Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 22


__ADS_3

Hari ini hari yang penting bagiku dan Briyan, bagaimana tidak? hari ini adalah hari pertunangan kami.


Bu presdir bahkan mengenakan gaun pertunangan kami kepadaku.


"Bu Presdir, aku nggak nyaman dengan pakaian ini. Bisakah kita mengganti yang lain?"


Aku tak menyukai pakaian terbuka, dan ini sangat seksi sekali. Aku merasa seakan ingin muntah mengenakannya.


"Yang lain?" buk presdir mengernyitkan keningnya.


Dia menyuruh pelayan memperlihatkan semua gaun yang dia bawa. Agak lama buk presdir memperhatikan semua gaun itu. Sedangkan aku duduk di sofa sambil membenarkan gaun di tubuh yang begitu longgar di bagian dada.


Aku takut gaun ini melorot sehingga membuat ku malu. Aku benar-benar tak menginginkan gaun ini.


"Nah, pakai yang ini."


Buk presdir memberikan satu gaun untukku. Aku mengambilnya dan memperhatikannya, ya. Ini lumayan, aku suka yang ini. Meskipun dadanya sama seperti yang sebelumnya, membentuk 'cetakan'. Tapi yang ini di tutupi brukat dan lengannya panjang. Aku menyukainya.


Bu Presdir memilih heels untukku. Kemudian meletakkannya di samping kakiku.


"Jangan bilang kamu nggak bisa pakai high heels."


Aku mengenakan heels itu, dan rasanya wow sekali. Sebenarnya aku lebih membayangkan aku menggunakan hijab dengan make up Barbie. Tapi, aku tahu bu presdir tak akan membiarkan ku.


Bu presdir menyuruhku berjalan layaknya pengantin yang anggun. Tentu saja, ini mudah. Aku melenggang anggun memperagakan cara berjalan ku.


"Ya, tentu saja kamu bisa. Kamu bekerja sebagai SPG kan?"


"Ya, buk."


"Setelah kamu menikah, kamu harus berhenti bekerja sebagai SPG. Jangan sampai kamu merusak reputasi ku sebagai presdir."


Aku tak bisa menjawab perkataannya. Aku belum menyepakati tentang itu bersama Briyan.


Bu presdir memanggil perias dan memerintahkan riasan ku harus seperti dan seperti itu. Ia ingin warna eyeshadow yang begini dan begitu.


Aku tak bisa protes karena aku sama sekali tidak memahami apapun tentang riasan. Jadi aku hanya duduk di sofa saja. Acara masih 7 jam lagi dari sekarang. Jadi aku masih punya waktu untuk beristirahat. Aku berbaring di sofa bersantai. Sedangkan bu presdir pergi keluar entah kemana.


"Dewi, jangan tidur. Nanti kantung matamu membuat riasan mu jadi jelek." Ucap si perias.


"Aku nggak tidur, aku cuma mau baring saja. Lampu ini silau sekali, ma'af kalau aku menutup mataku pakai kain. Bisa tidak, lampunya di matikan saja?


"Bodoh kamu, kalau lampu nya dimatikan jadi gelap semua!" Ucap perias padaku.


"Ini kan siang bolong, nggak akan menyebabkan gelap gulita?"


"Ya sudah, tutup saja matamu pakai kain!" Ucap perias itu.


Aku masih bingung, sebenarnya perias itu laki-laki atau perempuan? penampilan luarnya seperti laki-laki, tetapi gayanya seperti perempuan. Aku harus memanggilnya mbak? atau mas?


Entahlah, aku hanya menutup mataku. Dan dengan sekejap sudah berada di alam mimpi. Entah berapa lama aku tertidur, samar-samar kudengar suara si perias.

__ADS_1


"Dewiii!!! kamu mau tunangan nggak sih??!" tanya perias ceriwis berusaha membangunkan ku.


Aku tak mengerti kenapa aku bisa tertidur, padahal aku merasa tidur ku sudah cukup tadi malam. Aku masih tak beranjak dari tempatku.


"Wi, nyonya datang!!"


Mendengar ia mengatakan Bu Presdir datang aku langsung melompat dari tempat pembaringan ku.


pluk


pluk


pluk


pluk


Suara heels bu presdir terdengar dari dalam ruangan. Aku langsung melemparkan kain penutup mataku yang ku pegang pada si perias.


"Bilang, aku mandi!!" Aku langsung bergegas menuju kamar mandi.


Tak berapa la Bu Presdir masuk, dia melihat seluruh ruangan.


"Mana Dewi?"


"Lagi mandi Nyah... katanya gerah."Ucap si perias dengan nada gemulai.


"Sudah waktu nya siap-siap, berikan yang terbaik untuk riasan, oke?!"


Tak berapa lama aku muncul dari kamar mandi dengan wajah segar fress setelah mandi.


Si perias mendekati ku, " dasar nakal! sudah dibilang jangan tidur malah ngorok!"


Aku tersenyum kecut padanya, lalu aku duduk di depan cermin. Si perias mulai membersihkan wajahku.


"Tuh, kan ada kantung matanya! jelek banget deh...."


Benar saja, kantung mataku terbentuk setelah bangun tidur. Tapi yang paling penting otakku jadi lebih fress dan konsentrasi.


Setelah membersihkan wajah, si perias mulai mengoleskan pelembab. Kemudian cairan seperti pelembab lagi.


"Apa ini?" tanyaku padanya.


"Ini pelembab."


"Kan tadi sudah pelembab nya?"


"Ini fungsinya beda, supaya make up tahan lama."


"Ooooh."


Dia mulai mengoles lagi, kali ini cairannya sedikit berwarna.

__ADS_1


"Apa ini?"


"Sama, ini juga pelembab. bedanya ada spf nya."


Sudah 3 kali dia bilang cairan 3 warna ini pelembab, mungkin dia sudah mempermainkan ku. Aku mulai kesal padanya.


Si perias mengoleskan cairan yang berwarna sama dengan kulitku.


"Ini pasti foundation."


"Bukan, ini primer."


"Apa itu primer?"


Cek!


cek!


cek!


Si perias berdecak, "kamu nggak ngerti riasan?? di youtube atau medsos kan banyak sekali pengetahuan tentang make up?? kasian sekali kamu, masih muda, cantik, tapi nggak ngerti make up."


"Aku nggak tertarik yang seperti itu."


"Kasihan sekali kamu, padahal ponsel mu itu sangat mahal harga nya. Lalu kamu gunakan untuk apa ponselmu itu?"


Aku merasa sedikit tersinggung dengan ucapannya.


"Aku terlalu sibuk bekerja, mana ada waktu untuk main ponsel atau sosial media." Ucapku menghela nafas kasar.


Dia kembali mengoleskan cairan yang warnanya sama seperti primer tadi.


"Yang ini baru namanya foundation." Ucap si perias.


Dia mengeluarkan 1 lagi cairan yang hampir sama dengan primer dan foundation. "Nah, yang ini conceler."


"Semuanya kelihatan sama saja di mataku."


"Ya, seperti manusia. Semua terlihat sama, tetapi yang membedakan mereka adalah hatinya. Seperti semua cairan yang kamu lihat ini, nampak sama... tapi fungsinya berbeda."


Aku tertegun mendengarnya. Ia merias ku dengan cepat dan hati-hati. Kemudian bu Presdir juga masuk ke dalam ruangan dan merias dirinya sendiri.


Bu presdir merias wajahnya dengan begitu ahli. Riasan baginya nampak seperti makanan sehari-hari. Setelah beberapa saat, kami sudah selesai dengan riasan kami masing-masing dan mengenakan gaun.


Briyan juga sudah dirias dengan riasan halus dan tipis. Ia nampak seperti pangeran dalam negeri dongeng. Hanya saja, di dunia ini cerita cintaku yang seperti dongeng.


Aku menghela nafas panjang.


Bagaimana mungkin aku menjalankan nikah palsu ini di hadapan orang banyak, orang-orang berkelas dan bangsawan?


Bukankah kalau ketahuan ini hanya sandiwara akan sangat memalukan? dan keluarga Briyan juga pasti akan malu. Jadi, rahasia akan benar-benar ditutup rapat.

__ADS_1


Aku dan Briyan sudah berada di hadapan tamu dan bertukar cincin. Pertunangan kami berjalan dengan sangat lancar dan mewah.


__ADS_2