Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 38


__ADS_3

Tak ku sangka, hari pernikahan kami telah tiba. Aku masih di meja rias di depan cermin. Perias ku masih orang yang sama dengan hari pertunangan ku.


Di hadapanku penuh dengan make up mahal yang tak pernah sedikitpun terbayangkan untuk membelinya.


"Wajah kamu pucat, nggak seperti kemarin. Kamu sering begadang??" tanya si perias padaku.


"Ya hampir tiap malam aku begadang, karena aku bekerja di mall."


Si perias mulai membersihkan wajahku, aku tak menanyakan lagi produk apa yang dia gunakan. Karena aku hanya akan di ejek olehnya lagi.


"Wajah kamu nggak segar seperti kemarin, tapi aku akan membuat riasan uang dress untuk kamu.. kamu tenang saja." Ucapnya dengan nada banci nya.


"Dewi! wajah kamu pucat jangan-jangan karena kamu hamil kan?? ayo jawab jujur!"


Aku tak menoleh padanya, juga tidak menyahut perkataannya. Suara yang begitu familiar dan yang selalu membuatku kesal.


"Ayo jawab, kalau kamu hamil ibu akan membuat dia membayar lebih! katakan, apa dia membuatmu hamil duluan??!"


Braakkk!!!!


Aku menggebrak meja dengan kedua tanganku dan menatap tajam padanya.


"Dia nggak perlu membayar mu meskipun aku hamil!!"


Tatapan kami bertemu dengan penuh kebencian. Dan tak ku sangka kejadian memalukan itu dilihat oleh Briyan dan Bu presdir.


Briyan dan bu presdir hanya terdiam melihat kejadian tersebut. Aku tak dapat menahan kekesalan dan kesedihan ku. Air mata ku hampir tumpah tapi aku berusaha menahannya.


Ibu ku pergi dari hadapan kami dan melemparkan tatapan sinis pada Briyan dan bu presdir. Aku merasa sangat malu. Bahkan aku tak ingin mengangkat wajahku.


Bu presdir nampak memperhatikan segala persiapan. Ia juga menanyakan ini dan itu pada perias untuk memastikan segalanya sudah siap. Lalu dia pergi begitu saja.


Briyan mendekatiku dan membawakan cincin pernikahan kami.


"Ini, cincin pernikahannya tertinggal di saku pakaian ku."

__ADS_1


Briyan mengenakan cincin itu di jari tengahku, aku masih enggan untuk mengangkat wajahku. Aku berharap Briyan segera berlalu, akan tetapi dia malah menarik kursi di dekat nya dan duduk di sampingku.


"Dewi, berusahalah untuk meredam emosi mu. Jangan sampai kamu mempermalukan dirimu sendiri nantinya."


Aku menghembuskan nafas kasar. "Aku nggak mempermalukan diriku sendiri Briyan, tapi aku yakin suatu saat nanti dia akan mempermalukan keluargamu."


Si perias terus merias wajahku, berusaha seolah tak mendengar pembicaraan kami.


"Dia kan nggak tahu aku orang kaya, dia hanya tahu aku orang sederhana. Aku yakin kalau dia tahu dia akan lebih menghargai ku dan orang tuaku." Ucap Briyan tersenyum berusaha menghiburku.


"Kalau dia tahu kamu orang kaya, aku yakin dia akan berusaha memeras mu."


"Coba saja kalau berani... ha ha ha ha." Briyan membalas ku dengan tertawa. "Ini hari bahagia kita Wi, jadi jangan rusak semua ini dengan wajah cemberut mu... aku mau dengar kamu katakan saat ini, I love you."


"Apa??"


"Katakan saja, i love you... aku mau dengar."


"A—apa? em... nanti saja ya."


"Nanti?"


Ekspresi Briyan berubah, dia berdiri dan menyingkirkan kursinya.


"Nanti, oke... janji ya, nanti aku mau dengan kata itu."


Aku mengangguk dengan ragu, lalu Briyan pergi dengan senyuman di bibirnya.


Aku begitu terharu dengan suasana resepsi pernikahanku. Bapak dan bu presdir benar-benar menghargai keputusanku.


Mereka semua nampak mengenakan pakaian dan riasan sederhana. Bahkan untuk menutupi segalanya, Briyan sengaja membeli rumah kecil ini. Rumah yang tak ada artinya bagi Briyan, akan tetapi dimata ayah dan ibuku rumah ini sangat mewah.


Rumah tipe 60 ini adalah rumah pilihanku, sebenarnya Briyan ingin yang lebih besar. Akan tetapi aku melarangnya.


Resepsi pernikahan telah usai dengan suasana sangat sederhana. Seperti yang aku inginkan. Bapak dan bu presdir langsung pulang setelah acaranya usai.

__ADS_1


Sedangkan kami semua masih di sini.


"Hebat juga kamu Briyan, dengan pekerjaanmu yang hanya sales roti dengan gaji 1,8 juta bisa menikahi puteriku dengan mewah begini." Ucap ayahku dengan nada senang. Ia menyalakan tv sambil makan dengan gaya duduknya kaki ditekuk dan satunya berselonjor.


Briyan ingin memesan beberapa perlengkapan rumah seperti sofa, akan tetapi aku juga melarangnya.


Begini saja keluarga ku sudah senang. Akan tetapi kebohongan ku tak cukup sampai di situ.


"Briyan, ibu ingin kamu membelikan rumah seperti ini suatu saat nanti. Kamu harus rajin menabung." Ucap ibuku, ia mengambil duduk tepat di samping ayahku.


"Betul itu nak, menyewa di kost terus cuma akan menghabiskan uang kalian. Masih untung keluargamu mau meminjamkan rumah ini untuk resepsi pernikahan kalian. Kedepannya kalian harus bisa memiliki rumah sendiri."


"Dewi, ibu berharap kamu mendapatkan suami yang lebih mapan. Tapi... ya sudahlah, mungkin Briyan memang jodohmu. Padahal ibu mau kamu membiayai adik-adik mu Sena dan Melati. Tapi, kamu malah keburu menikah. Bahkan selama bekerja kamu juga nggak pernah mengirim kami uang, apa kehidupanmu di kota seburuk ini Dewi...??"


Gendang telingaku hampir pecah mendengar ayah dan ibu mengoceh. Kalau bukan karena aku menikah, aku nggak akan memanggil mereka kemari.


Kemarahan ku masih membara hingga saat ini. Aku tidak akan pernah lupa beberapa tahun yang lalu ibu tega menjual ku pada temannya. Beruntung aku berhasil melarikan diri. Sejak saat itu aku tidak pernah kembali ke sisi keluargaku lagi. Di dalam pikiran mereka hanya ada uang, tanpa mereka memperdulikan aku atau adik-adikku.


Dan yang membuatku terpukul adalah, kedua adik perempuanku mewarisi sifat dan bakat ibu dan ayahku. Semakin lama aku tinggal bersama dengan mereka semakin membuat amarahku akan meledak.


"Kakak, kamu nggak pernah pulang selama bekerja. Padahal aku merindukan kamu kakak. Sekarang kamu malah sudah menikah." Ucap Sena duduk di sampingku dan Briyan.


"Terus memangnya kenapa??" tanyaku padanya.


Briyan menatapku dengan tatapan heran.


"Aku juga mau punya suami tampan seperti kak Briyan, putih dan matanya sipit... padahal pekerjaan kak Briyan sales, tapi wajahnya putih bersih kayak pekerja kantoran."


Degh!


Adik ku ini benar-benar membuatku jantungan dibuatnya. Aku dan Briyan bertatapan sejenak.


"Benar juga Briyan, kamu sangat putih dan bersih seperti pekerja kantoran. Apa benar kamu bekerja sebagai sales?" tanya ibuku dengan penuh heran dan curiga.


"Iya Bu, pekerjaan ku sales... hanya saja aku dipindahkan ke bagian pergudangan belum genap sebulan ini. Di dalam gudang sangat dingin, kami jarang terpapar sinar matahari. Bahkan beberapa staf gudang di sana memiliki kulit yang sangat pucat seperti mayat." Sahut Briyan santai.

__ADS_1


"Oh, begitu... nggak terkena sinar matahari mengerikan juga." Ibu manggut-manggut mendengarnya.


Aku merasa lega Briyan bisa menanganinya dengan sangat mudah. Kecurigaan ibu sudah mendapatkan jawabannya.


__ADS_2