Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 59


__ADS_3

Hari ini hari yang aku tunggu, tak perlu waktu lama untuk mengasah kehandalan ku membuat roti. Aku siap merias toko untuk memulai segalanya.


Pertama-tama mengatur tata ruang. Segalanya sudah aku desain dan pesanan mebel akan datang beberapa menit lagi.


Beberapa alat pemanggang roti juga ku letakkan sedemikian rupa. Beberapa poster, hiasan dinding dan pencahayaan semua ku atur sendiri dengan bantuan kuli yang Briyan bayar.


Seharian penuh aku melakukan semua ini hingga melupakan makan siang. Aku berpikir untuk membeli makan siang, akan tetapi Briyan sudah berada di hadapanku membawakan beberapa nasi kotak.


Aku, Briyan dan 2 kuli yang ada di ruangan itu makan bersama. Kami berempat makan tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Briyan juga membawa beberapa air mineral dingin dan minuman soda.


Briyan membelikan kami nasi Padang di rumah makan langganannya. Rasanya lumayan enak dan porsinya juga terbilang banyak, untuk budget 25 ribu tidak lah terlalu mahal dibandingkan menu masakannya.


"Sayang, kamu sudah resmi berhenti bekerja di mall?" tanya Briyan yang telah selesai menghabiskan 2 kotak makanannya. Sekarang ia menyalakan sebatang rokok.


"Sudah, sekarang aku bisa fokus." Ucapku sambil tersenyum.


"Sayang, kalau sudah selesai makan aku mau mengajakmu ke rumah kecil kita. Aku yalin rumah itu sudah kotor sekali, kita harus membersihkannya."


"Iya sayang, aku juga sudah selesai di sini." Sahutku.


Setelah kami memakan makan siang yang terlambat, aku dan Briyan pergi untuk melihat dan membersihkan rumah kecil kami. Jarak dari toko ke rumah itu tak begitu jauh, hanya sekitar 5 km.


Perjalanan 10 menit kami telah tiba di sana.


Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki kecil namun terdengar jelas olehku.


Aku mendorong pintu dengan cepat dan....


"Sena?!" Aku terperanjat melihat Sena berada di dalam rumah itu. "Apa yang kamu lakukan?!"


Sena nampak santai menanggapi ku, seakan ia orang yang berbeda dari sebelumnya.


"Ada apa kamu datang kemari?" tanyanya dingin.


"Ada apa? tentu saja aku ingin mengunjungi rumahku dan membersihkannya. Dan kamu, apa yang kamu lakukan di sini?" Aku mulai heran dengan gelagat Sena. Ia nampaknya sengaja ingin mencari masalah denganku.

__ADS_1


"Aku sekedar beristirahat di sini, karena aku nggak punya tempat tinggal. Ben pun juga sudah kamu penjarakan, sekarang aku sudah tak punya tempat untuk pulang ataupun seseorang tempat ku bersandar." Ia duduk di sofa, entah darimana ia dapatkan sofa itu. Akan tetapi nampaknya sofa itu setengah pakai.


"Aku nggak pernah melarang mu untuk beristirahat atau tinggal di sini, tetapi sebagai manusia kamu pasti punya pikiran untuk sekedar meminta izin tinggal di sini." Aku mencoba menaggapinya dengan santai.


"Kenapa aku perlu izin darimu, kamu memenjarakan Ben juga tak perlu izin ku bukan??" tanyanya semakin dingin.


"Oh, jadi ini tentang Ben. Mungkin seharusnya kemarin kamu tetap setia bersama dengannya di dalam sel."


Sena menatapku menyeringai.


"Sayang, ayo kita pergi. Biarkan saja dulu dia di sini untuk sementara." Ucapku perlahan kepada Briyan.


"Ya." Sahut Briyan singkat.


Aku dan Briyan kembali masuk ke dalam mobil dan pulang.


Di perjalanan pulang, aku dan Briyan terdiam seribu bahasa. Beberapa puluh menit kemudian, barulah Briyan mulai mengajakku berkomunikasi.


"Sayang... jangan terlalu dipikirkan, biarkan saja Sena tinggal di sana." Briyan mencoba mencairkan suasana.


"Iya." Sahutku singkat.


Briyan menoleh padaku sebentar. "Sayang, kamu tahu ayah sakit kerena terlalu memikirkan adik ku dulu. Ayah terlalu banyak berpikir hingga membuat tekanan darah dan jantungnya abnormal."


"Kalau begitu tersenyumlah... anggap saja kita sedang menghadapi kenakalan remaja." Ucap Briyan lagi.


"Kenakalan remaja?? tapi dia bukan remaja.. dia wanita berumur 27 tahun, hanya lebih muda 1 tahun dariku."


"Tenangkan dirimu sayang... apa kamu mau kita jalan-jalan ke pantai??" tanya Briyan berusaha menghiburku.


"Sepertinya itu ide bagus."


"Baiklah, kita ke pantai sekarang. Aku harap kepalamu bisa mencair di sana."


"Kepala?"


"Maksudku, emosi."


Aku hampir terkekeh mendengarnya. Si laki-laki ini... benar-benar dapat membuat suasana hatiku berubah drastis.


Di sana kami seperti biasa memesan minuman dingin. Sangat cocok untuk aku yang sedang emosi. Karena baru saja makan, kami tidak memesan satupun makanan berat.

__ADS_1


"Sayang, apa persiapan toko sudah mencapai 100 persen?" tanya Briyan padaku.


"Belum, masih sangat banyak yang belum. Hal-hal kecil yang memerlukan energi ekstra."


"Berjuanglah sayang, aku mendukungmu." Briyan tersenyum padaku.


"Terima kasih, kamu benar-benar mengangkat derajat ku."


"Mengangkat derajat?" tanya Briyan heran.


"Bagaimana tidak, kamu mengenalku sejak aku menjadi buruh. Sekarang, kamu membuatku menjadi seorang owner."


"Kamu terlalu cepat berterima kasih sayang, berterima kasihlah kalau kamu sudah memberikan ku putra dan putri nanti."


Aku hampir tersedak mendengar perkataan Briyan.


"Sayang, lihatlah... di sana ada keripik singkong dan pisang." Ucapku menunjuk pada pedagang kaki lima yang menjual keripik.


"Kamu suka keripik?" tanya Briyan.


"Ya, aku suka sekali.... sangat cocok di suasana santai begini." Aku berdiri dan berjalan menuju penjual keripik yang menggunakan gerobak. Jaraknya sekitar 20 meter dari ku.


"Beli lah agak banyak sayang, aku juga mau." Ucap Briyan.


Aku membeli dengan jumlah agak banyak, tak tanggung-tanggung aku membeli sekantong plastik putih penuh.


Kami berdua memakan nya hingga menjelang malam, barulah kami berdua pulang ke rumah.


Perjalanan yang jauh membuat kami kelelahan. Akan tetapi, aku melanjutkan membuat roti untuk keluarga besar ku. Suatu hari nanti, aku ingin keahlian ku ini bisa bermanfaat untuk semua orang.


Aku membuat 3 adonan berbeda dengan bentuk dan rasa yang berbeda pula. Setengah jam kemudian, beberapa loyang roti telah matang.


Aku mengambil 1 loyang roti untuk di isi selai buah dan krimer kemudian aku memanggangnya.


Untuk pertama kali ibu Briyan memuji roti yang ku buat. Dia mengatakan roti ku kali ini layak di pasarkan dan bernilai jual tinggi. Ia juga mengatakan aku harus memikirkan cara mengemas roti dengan baik agar harga jualnya semakin tinggi dan layak.


Aku sangat senang mendapat saran dari ibu mertuaku. Untuk pertama kalinya ia sangat senang memakan roti dan menghidangkannya untuk kakek dan nenek.


Semua orang nampak senang dengan roti buatan ku malam ini. Aku harap aku bisa bersaing di pasaran nanti, karena tidak sedikit juga toko yang laris manis dengan roti ynag dibuat dengan penuh cinta.


Cinta?

__ADS_1


Ya, aku yakin semua pasti berawal dari cinta. Menghidangkan roti atau makanan haruslah dengan cinta. Barulah akan menghasilkan rasa yang luar biasa. Bukan sekedar 'hidangan' ataupun 'camilan'.


__ADS_2