Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 65


__ADS_3

Aku dan Briyan bernyanyi-nyanyi kecil di dalam mobil. Suaraku yang agak cempreng terdengar tak sesuai dengan suara Briyan yang merdu.


"Sayang, kamu salah lirik." Protes Briyan.


"Ah! benarkah?!" Aku menjadi malu padanya dan menghentikan nyanyian ku.


"Kenapa berhenti?" Briyan menatapku datar.


"Suara ku sangat jelek, kamu saja yang menyanyi. Aku yang mendengarkan, oke?"


Briyan menambah laju mobilnya. "Pegangan! kita ngebut saja."


Bruuuuuummmmmmmmmmmm.


Aku terkejut karena Briyan menambah kecepatan mobil. Aku membuka sedikit kaca mobil agar angin malam bisa merembes masuk ke dalam. Angin malam ini terasa sangat kencang dan dingin, di luar juga sedang mendung. Mungkin hujan akan segera turun.


Setelah 15 menit kemudian, Briyan memperlambat laju mobilnya. Dari kejauhan nampak lampu terang benderang di pinggiran jalan. Lahan parkir juga sangat padat karena banyaknya pengunjung.


Briyan memarkir mobil, kemudian kami berdua segera memasuki area taman. Tak ada karcis berbayar atau sejenisnya. Briyan menggandeng tangan kiri ku, kami berjalan beriringan diantara padat nya pengunjung.


Aku terpana melihat pemandangan di taman ini, sungguh luar biasa. Lampu taman yang indah menghiasi setiap sudut taman. Sepanjang taman juga terdapat payung hias yang menggantung berwarna warni layaknya lampu taman.


"Sayang.. lampu-lampu taman ini luar biasa." Ucapku yang begitu terpana dengan pemandangan di hadapanku. Setiap langkah kaki ku tak pernah luput dari panorama-panorama luar biasa.


"Ini belum seberapa, jalan saja terus ke depan, masih ada banyak yang akan membuatmu kagum di depan sana."


"Benarkah?"


Aku dan Briyan berjalan lurus kedepan. Ada banyak sekali pengunjung yang datang malam ini. Mereka rata-rata ingin berfoto di taman yang indah ini.


Beberapa meter kedepan, kami di suguhkan dengan pemandangan taman bunga dan bonsai, layaknya pameran. Namun sayang, Anak-anak dilarang masuk ke sana. Jadi pengunjung di sana rata-rata adalah remaja perempuan. Mereka nampak sibuk berfoto.


"Sayang, sepertinya di sini tidak boleh membawa makanan?" tanyaku pada Briyan.


"Ya, memang tidak boleh. Lihat ada tulisannya di ujung sana." Briyan menunjuk sebuah plang di ujung taman." Tempat makan ada khusus di depan sana."


Lampu-lampu hias berbeda bentuk dan warna dari yang sebelumnya. Nampak sangat unik bagi siapapun yang memandangnya.


"Sayang, taman ini pemborosan energi. Di mana-mana ada lampu taman, memang indah. Tapi nggak bagus kalau terlalu banyak begini." Ucapku sambil terus memperhatikan lampu-lampu hias di taman.


"Ha ha ha ha ha, kenapa harus boros energi.. lampu-lampu ini semuanya menggunakan energi surya alias matahari. Pada saat siang dia akan menyerap, malam hari dia keluarkan layaknya lampu listrik yang biasa kita gunakan. Kamu nggak perlu khawatir tentang tagihan listrik nya.. ha ha ha ha."


Briyan menertawakan kebodohanku. Itu membuatku jadi malu, rupanya ada banyak hal yang sebenarnya aku belum mengetahuinya.

__ADS_1


"Jadi, dimana taman anak-anak dan lansia yang kamu ceritakan?"


"Ada di paling ujung jalan. Lebih baik kita berhenti dulu untuk makan sesuatu, sebentar lagi kita sampai si restoran terbuka." Ucap Briyan.


Kedengarannya sangat wow, aku menjadi penasaran dibuatnya. Kami terus berjalan kedepan hingga mendapati lampu taman yang berbeda warna dan bentuk. Kali ini lampunya sangat terang, lebih terang diantara lampu yang lain.


Aku dan Briyan berkeliling melihat-lihat makanan yang sedang dijual di sana. Semua penjual di sana mengenakan celemek yang sama layaknya koki restoran sungguhan.


"Sayang, lihat... apa itu ayam panggang?" tanyaku pada Briyan.


"Ya... sepertinya ayam panggang, dari penampilan kelihatan sangat menggiurkan." Briyan juga memperhatikan ayam panggang yang aku maksud.


"Sayang, ayo beli ayam panggang itu. Aku mau..."


Briyan menatapku sambil tersenyum lebar. "Sana cepat beli!" Briyan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan memberikannya padaku.


Dengan cepat aku memesan ayam panggang yang masih panas. 3 potong ayam panggang ku tenteng dengan tangan kanan ku.


"Ayo lihat lagi ke sana!" Ajak Briyan.


Kami kembali berjalan. Beberapa meter kemudian ada koki yang sedang memasak mie goreng, Briyan terfokus pada mie tersebut.


"Sayang, beli mie itu 2 porsi!" Briyan memerintah ku.


Aku kembali berjalan memesan mie goreng yang Briyan mau. Namun sayang, titik-titik air mulai turun membasahi setiap inci di taman itu.


"Sayang, ayo beli air minum! setelah itu kita beristirahat di pondok sebelah sana!"


"Ya!"


Aku berlari kecil membeli air minum dan kami berdua bergegas pergi ke pondok agar tidak kehujanan. Kami berjalan cepat sekitar 5 menit, barulah kami tiba di pondok taman yang sudah tersedia.


Hujan turun sangat lebat. Hingga sebagian taman dengan cepat tenggelam beberapa centi meter. Aku dan Briyan duduk melahap makanan yang baru saja kami beli.


Kami duduk berdempetan dan setengah meringkuk karena kedinginan. Kami berdua bahkan tidak memakai atasan panjang. Dingin begitu menusuk, dan angin yang berhembus kencang membuat kulit menjadi merinding.


"Sayang... hujan ini kelihatannya akan lama, bisa-bisa kita kedinginan berjam-jam di sini." Ucapku masih memakan mie goreng dan ayam bakar.


"Semoga saja hujan ini segera berhenti. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini."


Raut wajah Briyan nampak cemas. Begitulah dia, selalu konsisten dengan pekerjaannya. Tak pernah sedikitpun ia lalai dalam mengerjakannya meskipun ia sedang sakit.


Pemandangan taman malam ini menjadi pemandangan yang mengenaskan. Beberapa pengunjung kelihatan berlari dengan pakaian yang basah kuyup. Sebagian lagi tidak sempat menyelamatkan barang dagangan hingga membuat barang dagangannya basah kuyup dan sebagian lagi terbang di bawa angin.

__ADS_1


Beberapa tangisan anak kecil juga terdengar dari kejauhan, sepertinya anak itu ketakutan dengan hujan yang semakin lama semakin deras ini.


Air mulai tinggi menggenangi tanah, dan air di selokan pembuangan mengalir sangat deras. Tiupan angin membuat pohon-pohon di pinggiran jalan bergoyang hebat.


Briyan memelukku dari belakang, dan aku memeluk tangannya. Siapapun yang melihat ini sudah tidak aku perduli kan lagi. Karena kami tengah kedinginan.


"Sayang... aku bisa beku kalau terus di sini." Briyan mulai gemetar.


"Aku juga..." sahut ku.


"Sayang.....?"


"Apa?"


"Aku....."


"Apa?"


"Sayang, aku mau jujur padamu. Boleh?"


Aku terkejut mendengar pertanyaan Briyan.


"Apa? katakan saja."


"Sayang... aku mau jujur padamu, sebenarnya aku...."


Duk!!


Aku menyikut Briyan.


Augghhh!!


Briyan merintih kesakitan.


"Cepat katakan! sebenarnya kamu mau bilang apa?!" Kesabaran ku mulai habis melihat kelakuan Briyan.


"Sayang... kenapa kamu menyikut ku?? aku cuma mau bilang, aku kebelet buang air kecil... kamu membuatku semakin kebelet." Ekspresi Briyan saat itu benar-benar kesakitan menahan keinginan buang air nya.


"Ma—af."


"Aku sudah nggak tahan, aku mau buang air dulu." Briyan mencari tempat di pojok pondok. Rupanya ia sudah melihat keadaan ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada yang mengintipnya.


Aaaaggghhhh!

__ADS_1


Ekspresi Briyan lega dan bergidik setelah berhasil buang air kecil. Ia kembali dengan wajah tersenyum kecut padaku.


__ADS_2