Setiap saat hanya dialah yang selalu mengerti diriku, dan selalu menasihati ku tanpa ragu.


"Terima kasih." Aku mengatakan itu pada Briyan.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Kamu selalu bisa membuatku tenang dan nyaman."


"Jangan terburu-buru berterima kasih dulu, simpan saja terima kasih itu kalau kamu sudah memberikan aku putra dan putri." Ucap Briyan sambil terkekeh mengatakan itu.


Dasar laki-laki ini, selalu saja bercanda di saat yang tidak tepat. Batin ku berbicara.


Tak berapa lama kami hampir sampai di mall.


"Sayang, turunkan aku di sini saja." Aku menyuruh Briyan menghentikan mobilnya.


"Kenapa?" Briyan menepikan mobilnya.


"A—aku nggak mau kelihatan teman-temanku naik mobil mahal ini."


"Apa??" Briyan kebingungan dengan perkataan ku. "Memangnya kenapa?"


"Karena... itu karena... mereka marah nggak dapat undangan pernikahan kita. Aku cuma bisa bilang kita menikah sederhana dan kamu cuma bekerja sebagai buruh." Entah apa yang sudah aku katakan sekarang, tapi aku benar-bemar tidak mau teman-temanku melihat aku turun dari mobil ini.


"A—apa?? sayang... tega sekali kamu bilang aku cuma karyawan buruh??"


"Ma'afkan aku...." Aku memasang ekspresi wajah kecut pada Briyan.


"Hah, kamu itu.. ada-ada saja. Yasudah cepat turun, hati-hati di jalan. Jalan ini masih agak jauh ke depan sana." Ucap Briyan geleng-geleng mendengar perkataan ku.

__ADS_1


"Oke, makasih pengertian mu sayang."


__ADS_2