
Aku dan Merry masih menunggu Sean dan Briyan. Tak satupun dari mereka yang kelihatan batang hidungnya.
"Kamu nggak sibuk? aku takut kamu dimarahi Bu Presdir."
Merry berpangku dagu. "Pekerjaanku hari ini nggak banyak, jadi sudah selesai dari tadi pagi. Kamu sendiri nggak kerja?? bukannya waktu cuti kamu sudah habis??"
"Iya, pukul setengah tiga aku akan berangkat kerja. Sekarang mataku mengantuk sekali, aku nggak tahu di mana aku harus tidur."
Tak berapa lama Sean datang dengan membawa beberapa bungkus makanan.
"Ma'af ya girls... aku terlambat." Wajah Sean berantakan, ia nampak kelelahan. Ia duduk di kursi samping Merry.
Aku membuka bungkusan yang dibawa Sean. Ia membeli beberapa makanan ringan, buah apel dan 2 kotak pizza yang masih hangat.
Aku mencicipi satu persatu makanan yang di bawa Sean, begitu juga dengan Merry. Tak berapa lama ponsel Sean berbunyi, Briyan menelponnya. Beberapa saat mereka mengobrol di telpon lalu Sean mengakhiri panggilan.
"Em, Dewi.. Briyan menyuruhku mengantarmu pulang ke wisma, dia bilang meeting nya akan makan waktu seharian." Ucap Sean.
"Benarkah??" Aku menghembuskan nafas kasar mendengarnya.
"Ayo kuantar sekarang, kamu pasti kelelahan menunggunya berjam-jam di sini."
"Iya."
Sean mengantarku pulang ke wisma kemudian langsung kembali ke kantor. Akhirnya aku bisa berbaring sebentar sambil menunggu jam kerja ku.
Siang yang begitu panas, aku terpaksa menyalakan AC. Sebenarnya jarang sekali aku menggunakannya. Tak berapa lama kemudian aku tertidur.
*********
Malam ini turun hujan yang sangat deras sekali, pengunjung pusat belanja tak bisa pulang. Mereka terjebak dan hanya berkeliling-keliling menghabiskan waktu.
__ADS_1
Beberapa pengunjung nampak asyik berjalan bersama dengan anak mereka. Namun diantara mereka juga ada anak-anak yang menangis terus menerus minta pulang.
Meskipun di luar sedang hujan deras, suasana di mall sangat ramai. Produk ku juga laris terjual malam hari ini.
Tiba-tiba saja aku melihat seorang yang begitu menjengkelkan, Yuri. Aku berusaha menghindarinya, akan tetapi dia sengaja memanggilku.
"Hey, pelayan!" teriak Yuri.
Akan tetapi aku menghindarinya dan berpura-pura tidak mendengarnya.
Tetapi Yuri menyusul ku dengan cepat. Ia menggenggam pergelangan tanganku dengan erat. Akan tetapi aku menghempaskan tangannya.
"Apa yang kamu mau??" aku menatap tajam padanya. Ku rasa perempuan ini sudah tidak waras.
"Pelayan, aku mau membeli baju di sana. Bukannya kamu pelayan? jadi kamu harus melayani aku." Ucapnya dengan santai.
Semua mata kini menuju padaku dan Yuri. Apakah dia ini sedang membalas dendam padaku tadi pagi? kalau aku bertindak gegabah, bisa-bisa aku mendapat teguran dari atasanku.
"Silahkan dipilih." Sahut ku singkat.
"Aku mau yang itu, yang warna merah." Yuri menunjuk sebuah gaun berwarna merah hati.
Aku mengambilnya dan menulis nota untuknya.
"Aku juga mau celana yang berwarna hitam di sana, tolong ambilkan!" ucapnya tersenyum padaku.
Aku berjalan mengambilkan celana berwarna hitam untuknya dan kembali menuliskan nota.
"Aku mau sweater yang di belakang sana, kelihatannya bagus. Tolong ambilkan!" Ia kembali tersenyum padaku.
Aku berbalik dan mengambilkan sweater yang ia maksud.
__ADS_1
"Bukan yang itu, tapi yang di sana!" Yuri kembali menunjuk sweater yang arahnya berbeda dari yang sebelumnya ia tunjukkan.
"Aku yakin kamu menunjuk sweater ini tadi." Aku mulai emosi di buatnya.
"Bukan ini yang aku maksud, kamu bisa kerja nggak sih?!" Yuri melemparkan sweater ke wajahku.
Aku sudah tidak tahan dengan perlakuannya, akan tetapi aku harus menahan emosiku agar tidak terjadi kejadian yang mempermalukan diriku sendiri.
"Cepat ambilkan sweater yang di sana!"
Aku berbalik mengambilkan sweater yang dia maksud.
"Nggak perlu kamu ambil sweater itu Dewi!" Aku mendengar suara yang ku kenal di samping ku.
Aku menoleh, dan benar saja itu Briyan. Yuri menjadi salah tingkah dengan kehadiran Briyan.
"Cepat ambil sendiri sweater yang kamu maksud." Ucap Briyan dengan nada rendah namun tegas.
Yuri yang tak bisa membela diri berjalan dengan cepat. Wajahnya cemberut dan mengambil sendiri sweater yang dipajang agak tinggi. Akan tetapi dengan tubuhnya yang tinggi ia mampu menggapainya.
"Nah, itu baru pelanggan yang punya sopan santun."
Yuri dan aku hanya terdiam setelah kedatangan Briyan. Semua mata masih memandang pada kami bertiga. Akhirnya Yuri membeli 3 produk ku dan pulang dengan raut wajah cemberut.
"Untung saja kamu datang..." Aku menghembuskan nafas panjang.
"Iya... kalau nggak kesabaran kamu akan segera habis kan??" tanya Briyan.
Kami berdua tertawa kecil.
"Apa yang kamu lakukan di sini??" tanyaku pada Briyan.
__ADS_1
"Aku... cuma mau jalan-jalan. Di rumah sumpek sekali. Sebentar lagi jam kerja berahir kan? aku mau mengajak kamu makan malam, oke?"
Aku mengangguk mengiyakan. Briyan berkeliling mall sambil menunggu jam kerja ku habis. Tak ku sangka dia akan datang malam ini.