
Aku masih tak percaya dengan hasil tea pack barusan. Perasaanku sekarang bercampur aduk, tidak tahu apakah senang atau berat hati.
"Terima kasih," ucapku pada 2 orang yang menurunkan lemari etalase. Mereka juga sudah menyusunnya di tempat persis yang aku mau.
"Ini, minuman untuk kalian," ucapku lagi.
Mereka menerima beberapa botol minuman yang ku beli di samping apotek. Mereka lalu bergegas pergi setelah mengucapkan terima kasih.
Ku lihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul 15.00. Waktu berlalu begitu cepat, sekarang mungkin hanya tersisa waktu membersihkan toko ini. Kaca depan toko juga sangat berdebu, padahal baru 2 hari tutup.
Waktu 1 jam cukup untuk membersihkan seluruh ruangan termasuk kaca pintu yang berdebu. Karena masih punya waktu, aku memasang tali jemuran di belakang. Masih ku ingat jelas tali ini ku gunakan untuk mengikat Sena.
Dimana kah sekarang adikku yang bodoh itu?
Aku hampir selesai memasang tali jemuran, tetapi seseorang mengetuk pintu. Aku menoleh ke luar akan tetapi tak dapat melihat siapakah yang datang.
Aku berusaha menyeleaaikan pekerjaanku dengan cepat. Setelah itu langsung beranjak keluar, akan tetapi Sena dan Ben sudah berdiri tepat di depan etalase.
Jangan etalase ku lagi, sialan!
Batin ku menjerit.
Aku berjalan santai menuju mereka. Raut wajah mereka nampak sopan tidak seperti sebelumnya.
"Kakak, aku ke sini mau minta ma'af atas kesalahan yang kubuat beberapa waktu yang lalu." Ben memulai percakapan.
Aku menatapnya. "Kamu nggak perlu minta ma'af padaku, minta ma'af lah pada ayah dan ibu mertua mu saja. Temuilah mereka secepatnya!"
Aku mengatakan 'mertua', yah meskipun mereka belum menikah. Dan itu cukup membuat hatiku tersayat. Sena bahkan tak berani menatapku, tubuhnya semakin kurus dan wajah nya pucat. Mungkin dia kurang tidur.
"Iya kak, aku akan segera menemui ayah dan ibu. Sekali lagi ma'afkan aku dan Sena." Ucap Ben tanpa ragu, dalam kalimatnya terdengar ada penyesalan.
"Ma'afkan perbuatanku kemarin kakak, aku sudah membuat onar di toko mu. Nggak seharusnya aku melakukan itu. Aku juga akan pulang dan meminta ma'af pada ayah dan ibu." Ucap Sena hanya menunduk.
Sena hanya melihatku sekilas.
__ADS_1
"Aku sudah mema'af kan mu. Pulang lah secepatnya, ayah pasti sudah menunggumu. Beberapa hari yang lalu ayah sudah keluar dari rumah sakit."
"Sakit?? apa ayah sakit??" tanya Sena seakan tak percaya.
"Iya, dia sakit. Tapi sekarang sudah pulang ke rumah dan keadaannya sudah lebih baik."
Aku tak ingin mengatakan semua hal padanya, ku biarkan ia tahu dengan sendirinya.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka berpamitan dan meninggalkan toko. Aku juga bersiap untuk pulang ke rumah. Perbincangan dengan adik perempuan ku begitu menegangkan seperti sedang perbincangan antara ibu dan anak tiri.
Hari semakin sore dan gelap, angin berhembus kencang. Di ujung pandang sebuah gulungan awan hitam siap menerjang cahaya menuju kegelapan.
Rintik mulai turun perlahan. Dengan cepat aku mengemudikan sepeda motor ku dan bergegas pulang.
*******
20 menit lebih beberapa menit aku tiba di rumah. Bergegas mandi dan menyiapkan makan malam. Briyan nampak santai di depan televisi dengan kopinya.
"Sayang, aku mau reques menu makan malam dong." Briyan menoleh padaku.
"Tolong bikin nasi goreng spesial, resepnya tanya saja ART di belakang."
"Oke."
Aku segera berbalik dan mengerjakan permintaan Briyan. Sejujurnya aku ingin sekali mengatakan tentang kehamilanku ini. Tapi, sebelumnya aku harus memastikannya terlebih dahulu dengan memeriksakan kembali ke dokter kandungan. Jadi, aku akan bersabar untuk ini.
Banyak orang bilang kalau hamil muda itu Indra penciuman dan perasa menjadi sangat tajam. Jadi, tidak menyukai bahan masakan berbau tajam. Bahkan sebagian orang tidak menyukai wewangian. Tetapi aku rasa Indra penciumanku tidak mengalami kendala apapun.
Aku bisa memotong bawang dan bumbu sesuka hatiku. Apakah aku ini benar-benar hamil? pertanyaan dan pikiran ku terus bergulat. Hingga aku tak menghiraukan panggilan nenek yang memanggilku sudah kesekian kali. Bahkan seorang ART sampai menepuk bahuku.
"Nenek memanggil anda..." Ucap ART yang umurnya sudah paruh baya sambil menepuk bahu ku perlahan.
Aku bergegas menemukan nenek.
"Nenek, ada apa?" tanyaku agak gugup.
__ADS_1
"Dewi... kamu kemana saja, nenek capek memanggilmu." Nenek menggeleng melihat ku yang datang tergesa-gesa.
"Ma'af nek aku nggak mendengar panggilan nenek."
"Ini, nenek carikan untuk kamu suplemen herbal yang nenek beli dari pantai dekat rumah nenek." Nenek memberikan tumbuhan laut kepadaku. Tumbuhan itu seperti rumput laut, tapi berwarna merah terang.
"Untuk apa ini nek?"
"Ini bagus untuk kesuburan, supaya kamu cepat hamil."
Aku terkejut mendengar perkataan nenek.
"Simpanlah di dalam kulkas, kalau mau mengkonsumsinya potong sedikit dan rebus dalam air mendidih selama 1 menit saja dan langsung di makan." Ucap nenek bergegas meninggalkan ku.
"Iya nek, terima kasih banyak ya nenek.."
"Ya." Sahut nenek yang sudah jauh beberapa langkah dari tempatku berdiri.
Aku ke belakang dan mencuci tumbuhan laut yang diambil nenek, kemudian memasukkannya ke dalam wadah dan menaruhnya ke dalam kulkas.
Nenek tidak tahu, betapa suburnya diriku dan Briyan. Belum memakan tumbuhan ini saja aku sudah hamil. Apalagi kalau aku memakan ini, mungkin anakku akan lahir kembar.
Fuuuhhhh!
Aku menghembuskan nafas kasar dan melanjutkan membuat makan malam. Seperti yang Briyan minta, aku membuatkan nasi goreng spesial untuk ya dengan resep ART yang selalu setia mengajariku memasak.
Setelah itu aku kami menyediakan semua makanan di atas meja dan makan malam bersama dengan hangat. Kebetulan sekali, Sean beserta ayah dan ibu nya berkunjung. Jadi, sekalian mereka juga ikut makan malam bersama.
Dapat ku lihat, ketegangan diantara ibu Briyan dan ibu Sean sudah mencair. Sebelumnya hubungan mereka nampak dingin.
Ibu Sean membawa makanan sea food yang ia beli di perjalanan menuju kemari. Jadi, menu makan malam ini semakin banyak di atas meja.
Kakek dan nenek nampak sangat bahagia melihat keluarga besar berkumpul malam ini. Kakek juga terlihat lebih ceria dari biasanya. Sesekali ibu Sean menyuapi kakek dan nenek. Ibu Sean juga membujuk kakek dan nenek untuk tidur bermalam di rumah mereka.
Kakek dan nenek menolak bujukan ibu Sean, karena mereka berdalih merindukan rumah mereka di pantai. Mereka akan kembali ke rumah di pantai besok pagi. Ibu Sean menjadi sedih karena beberapa kali mendapat penolakan dari kakek dan nenek.
__ADS_1
Suasana semakin hangat setelah Merry datang. Aku benar-benar tidak menyangka Merry akan datang malam ini meskipun terlambat. Semua menyambut kedatangan Merry dengan senang dan bahagia.