
Briyan menjemput ku di kostnya dan mereka pun melaju kencang diantara kendaraan lainnya. Malam ini sepertinya aku mungkin nampak cantik dengan balutan Hem berwarna krim dengan rambut agak panjang yang selalu terikat rapi. Aku juga mengenakan celana jeans berwarna hitam. Nampak serasi dan sederhana. Tak biasanya aku berias dan berpakaian seperti ini.
"Jadi, kita mau kemana hani?" tanya Briyan kepadaku.
"Aku mau ke pinggir pantai saja, aku suka pemandangan malam di sana," jawabku.
"Jadi, apa maksud kamu mengajak kita keluar malam ini? jangan bilang kalau kamu akan membatalkan surat kontrak kita." Tanya Briyan memandangku sekilas dan kembali menyetir.
"Nggak, bukan itu. Tenang saja."
"Jadi, tentang apa?" Briyan mulai penasaran.
"Cuma sekedar pertanyaan pendekatan, karena banyak yang harus aku tahu."
"Hmm, mengesankan. Cukup buat aku penasaran."
Kami berdua kini telah sampai di pinggir pantai. Pemandangan pinggir pantai pada malam hari cukup membuat siapa saja terpesona akan keindahannya. Angin sepoi-sepoi berhembus kencang membuat rambutku terbang kesana kemari, untung saja aku mengikatnya.
Beberapa pasangan kekasih juga terlihat sedang asyik mengobrol dan berfoto. Di sana terdapat beberapa penjual makanan. Nampak agak sepi pembeli.
"Lebih baik kita mengobrol sambil makan, bagaimana?" Tanya Briyan.
"Oke, ayo kita beli makanan dulu. Aku juga belum makan sejak pulang kerja."
Aku dan Briyan membungkus makanan kemudian mencari tempat duduk nyaman dipinggiran pantai. Di sana terdapat banyak bangku panjang.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Briyan antusias.
"Yang paling pertama ingin aku tanyakan adalah, kenapa kamu bercerita tentang aku kepada Merry seolah-olah kamu mencintai aku sungguhan? dan memintanya untuk menjagaku? apa aku terlalu penting untuk kamu?"
Briya diam sejenak kemudian tertawa kecut. "Jadi, itu mengganggu pikiranmu? hahahaha," ia kembali tertawa.
"Apa pertanyaan ku selucu itu?" tanyaku terheran-heran.
"Aku memang menyuruhnya untuk menjagamu, apa itu salah? lagipula kalian memang harus saling menjaga karena sekarang kalian tinggal bersama," ucap Briyan dengan ekspresi yang masih sama.
"Oh, begitu."
"Dan sepertinya Merry juga salah paham, yah.. salah paham yang memang aku buat sendiri."
"Apa maksudnya?" Aku bertanya penuh heran.
"Sebelum bertemu sama kamu aku menyukai seseorang, setiap hari aku selalu menanyakan kepada Merry perempuan itu. Hanya saja, Merry belum pernah melihat perempuan yang aku suka itu secara langsung, ataupun hanya sekedar melihat fotonya. Jadi Merry berpikir perempuan itu pasti kamu," ucap Briyan masih tersenyum penuh kegelian.
"Oh, begitu. Jadi selama ini Merry sudah salah paham."
"Ya, kamu benar."
"Jadi, kenapa kamu nggak menikah saja dengan perempuan yang kamu cintai itu? kenapa kamu memilih menikah kontrak denganku?"
__ADS_1
"Itu karena Ayah dan ibuku," ucap Briyan, kali ini ekspresinya berubah drastis, ia kelihatan sedih.
"Apa yang terjadi?"
"Ketika kamu saling jatuh cinta dan sangat ingin memiliki satu sama lain, tapi orang tua kamu tidak setuju dengan pernikahanmu. Itu sangat menyakitkan. Berbeda dengan pernikahan yang tak didasari dengan cinta, jika suatu saat harus kandas itu takkan menyakiti satu dan yang lainnya."
"Aku setuju, tapi berat hati menerima kenyataan kalau aku mungkin nanti akan jadi korban keluarga kamu."
"Kamu benar, karena itulah. Kita tak membutuhkan cinta." ucap Briyan dengan berat hati.
"Kedengarannya terlalu sadis," Aku menatap Briyan sekilas, dapat kulihat kesedihan dimatanya.
"Benarkah terlalu sadis?"
"Jadi, kenapa kamu repot-repot membuat pernikahan palsu sedangkan nanti aku akan menguras hartamu, seperti.. apartemen yang kamu janjikan, mobil mewah dan lain-lain. Kenapa kamu tidak menyendiri saja seumur hidupmu kalau kamu merasa memang tak membutuhkan cinta?"
"itu karena tuntutan kakek dan nenekku, mereka sangat ingin aku menikah. Karena aku hanya anak tunggal."
"Jadi, kenapa orangtua kamu menyiksamu dengan cara seperti itu? itu sama sekali nggak adil."
"Mereka berdalih ingin memiliki menantu yang hebat, yang mengerti bisnis, agar suatu hari kelak bisa meneruskan bisnisnya."
"Jadi, dimana salahnya para mantan kekasihmu itu?"
"Entahlah, aku rasa semuanya memang salah dimana orangtuaku."
"Jadi, setelah menikah nanti aku pasti akan mengalami hari-hari yang berat."
"Pilihan kamu memang benar, aku suka uang dan jaminan masa depan. Aku harap pilihanku nggak akan salah."
Briyan tersenyum mendengar perkataan ku. Malam itu kami bercerita banyak tentang pribadi kami masing-masing. Malam ini menjadi malam yang panjang untuk kami berdua.
Setelah perbincangan ku tadi malam bersama Briyan, aku menjadi lebih lega. Kini aku mengetahui alasannya dengan jelas mengapa ia ingin menikah kontrak denganku. Pagi ini aku bersemangat sekali, sampai-sampai aku melewati Merry begitu saja sambil bersiul.
"Kamu kelihatan bahagia sekali, kencan tadi malam pasti menyenangkan," ucapnya tersenyum padaku.
"Nggak juga, biasa aja. Ngomong-ngomong kamu masak sarapan lagi ya?" tanyaku membuka wajan dan panci.
"Iya, aku selalu masak setiap hari," ucapnya mengambil piring dari rak.
"Itukan merepotkan, kenapa kamu nggak beli saja di luar?" tanyaku penuh heran.
"Aku punya alergi sama penyedap rasa, makanya aku nggak bisa sembarangan jajan di luar." ungkapnya sambil mengambil masakannya dalam panci dan wajan.
"Repot juga hidup kamu ya Mer, selama aku tinggal di kota aku jarang sekali masak. Karena terlalu sibuk bekerja aku jadi ingin yang praktis terus."
"Kamu juga harus sarapan wi, jangan sungkan sama masakan ku. Makan saja apapun aku masak, oke?" kata Merry dengan senyumannya.
"Tapi, masak tanpa penyedap rasa kan cita rasanya beda. Jadi, kamu punya resep rahasia?" tanyaku dengan perasaan yang sangat ingin tahu.
__ADS_1
"Iya wi, aku diajarkan mamahku beberapa resep supaya masakan terasa sedap meskipun tanpa penyedap rasa."
"Apa resepnya? kasih tahu dong, besok mungkin aku akan masak sarapan buat kita berdua."
"Aku terbiasa menggunakan bawang merah goreng atau bawang putih goreng, kaldu ayam asli, kaldu jamur murni, merica dan lain sebagainya. Bumbu dapur itu semua mudah di temukan, aku cuma perlu stok banyak sebagai pengganti penyedap rasa," ucapnya sambil terus memakan sarapannya hingga suapan terakhir.
"Mungkin aku bisa mengintip kamu masak besok."
"Ya, tentu saja," sahut Merry.
Setelah selesai sarapan, kami berdua bersiap meluncur ke kantor. Hari ini aku yang membonceng Merry. Tubuhnya sangat kurus jadi terlihat lebih tinggi dariku. Apalagi kami harus menggunakan high heels, Merry jadi terlihat lebih tinggi dariku.
Aku sebenarnya tak terbiasa menggunakan high heels. Untung saja aku bekerja di dalam ruangan, jadi aku selalu melepaskan sepatu high heels ku dan menyeker.
"Mana sepatumu?" tanya Briyan mengejutkanku.
"Ma'af pak, kaki ku sakit," ucapku menatapnya dengan senyuman kecut.
"Benarkah? untung saja kakimu itu putih, bayangkan kalau hitam, mau menyeker?"
"Sudahlah pak, lebih baik kamu selesaikan saja pekerjaanmu di luar. Kamu selalu saja menggangguku."
"Aku bos di sini, aku punya hak pergi kemana pun yang aku mau," sahutnya dengan santai.
"Pak, kamu menggangguku bekerja. Saat ini aku harus konsentrasi. Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan karena kamu terus saja menggangguku? apa kamu juga akan memotong gaji ku?" tanyaku mulai kesal padanya.
"Tentu saja gaji mu akan di potong kalau kamu melakukan kesalahan."
"Dengar ya, pak bos ku. Sebentar lagi pembagian gaji. Meskipun aku belum bekerja sebulan penuh, tapi kamu harus membayar ku dengan layak. Karena sepeda motorku yang kamu tabrak itu statusnya masih di cicil, kamu ingat di-ci-cil."
"Bukannya kamu sudah aku berikan uang 30 juta, uang itu nggak mungkin habis untuk membayar cicilan motormu kan?" tanya nya terus saja membuatku kesal.
"Uang ku masih utuh, pak bos ku. Uang iu untuk berjaga-jaga kalau suatu saat aku kamu tendang keluar dari perusahaan ini."
"Hahahahahahaha," Briyan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ku.
"Apa itu lucu, pak?" aku bertanya sambil menatapnya seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Hahahaha, baru kali aku bertemu dengan perempuan galak seperti kamu. Cara bicara mu kurang sopan, apalagi nanti kita akan menikah. Aku harap sifat galak mu itu tidak luntur di depan mertua mu." Ia kembali tertawa, dan itu membuatku menjadi bertambah kesal.
Briyan berjalan keluar dari ruangan ku, ia berjalan sangat santai sambil bersiul. Rupanya meledek ku sekarang menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Aku pasti sebuah mainan lucu dimata nya.
"Sekretaris Merry, buatkan saya kopi susu panas."
"Ya, pak." dengan sigap Merry menyahut.
Seharian aku bekerja keras, hingga membuat mataku sakit dan kepalaku menjadi pusing. Bekerja di depan komputer membuat mata menjadi lebih cepat lelah. Sesekali aku mengusap wajahku.
Pukul 4 sore, semua karyawan bersiap pulang. Hari ini aku sial sekali, aku berjalan dan tersandung. High heels ku membuatku terjatuh dan keseleo. Aku hampir tak bisa berdiri, untung saja beberapa orang membantuku bangkit dan memijat kakiku yang keseleo. Setelah itu dengan susah payah aku naik ke atas motor dan Merry membonceng ku di belakang.
__ADS_1
Sesampainya di kost, kulihat semua barang pribadiku sudah ada di sana tersusun rapi. Rupanya Briyan sudah membayar seseorang untuk menata barang-barang ku. Karena kost ini miliknya, bukan mustahil baginya untuk masuk tanpa permisi.