
Sudah 1 minggu Briyan tidak menghubungiku, entah apa yang terjadi padanya sekarang ini. Ingin sekali rasanya aku menanyakan kabar tentangnya. Bahkan untuk sekedar bertanya pada Merry pun aku merasa malu.
Hari demi hari berlalu, hari pernikahan kami juga belum ditetapkan. Akan tetapi semakin lama yang kurasakan hanyalah semakin khawatir.
Malam ini di luar sedang hujan, namun suaranya tak terdengar jelas. Hanya angin dingin yang masuk dari ventilasi.
"Ngapain, melamun aja?" Dian mengagetkan ku.
"Lagi mikirin, gajian dapat berapa." Aku tersenyum kecut padanya.
"Daripada mikirin gajian dapat berapa, mending kita lihat produknya Emi... lagi diskon besar-besaran, lumayanlah buat ngirit-ngirit..."
"Boleh deh," kami berdua menuju produk Emi, di sana produk keperluan dapur sangat lengkap. Aku memasukkan 1 bungkus minyak goreng berukuran besar, beberapa bungkus mie instan, saos, kecap, tepung serba guna dan lain lain sampai keranjang ku terisi penuh.
Aku berjalan ke sisi sebelah melihat produk kecantikan, ada beberapa diskon juga meskipun tak terlalu banyak.
Aku mengambil body lotion, bedak dan sabun sabun mandi cair. Kami berdua telah selesai, dan bersiap membayar.
"Kamu sudah selesai?" tanya Dian.
"Ya."
Tiba-tiba, seorang pembeli bertanya.
"Saya sedang mencari SPG produk pakaian di sebelah, tetapi nggak ada seorangpun di sana. Jadi, bagaimana saya mau beli?"
Aku dan Dian membalikkan badan, dan betapa terkejutnya aku ternyata bu presdir yang sedang berbicara. Aku jadi agak gugup dan terbata-bata. Ia bahkan bersama dengan pak presdir dan juga Briyan. Briyan hanya melemparkan senyuman tipis padaku.
"Silakan bu, saya antar..."
Aku dan Dian terheran, bukankah di sana masih ada Sela? kemana Sela saat ini?
Bu presdir nampak sibuk memilih pakaian yang akan dia beli. Briyan juga seakan tak mengenaliku.
Tak berapa lama kemudian, Sela muncul. Ternyata dia pergi ke kamar mandi. Aku menjadi gugup sekali, berbeda dengan Dian yang nampak biasa biasa saja.
Bu presdir telah selesai dengan semua pilihannya, ia meletakkan semua pakaian yang dia pilih untuk ku bawa ke kasir.
__ADS_1
Briyan masih seakan tak mengenaliku. Apa aku telah melakukan kesalahan? Mereka bertiga pergi begitu saja, malam ini wajah Briyan nampak pucat dan muram. Aku yakin sesuatu telah terjadi padanya. Namun untuk menanyakan semua itu, meskipun hanya di telepon aku merasa malu. Aku perempuan yang tahu diri.
Gaji telah di transfer ke rekeningku. Bulan ini gaji ku menurun, hanya 2,6 juta. Aku menghela nafas panjang. Malam ini beberapa karyawan nampak rata sedang membawa belanjaan untuk di kost atau rumah masing-masing.
Sebelum pulang, aku membeli martabak manis. Biasanya sampai di wisma malam-malam begini aku merasa lapar. Aku membeli 3 martabak berukuran besar dengan rasa spesial. Aku berharap Merry belum tidur.
Akan tetapi ku lihat Briyan sudah duduk di teras dengan kopi susu gelas besar. Aku memarkir sepeda motorku dan menyapanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya ku padanya.
"Aku sedang menunggumu." Ucapnya santai sambil menyalakan rokok.
"Dimana Merry?"
"Mungkin dia sudah tidur." Sahut Briyan.
Aku masuk ke dalam meletakkan belanjaan ku dan kembali ke teras dengan membawa air minum dan dan martabak yang aku beli.
"Kamu sudah bekerja keras sampai larut malam."
Ucapan Briyan mengejutkanku.
"Berhentilah bekerja di sana, dan menikahlah denganku. Kamu akan mendapatkan kehidupan yang layak."
Aku semakin terkejut dengan ucapannya, ada getaran sedang aku rasakan. Akan tetapi sesak juga ku rasa.
"Bukannya kita sudah merencanakannya sejak lama, itu mudah kan... tinggal tetapkan tanggalnya saja."
"Maksudku, ayo kita menikah sungguhan. Bukan menikah kontrak seperti yang pernah kita bicarakan." Ucapnya menatap tajam padaku.
Aku menunduk. "Apa itu mungkin?"
"Apa yang tidak mungkin menurutmu?"
"Kita nggak cocok Briyan.. mana mungkin? menikah sungguhan juga harus di dasari dengan cin—"
"Aku mencintaimu!" Briyan menatapku sangat tajam.
__ADS_1
Aku hampir beku di hadapannya.
"Kita berdua bagaikan langit dan bumi, hanya akan bersatu saat kiamat saja. Jadi, jangan membual yang bukan-bukan di hadapanku."
"Dari perkataan mu aku sudah tahu, sebenarnya kamu juga mencintaiku kan? aku memahami kamu Dewi."
"Kamu nggak memahami ku pak, kamu nggak tahu apapun tentangku. Asal usul, atau pun keluarga ku. Pernikahan kita nggak akan bahagia, carilah perempuan yang sederajat denganmu. Aku yakin, ada banyak perempuan yang menyukai kamu pak."
Briyan menarik nafas panjang, dari raut wajahnya terlihat frustasi. Akan tetapi, aku juga melihat kesungguhan di wajahnya.
"Kalau yang kamu khawatirkan adalah tentang keluargamu, aku sudah tahu segalanya."
Degh!
Bagaikan ada petir yang menyambar, aku sangat terkejut mendengarnya. Aku hanya menatap Briyan dengan penuh heran.
"Apa maksud mu pak?"
Briyan memberikan beberapa lembar foto kepadaku. Aku mengambilnya dan melihat satu persatu. Betapa terkejut aku melihat setiap lembaran nya. Jadi, Briyan sudah tahu segalanya? semua itu membuatku semakin terpukul.
Aku menghempaskan foto itu dan memijat kening ku. Aku merasa tak dapat berpikir sekarang ini.
"Aku mau kamu menerima ku menjadi suamimu Wi..." Briyan mengeluarkan cincin dari sakunya. "Aku ingin kamu mengenakan cincin ini, cincin pertunangan kita yang sesungguhnya. Tapi aku nggak akan memaksamu memakainya, karena aku tahu kamu bukan perempuan yang bisa dipaksa." Briyan meletakkan cincin itu diatas tutup gelas kopinya.
Aku semakin tertekan dibuatnya.
"Ayah dan ibuku juga sudah mengetahui semuanya. Nggak ada yang perlu disembunyikan lagi. Aku mau kita bertunangan sebelum aku pergi ke luar negeri. Aku ada pekerjaan penting di sana Minggu depan, aku harap kamu sudah memberikan jawabannya." Ucapnya berdiri beranjak pergi.
Kepergian Briyan semakin membuatku buntu. Apa yang dikatakannya seolah memaksaku untuk berpikir cepat. Dia benar-benar egois.
Aku mengambil cincin yang Briyan tinggalkan, sebelumnya aku nggak pernah memandangi cincin pertunangan kami sebelumnya. Karena cincin yang sudah aku kenakan ini bagiku sama sekali tak ada artinya.
Tetapi cincin yang Briyan letakkan ini memiliki arti yang berbeda. Aku hampir meneteskan air mata karenanya. Apa aku layak mengenakan cincin ini? cincin ini benar-benar cantik. Untuk memandangi nya saja aku hampir tak mampu.
Aku membereskan makanan dan minuman yang ada di teras dan mengunci pintu. Setalah itu aku menyimpan cincin itu dengan baik di dalam lemari.
Aku berbaring diatas kasurku dengan perasaan yang berkecamuk. Bahkan perasaan ini lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Aku tak dapat berpikir jernih sekarang ini.
__ADS_1
Aku memejankan mata, dalam angan yang mengantarkan tidurku. Aku berharap hari dimana aku memakai cincin itu akan datang. Dan hari-hari baik selalu berpihak padaku.