Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 24


__ADS_3

Pukul 11 malam aku pulang ke wisma, aku membuka kunci kemudian menutupnya kembali. Ku lihat Merry sudah tertidur pulas. Mataku mengantuk sekali, akan tetapi perutku sangat lapar. Kalau aku langsung tidur, makanan yang Merry masak akan jadi sia-sia.


Jadi aku ke dapur dan mengambil piring untuk makan. Ku buka wajan, ternyata Merry memasak sup jamur. Aku mencicipi sedikit kuahnya, rasanya lumayan enak. Aku menghangatkannya terlebih dahulu sebelum memakannya.


Setelah itu, barulah aku masuk ke kamarku. Aku sudah sangat mengantuk hingga tanpa terasa aku sudah berada di alam mimpi. Akan tetapi, kali ini aku memimpikan Briyan.


Kenapa malam ini Briyan hadir di mimpiku?


Ku rasa, aku mulai memikirkannya.


*******


Keesokan pagi, aku benar-benar tak menyadari sudah sangat siang. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Merry juga sudah berangkat. Dia bahkan tak membangunkan ku sama sekali.


Aku merasa pusing, jadi aku pergi mandi untuk menyegarkan badan. Selesai mandi, di luar wisma sedang terjadi keributan. Suara keributan tersebut memancingku untuk keluar.


Aku mengintip dari balik tirai gorden, kulihat Briyan di bawa paksa oleh beberapa orang bertubuh agak kekar. Jantungku seakan hendak copot melihat pemandangan tersebut.


Sean, kemana dia? aku berlari ke teras melihat ke arah kamar kost Sean, aku tak bisa menemukan nya ataupun mobilnya. Aku kembali masuk ke dalam mengambil kunci motor sambil mengirim pesan suara kepada bu presdir.


[Hallo, bu presdir! Briyan sepertinya di culik! aku sedang berusaha mengejarnya. Tolong kami!]

__ADS_1


Aku menyalakan sepeda motor dan bergegas mengejar mereka. Mobil mereka terpisah jarak lumayan jauh dariku. Aku terus berusaha mengejarnya dan tetap fokus.


Kulihat sesekali mobil mereka oleng, karena mungkin Briyan berontak. Aku terus mengikuti mereka dengan kecepatan tak lazim 100 km/jam hingga melewati perbatasan kota.


Aku sendiri merasa tak yakin dengan apa yang ku lakukan, tetapi aku tak bisa membiarkan mereka membawa Briyan. Apalagi sampai melakukan hal yang membahayakannya, tidak!


Sekarang kami sudah berada sangat jauh dari kota. Kemana kah mereka akan membawa Briyan? aku yakin saat ini jarak tempuh kami sudah 100 km lebih.


Kami memperlambat laju kendaraan karena memasuki kawasan perdesaan. Aku menggunakan kesempatan itu untuk mengirim lokasi pada bu presdir. Aku harap dia segera membawa bantuan.


Mobil sudah tak pernah oleng lagi seperti sebelumnya. Apakah Briyan pingsan?? pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di benakku.


Aku yakin sekarang kami sudah melewati perbatasan desa lagi. Kini kami berada di area perbukitan. Aku hanya berharap mereka tak menyadari aku sedang membuntuti mereka. Di sepanjang perjalanan hanya ada 2 pemotor saja. Dan beberapa mobil angkutan dan truck.


Karena ada banyak lobang curam, mobil tak begitu melajukan kecepatannya. Ada beberapa mobil dan pemotor juga yang melintas di sana. Sepertinya jalan ini ketika hujan turun akan berubah menjadi lautan lumpur dan lobang. Kalau tidak berhati-hati, habislah sudah.


Aku sudah tak memperdulikan pekerjaanku yang terbengkalai. Aku yakin sekarang sudah sekitar pukul 2 siang dengan melihat tingginya matahari.


Sekitar 50 km lebih kami menempuh perjalanan tanah kuning yang berdebu, kini kami tiba di persimpangan lagi. Kami mengambil arah ke kanan, di sana hanya ada hutan. Aku berusaha mengambil jarak agak jauh agar mereka tidak curiga. Lagipula, kecepatan mereka sekarang terbatas oleh perjalanan yang semakin sempit dan dikelilingi pepohonan yang lebat.


Aku melihat dari kejauhan ada sekelompok orang yang menghadang mereka. Kemudian mobil berhenti. Dengan segera aku menyingkirkan sepeda motor ku, ku sembunyikan di balik pepohonan dan rumput.

__ADS_1


Aku berjalan kaki mengendap-endap. Sialnya, di sini banyak nyamuk dan aku baru sadar hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong.


Aku mengendap-endap dan bersembunyi di balik pepohonan. Dari kejauhan aku melihat di sana ada persimpangan lagi. Akan tetapi aku tak dapat melihat mobi yang membawa Briyan. Ada beberapa kelompok orang yang sedang minum dan main kartu.


Tempat itu seperti sebuah pabrik dan masih beroperasi. Tapi aku tak tahu pabrik apa itu. Kenapa ada pabrik di hutan terpencil seperti ini?


Aku duduk di bawah pohon, aku mengambil ponselku dan mengubah setelannya menjadi getar. Kemudian kulihat bu presdir mengirim pesan padaku dan beberapa panggilan suara tak terjawab. Aku lihat juga beberapa nomor baru. Sial sekali di sini tak ada sinyal. Aku berusaha mengirim lokasi terbaru ku akan tetapi gagal. Sial!


Kulihat daya ponsel ku juga hanya tersisa 30%, aku memandangi penampilanku saat ini. Apakah aku akan mati di sini? kalau aku pulang sekarang, entah bensin di tangki ku cukup untuk kembali atau tidak. Apakah aku harus pulang dan menyelamatkan diriku sendiri? apa yang akan terjadi jika aku tertangkap?


Aku hampir menangis membayangkan semua itu. Aku berusaha mencari jalan masuk ke dalam. Sebelum hari semakin gelap, aku harus bisa masuk ke dalam untuk berteduh. Tidak mungkin aku akan terus di luar sini dengan pakaian seperti ini.


Aku mengintari sekeliling bangunan pabrik itu mencari celah untuk masuk. Hasil pembakaran dari pabrik menimbulkan bau menyengat yang sangat membuatku mual.


Setelah satu jam mengintari bangunan, aku melihat di pintu belakang ada beberapa truck yang sedang mengantri. Sepertinya itu adalah kelapa sawit. Apakah ini pabrik kelapa sawit? tetapi kenapa hasil pembakarannya menimbulkan bau menyengat tak sedap?


Di seberang antrian truck ada sebuah celah. Aku yakin bisa masuk melalui celah itu, meskipun aku tidak yakin apa yang ada di balik sana.


Aku berusaha menyeberang dan memasuki celah. Celah itu adalah tembok berlubang besar. Sepertinya dulu pernah terjadi ledakan, mungkin. Aku memasuki celah itu dan terus berjalan ke dalam. Dengan sangat hati-hati aku berjalan perlahan di lorong tempat celah ku masuk yang agak gelap. Dari sana bisa kulihat beberapa karyawan pabrik sedang bolak balik mengambil biji sawit. Sebagian lagi membawa ember cat berukuran besar, mereka membawanya menggunakan troli. Aku tidak mengerti pabrik apa ini, yang pasti bukan pabrik minyak goreng.


Aku terus berjalan maju ke depan hingga lorong itu habis. Di persimpangan sudah tak ada lagi tempat ku untuk bersembunyi. Bagaimana ini? apa aku tidak akan bisa menemukan Briyan?

__ADS_1


Aku bahkan tak tahu harus mengambil jalan yang mana. Namun, sesuatu menarik pemandangan ku. Di ujung lorong rupanya ada sebuah lemari usang dan kotor. Lemari itu penuh dengan kain lebar yang usang. Perlahan aku membuka setiap kotak lemari tersebut.


__ADS_2