Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 26


__ADS_3

"Ssssstttttt!!"


Briyan menutup mulutku dengan tangannya. Wajahnya tegang melirik ke kanan dan ke kiri.


Aku rasa sekarang sudah sangat sepi, apakah tidak ada orang lain yang akan naik ke atap gedung ini?


"Kenapa kamu bisa di sini?! punya hubungan apa kamu dengan mafia itu?!" Briyan menatapku tajam dan penuh curiga.


Samar-samar dalam kegelapan aku melihat wajahnya yang penuh kecurigaan terhadapku.


"Bodoh kamu! kamu lah yang muncul di wisma dan aku melihat mereka membawamu. Apa aku salah sudah mengikuti mu?! kalau salah aku pulang sekarang! dasar bodoh!"


Briyan terkejut mendengar perkataan ku, tiba-tiba dia memelukku. Pakaiannya yang dingin membuatku hampir menggigil.


"Ma'afkan aku, terima kasih..." ucapnya dengan suara gemetar.


"Lepaskan! pakaianmu basah, aku kedinginan!" ucapku mendorongnya perlahan.


"I-iya ma'af!" Briyan melepaskan pelukannya.


Aku mengambil kain yang ku bawa dari tadi dan melilitkannya ditubuh Briyan.


"Apa kamu bisa lari?" tanyaku padanya.


"Lari? itu mudah! apa kita mau berlari??"


"Kita akan melarikan diri dari sini, kamu siap?? kita harus keluar dari gedung ini secepatnya sebelum ada yang menyadarinya."


"Ya."


"Kita harus berlari dari luar gedung ini sekitar 500 meter, aku meletakkan sepeda motorku di bawah pohon."


"Bagus lah! aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu." ucap Briyan lega.


"Kamu terlalu cepat berterima kasih, kita masih punya kabar buruk." ucapku lesu.


"Apa?"


"Aku tidak tahu apa bensin di dalam tangki motor itu kering atau masih ada. Masih untung aku bisa mengejarmu sampai sini." Aku terduduk lesu mengatakannya.


"Ya, itu benar. Untung saja kamu bisa mengejar ku sampai di sini. Kapasitas tangki sepeda motormu lumayan banyak, sekitar 12 liter. Aku harap bisa membawa kita sampai mendapat bantuan."


"Ya."


Sekarang malam sudah gelap sempurna, hanya suara Briyan yang bisa ku dengar.


"Apa kamu tahu jalan?" tanya Briyan.


"Ya aku tahu, berhati-hatilah dengan pijakan mu. Jangan sampai membuat suara berisik!"


Kami melewati tangga yang gelap, dengan berjalan hati-hati sesekali aku menghidupkan senter. Sesekali kami bersembunyi jika mendengar suara aneh atau jika kami menginjak sesuatu yang menimbulkan suara.


Hanya sebuah pisau yang kami punya untuk melindungi diri kami. Itupun kami dapatkan dari orang yang berusaha menenggelamkan Briyan tadi.


Untung saja beberapa ruangan lampunya dinyalakan, jadi meskipun hanya remang-remang kami masih dapat melihat.


Kami menelusuri jalan ke arah yang kulewati tadi siang. Meskipun ada beberapa ruangan yang membingungkan tetapi aku masih ingat persis dimana jalan yang aku lewati.


"Wi, kamu yakin ini jalannya??" tanya Briyan.

__ADS_1


"Diamlah pak! kamu tinggal mengikuti ku saja, tenang lah pak aku bukan anggota mereka! setelah ini aku harap bisa mendapatkan bayaran darimu!"


Aku meraih tangan Briyan dan menariknya. Kami tiba di tempat lemari usang. aku berhenti tepat di depannya.


"Mau ngapain kamu? cepat jalan!" ucap Briyan.


"Tunggu sebentar."


Aku mengambil sehelai kain lagi untuk menyelimuti tubuhku. Kain itu sangat kasar, tetapi lumayan untuk menghangatkan tubuh.


"Oh, jadi di sini kamu dapat kain ini?"


Aku melilitkan kain itu di tubuhku, karena hanya menggunakan celana pendek dan kaos pendek oblong membuatku mulai kedinginan. Aku melilitkan beberapa kali kain yang sangat lebar dan panjang itu ke bagian pinggang dan bahu ku. Sekarang aku seperti mumi. Ini lebih baik daripada menggigil kedinginan.


"Ayo jalan lagi!" ucapku sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.


Sepertinya tak ada siapapun di ruangan ini. Kami terus berjalan sampai ke depan celah tempat awal masuk ku.


"Jangan nyalakan senternya!" ucap Briyan berbisik.


"Ya, aku tahu! tapi, bagaimana kalau kita menginjak ular?"


"Entahlah, gunakan saja instingmu. Biasanya instingmu tajam dan benar."


"Tajam, dan benar?" aku balik bertanya dengan heran.


Briyan mengangguk. Dia bilang instingku tajam dan benar? apa itu pujian? atau dia hanya takut pada kegelapan di tengah hutan? ya tentu saja, anak manja seperti dia tidak akan puny keberanian di tempat seperti ini.


kami berjalan perlahan berdampingan.


Duk!


Aduh!


"Sial!" Briyan mengumpat.


Dia nampak meraba-raba sesuatu yang telah menyandung kakinya. Rupanya sebatang kayu kecil. Dia mengambilnya dan mematahnya.


Kami terus berjalan, tiba-tiba ada suara anjing menggonggong.


Guk!


Guk!


Guk! Guk! Guk! Guk!


Bahkan suara anjing tersebut berbeda satu sama lain, sepertinya ada beberapa ekor. Aku dan Briyan berlari kecil mendengar gonggongan anjing.


"Apa kamu yakin ini jalannya??" tanya Briyan khawatir.


"Aku nggak terlalu yakin, tapi aku yakin suara anjing itu tepat di depan gerbang. Itu berarti kita sudah dekat dengan jalan."


kami terus berlari diiringi dengan gonggongan anjing.


"Sejak kapan anjing-anjing itu ada, tadi siang sepertinya belum ada anjing di sana. Kalau pun ada, dia pasti sudah menggonggong ku juga tadi siang."


"Benarkah?" tanya Briyan khawatir. "Itu berarti anjing itu baru saja di bawa ke sini."


Guk!

__ADS_1


Guk!


Guk!


Guk! Guk! Guk! Guk! Guk!


Anjing terus menggonggong. Sementara kami sudah berlari menjauhi gerbang. Kami berlari menuju sepeda motorku. Aku harap motorku masih di tempatnya.


Tetapi tiba-tiba suara anjing semakin mendekat.


Guk! Guk! Guk! Guk! Guk! Guk!


Seekor anjing mendekat dan bersiap menerkam kami.


Bugh! bugh! bugh!


Briyan dengan sigap memukul anjing hingga terpental.


Guk! Guk! Guk! Aaiinng!!!!


Si anijing ketakutan setelah Briyan pukul. Tiba-tiba Briyan merebut pisau dari ku dan membunuh si anijing.


Briyan dengan cepat melemparkan bangkai anjing ke arah padang hutan.


Bruaassshhh!!!


"Cepat Dewi, temukan motor mu!"


Pandangan Briyan menuju atas gedung. Aku juga melihat ke atap gedung, ada beberapa senter menyala dari atas.


"Mereka menyadarinya!"


Kami mulai gugup dan bergegas menemukan motor.


"Buka jok nya!" perintah Briyan.


Kulihat Briyan membuka sebuah jerigen berisi bensin.


"Kamu dapat bensin??" tanyaku pada Briyan dengan sangat heran, aku tidak menyadari sejak kapan Briyan membawa jerigen berisi bensin.


"Ya." jawab Briyan singkat sambil mengisi tangki motor.


Setelah selesai mengisi bensin, Briyan membuang jerigen minyak dan aku mengambil kunci motor dan bersiap menghidupkannya. Akan tetapi Briyan mengambil posisiku.


"Minggir." Briyan menyalip tempat dudukku.


Aku tak berkutik dan hanya diam di belakangnya.


"Pegangan! kita akan melaju dengan kecepatan penuh!" ucap Briyan.


BUUGH!


"Minggirlah pak bos! kalau kamu nggak bisa menyetir jangan ajak nyawaku jadi taruhannya!!"


Bruuuuummmmmm!!!!!


Briyan menarik gas sepeda motor dan kami melaju dengan cepat.


"Kamu masih ingat jalannya??"

__ADS_1


"Ya, ikuti saja dulu jalannya!"


Kami memulai perjalanan melarikan diri. Hanya ada satu hal yang membuatku heran, kenapa bantuan dari bu presdir belum juga datang?


__ADS_2