Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 64


__ADS_3

"Sena, kenapa kamu nggak jujur saja kalau kamu hamil??" tanyaku mendekati Sena yang sedang duduk di kursi di depan meja polisi.


Ia bahkan tak mau menjawab pertanyaan ku, membuat hatiku bak di sayat belati nan tajam. Tubuh Sena tak bergerak sedikitpun, seketika ia menjadi beku.


Bahkan hingga semenit kemudian, ia masih saja membisu. Apakah dia menangis?


Aku berjalan di sampingnya, menatapnya lekat. "Sena, kalau membebaskan Ben dari tahanan ini membuatmu bahagia, aku akan melakukannya." Ucapku padanya. Kali ini aku menghadap pak polisi di depan ku. "Pak, aku mau mencabut laporan ku kepada Ben dan juga adikku. Aku mau adikku hanya di rehabilitasi saja, aku mohon pak."


Sena langsung menatap padaku setelah mendengar apa yang aku ucapkan. Begitu juga dengan pak polisi yang ada di hadapanku.


Aku dan polisi berdebat sekian puluh menit. Polisi itu tidak setuju akan mengeluarkan Ben dan Sena karena alasan ini dan itu. Aku berusaha meyakinkan polisi betapa kasihan Sena jika harus melahirkan di penjara nanti. Mengingat usia kandungannya yang tidak muda lagi, yaitu 5 bulan.


Demi Sena dan anak yang ada di dalam kandungannya, aku akan mengesampingkan ego ku terlebih dahulu.


Sedangkan Briyan diam tak berkutik di kursi tunggu. Ia nampak tegang suasana panas yang ku alami. Sesekali ia nampak gelisah, namun dengan bawaannya yang santai Briyan masih terlihat cool.


Dua puluh lima menit kemudian aku berhasil mencabut laporan ku terhadap Sena dan Ben. Akan tetapi mereka berdua masih tetap dalam pengawasan, dan Sena akan tetap di rehabilitasi sesuai aturan yang berlaku. Namun mereka harus menjalani beberapa prosedur sehingga masih memakan waktu.


Aku dan Briyan menuju mobil.


"Sayang... aku nggak bisa pulang sekarang, aku harus membereskan toko terlebih dahulu dan kembali memesan etalase baru. Karena besok aku akan kembali berjualan seperti biasa." Ucapku pada Briyan.


Briyan berpikir sejenak lalu menjawab.


"Sayang, sekarang sudah sore. Lebih baik kita lanjutkan saja besok." Ucap Briyan sambil menengok jam tangannya. "Lihatlah, sekarang sekarang sudah pukul tiga lewat. Lebih baik kita pulang, mandi dan makan malam. Kalau kamu mau kita akan bisa makan malam di luar."


Aku terdiam memikirkan apa yang Briyan katakan, benar juga yang dikatakannya.


"Iya sayang, kamu benar. Kita pulang saja." Aku menghembuskan nafas kasar dan bersandar di sofa mobil.

__ADS_1


Briyan mengemudi dengan cepat, sepanjang perjalanan iya nampak konsentrasi dengan jalan di depannya. Suasana semakin sore, jalan raya mulai padat dengan pengemudi yang pulang dari aktivitasnya.


Sesekali jalanan nampak macet apalagi di perempatan lampu merah. Segalanya semakin sumpek dan padat, akan tetapi suasana sore yang mulai tenang dengan cahaya mataharinya membuat perjalanan menjadi santai.


"Sayang... apa kamu mau ke pantai?" tanya Briyan padaku. Ia bertanya tanpa menoleh.


"Aku merasa lelah, mungkin aku ingin tidur saja di rumah." Ucapku masih bersandar di sofa mobil. Aku hanya terus membayangkan apa yang baru saja terjadi di kantor polisi.


Aku faham Briyan hanya ingin menghiburku. Ia nampak bersemangat sekali menawarkan untuk bepergian. Sedangkan aku malah sebaliknya, tak ada terpikir satu niatan pun untuk kemana-mana.


"Sayang, aku punya tempat bagus baru untuk menikmati pemandangan sambil makan.."


Aku menoleh pada Briyan. "Benarkah? dimana itu?"


"Di samping jembatan gantung arah keluar kota, di sana sekarang sangat ramai. Sedang ada pembangunan taman kota yang baru, pemandangannya nggak akan membuatmu kecewa."


"Oke, kita pulang dulu mandi dan makan. Setelah itu kita jalan-jalan."


Akhirnya aku menyetujui tawaran Briyan. Aku yakin dia tidak akan betah melihatku lama-lama bersedih. Meskipun tidak akan mengubah kenyataan, paling tidak membuatku lupa sesaat akan hal ini.


Beberapa puluh menit kemudian kami sudah tiba di rumah. Tak ada siapapun di rumah, biasanya ayah dan ibu Briyan sudah pulang lebih dulu.


Kami berdua bergegas mandi dan mengenakan pakaian jalan santai kami. Briyan hanya mengenakan celana cargo berwarna putih, atasan kaos oblong berwarna hitam. Sedangkan aku mengenakan celana kain hitam panjang dan atasan pendek berwana biru malam.


"Sayang, cepat makan dulu." Briyan berlalu bergegas menuju dapur.


"Ya!" aku menyahut dari dalam kamar.


Setelah beberapa menit kemudian aku sudah menyusul di meja makan. Akan tetapi di sana tak ada ayah ataupun ibu Briyan.

__ADS_1


"Sayang... dimana ayah dan ibu??" tanyaku heran. "Ayah dan nenek juga tidak ada, kemana mereka semua malam-malam begini?"


Seorang ART menjelaskan jika mereka semua pergi mengunjungi rumah orang tua Sean.


"Mereka akan pulang secepatnya sebelum larut malam, kalau tidak salah mereka akan membicarakan tentang pernikahan putra mereka, Sean. Jadi mereka sedang bermusyawarah."


Aku terkejut mendengarnya, benarkah ini? akhirnya Sean dan Merry akan segera menikah. Syukurlah, pada akhirnya mereka mendapatkan restu dari orang tua Sean.


"Merry pasti sangat senang, iya kan?" tanyaku pada Briyan.


"Ha ha ha ha, akhirnya mereka berdua akan segera menikah juga. Aku sangat senang sekali mendengarnya." Ucap Briyan.


"Iya sayang... aku juga senang sekali mendengarnya."


Kami berdua tersenyum lebar mendengar kabar baik itu.


Malam ini makan malam lebih sedikit daripada biasanya, karena tak ada ayah, ibu, kakek dan nenek.


Menu makan malam ini hanya ada ayam goreng kentucky, dan sambal. Hanya saja menu penutup yang bertambah, yaitu ada satu baskom tanggung es buah.


Es buah nya juga sederhana, hanya ada buah naga dan alpukat yang dipotong dan di serut menggunakan sendok.


Setelah kami makan, aku dan Briyan bersiap untuk berangkat menuju tempat yang Briyan sebutkan tadi sore. Kami menuju halaman dan masuk ke mobil.


"Sayang, sebenarnya darimana kamu tahu tempat itu? kamu kan seharian terus bekerja?" tanyaku pada Briyan penasaran.


"Karena tadi pagi aku ada pertemuan di gedung dekat sana. Nggak sengaja aku melihat tempat itu, saking penasaran aku rela putar arah untuk kembali melihat tempat itu, kamu tahu?" ucap Briyan sambil menggeleng menceritakan itu padaku.


"Astaga, kamu rela putar arah? memangnya tempat seperti apa itu sampai kamu melakukan itu?"

__ADS_1


"Tempatnya sangat indah, dan sangat besar. Di sana ada tempat yang cocok untuk anak-anak kecil, bahkan bayi. Lebih tepatnya taman bermain. Ada juga tempat yang memang disediakan khusus untuk remaja, pokonya di sana tidak akan membuatmu bosan. Ada juga tempat untuk bersantai, khusus untuk lansia. Menurutku tempat itu sangat lengkap dari segi segalanya. Bahkan kalau kita mengajak kakek dan nenek, aku nggak akan mengkhawatirkan keselamatan atau kenyamanan untuk mereka."


"Benarkah? kedengarannya sangat luar biasa. Aku jadi sangat penasaran bagaimana sebenarnya tempat itu." Sahut ku penuh semangat. Sekarang aku kembali bersemangat mendengar perkataan Briyan barusan.


__ADS_2