
Acara pertunangan sudah bubar, yang tersisa hanyalah anggota keluarga Briyan. Kakek, nenek, kemudian Sean dan kedua orang tuanya.
Tak ada obrolan manis, semua nampak seperti basa basi. Aku tak mengerti yang ada di pikiran mereka, hanya kakek dan nenek yang dapat mencairkan suasana yang beku.
Sesekali nenek meminta untuk mengambilkan sayuran di meja karena ia tak mampu menjangkaunya. Sebenarnya sulit ku katakan, tetapi aku merasa jika terlalu lama berada di rumah ini bisa-bisa aku menjadi pembantu di sini.
Ibu Sean adalah kakak dari ibunya Briyan. Akan tetapi ada kesenjangan diantara mereka berdua. Aku merasakan mereka berdua sedang terbakar. Apakah mereka perlu kipas angin? atau air es?
Mereka berdua sesekali nampak saling menyindir di depan anggota keluarga yang lain. Entahlah apa yang sedang mereka maksud, aku tak mengerti.
Hingga segalanya sudah benar-benar berakhir, Briyan mengantarku pulang ke kost.
"Wi, besok bereskan barang-barangmu. Kamu akan tinggal di wisma lagi bersama Merry." Ucapnya membuka kaca jendela mobilnya.
"Apa? benarkah?" Aku terkejut mendengarnya, baru saja aku turun dari mobilnya. Kenapa dia tidak bilang sejak di dalam mobilnya?
"Kenapa, kamu nggak suka??"
"Enggak, aku cuma terkejut saja. Aku suka tinggal di sana."
"Baguslah kalau begitu. Masuklah! sekarang sudah larut. Tapi, apa aku akan mendapatkan kecupan selamat malam?"
"Apa??!" Aku berpaling menatapnya.
"Aku bercanda, selamat malam!" Briyan menaikkan kaca jendelanya dan menghidupkan mobilnya dan meluncur pergi dari hadapanku.
Aku tersenyum mendengar candaannya. Dia lucu juga, dan benar-benar... tampan.
Apa ini?
Deg
Deg
Deg
Deg
Jantungku agak terpacu. Mungkin aku kelelahan.
Baam!
Aku menutup pintu kamar kost dan langsung berbaring di springbed. Lelahnya....
Beberapa detik kemudian aku sudah tertidur lelap. Memimpikan pertunangan ku tadi siang.
__ADS_1
*********
Hari ini aku dapat jadwal sift malam, jadi siang hari aku bisa mengemasi barang-barangku. Tak ada barang yang begitu berarti, karena barang-barangku sebagian besar masih di wisma.
Aku cukup mengeluarkannya saja di dekat pintu, mungkin sebentar lagi Briyan dan kuli angkutnya akan datang.
Aku juga masih punya cukup waktu untuk tidur siang. Dan benar saja, tak berapa lama Briyan datang dengan kuli angkutnya. Mereka datang beriringan. Dengan segera aku berpamitan kepada pemilik kost yang berjarak tak jauh dari sana dan menyerahkan kunci pintunya.
Aku menaiki sepeda motorku lebih dulu ke wisma tempat tinggal Merry. Dan, ya Merry sekarang tak ada di sana karena dia sedang bekerja.
Tak berapa lama Briyan dan kuli angkut juga sudah tiba. Kuli angkut nampak sangat sibuk mengangkut barang. Sementara Aku dan Briyan hanya duduk saja di teras.
"Wi, kembalilah bekerja di perusahaan." Briyan memulai percakapan, akan tetapi dia nampak serius tak seperti biasanya.
"Apa? nggak, aku nggak mau."
Briyan menoleh padaku, "kenapa?"
"Aku bukan boneka kalian, jadi kalian nggak bisa seenaknya mengatur kehidupanku." Aku mengatakannya dengan menatapnya tajam.
"Aku sudah menduga, kamu pasti nggak akan mau. Dari awal kamu memang wanita bebas." Briyan mengatakan itu sambil menunduk.
"Aku cuma nggak mau dipermainkan, ku mohon mengerti lah. Apa ini permintaan bu presdir?"
"Ya."
Kenapa dadaku menjadi sesak? ada apa ini?
Setelah semua barang tersusun rapi, Briyan membayar kuli angkut itu dan ia juga berpamitan padaku.
Kenapa aku merasa Briyan agak murung? apa sesuatu terjadi padanya?
Aku masuk dalam wisma dan beristirahat sebentar, kemudian bersiap masuk kerja. Suasana di pusat perbelanjaan sangat ramai, maklum hari ini tanggal muda. Dan aku juga menerima gaji pertamaku.
Aku mencek saldo di m-banking dan melihat nominal 3,1 juta masuk ke rekeningku. Lumayan, bulan pertama sudah menunjukkan hasil. Semoga bulan depan nominalnya bisa naik.
Aku menyusun barang-barang yang menjadi tanggung jawabku, sesekali melayani pembeli. Aku juga bercanda dengan teman lainnya. Di sini menyenangkan, lebih menyenangkan daripada pekerjaan di kantor Briyan yang membosankan.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, Merry menelpon ku. Ia menanyakan apakah aku membawa kunci serep wisma. Karena ia akan mengunci pintu wisma.
Merry juga mengatakan aku tak perlu membeli makan malam karena dia sudah memasak untukku. Aku sangat senang mendengarnya dan berterima kasih.
Aku berjalan-jalan melihat pakaian bermerk di sebelah ku, Beberapa hari terakhir aku selalu memperhatikan sebuah dress, akan tetapi dress ini sangat mahal harganya dan belum ada yang berminat membelinya.
"Mau beli Wi?" tanya Mia mengejutkanku. Mia adalah SPG pakaian tersebut.
__ADS_1
"Lihat-lihat dulu." Ucapku sambil meraba jenis kain dress di depanku.
"Jangan kelamaan mikir Wi, kalau dress nya laku nanti menyesal."
"450 ribu, sama dengan harga sewa kost ku 1 bulan." Aku menghela nafas cepat dan mengembalikan pakaian itu ke tempatnya.
"Tenang, lagi diskon 70%. Jadi 315 ribu."
Mendengar nominal 315 ribu aku langsung mengambilnya kembali.
"Sejak kapan diskon?"
"Dari tadi pagi lah, kamu kemana aja sih??" Mia menatapku dengan mengejek.
"Baguslah, sekarang dress ini bertuan!" Aku membawanya ke kasir untuk membayar.
Mia hanya menggeleng melihat tingkahku. Aku bahkan tidak menyadari tulisan 70% yang terletak jelas di samping hunger.
Saat hendak ke kasir, aku melihat sebuah dress lagi yang sangat imut menurutku. Dress itu berwarna orange dengan garis putih. Aku melihat tulisannya dengan jelas kali ini, diskon 90%.
Aku langsung mengangkutnya ke kasir dan melakukan pembayaran. Si kasir juga meledekku.
"Hem, mentang-mentang udah gajian kan?" Ledek Helmi padaku.
"Ya dong, kamu juga harus coba beli."
Dia mendekatkan mulutnya ke wajahku dan berbisik. "Aku sudah ambil 3 lembar tadi pagi...!"
"Wow, banyak sekali?!"
"Ibu ku dan adik ku minta belikan pakaian baru....! ucapnya masih berbisik.
"Baguslah, aku yakin kepulangan mu mereka sambut dengan makanan yang lezat." Ucapku optimis.
"Itu nggak akan...!"
"Kenapa...?" tanya ku heran.
"Karena ibu dan adik ku memintaku membelikan mereka makanan sea food.....!"
"Oh, no! itu bukan masalah... aku yakin kamu akan mendapatkan pahala yang setimpal."
Helmi mengangguk dengan tegas dan memasukkan pakaianku ke dalam kantong plastik, kemudian memberikannya padaku.
"Makasih..!" Ucapku padanya.
__ADS_1
Helmi mengangguk dengan tegas, ekspresi nya nampak sekali menjelaskan bahwa setelah ia sampai ke rumah nanti isi ATM nya akan di kuras oleh ibu dan adiknya. Ia menjadi lesu.