
Hari ini aku bangun pagi sekali, membantu menyiapkan sarapan untuk semua orang. Akan tetapi semuanya berjalan dengan sangat mudah karena rumah ini memiliki ART yang sangat kompleks dan berdedikasi.
Menu sarapan pagi ini juga tidaklah mewah seperti yang aku bayangkan. Nasi putih, nasi merah, beberapa sayuran yang hanya di rebus dan 1 panci besar sup ayam. Juga beberapa jenis ikan laut yang di kukus dan sambel.
Kakek dan nenek Briyan juga beberapa hari berada di sini karena keadaan kakek yang sering sakit.
Makanan sudah siap di meja makan, ART juga makan bersama dengan kami. Ayah dan ibu Briyan selalu memerintahkan mereka untuk selalu makan bersama. Jadi tak pernah ada kecanggungan di dalam rumah ini.
Selesai sarapan ayah dan ibu Briyan berangkat ke kantor. Sedangkan kakek dan nenek berjemur di halaman rumah.
"Sayang, apa hari ini kamu masih cuti?" tanya Briyan.
"Ini hari terakhir cuti ku, apa kamu bisa mengantarku ke wisma sekarang?"
"Ya, aku akan mengantarmu. Sayang... apa kamu juga melaporkan Sena?"
"Iya, aku melaporkan mereka berdua."
Briyan menghembuskan nafas kasar.
*******
Plak!
__ADS_1
"Kakak, apa yang kamu lakukan?"
Sena memegang pipinya yang baru saja aku gampar.
"Kamu menggadaikan surat rumah ayah dan ibu bukan??" tanyaku melipat kedua tanganku di depan dada.
Sena hanya menunduk sambil memegangi pipinya. Lalu ia berjalan menjauhi ku.
"Mau kemana kamu?!" aku menarik tangan Sena.
"Lepaskan!"
Sena menepis tanganku.
"Mana surat-surat rumah milik ibu? cepat katakan!" aku terus mendesaknya.
"Siapa Bu Samsi? oh, rentenir yang ibu Maksud??" aku terus memojokkan Sena.
Sena tak menyahut dan bereaksi apapun, tiba-tiba beberapa orang polisi masuk dan langsung menyergap Sena.
Sena tak terima di bawa ke kantor polisi sehingga dia berteriak-teriak memaki dan meminta pertolonganku. Akan tetapi tak ada satu orangpun yang bisa menolongnya.
"Dewi... ada apa sebenarnya? apa yang terjadi sama adik mu Sena??" tanya Merry masih sangat terkejut dengan kejadian barusan.
__ADS_1
"Seperti yang kamu dengar, dia menggadaikan surat-surat tanah ke rentenir. Sekarang ayah dan ibunya akan menjadi gelandangan. Mungkin dia merasa sangat senang sudah melakukan itu semua." Aku terduduk di sofa.
Briyan memelukku dan berusaha menasihati, begitu juga dengan Merry. Aku hampir saja mengeluarkan air mataku, akan tetapi rasa kecewa di hati ku menahannya untuk keluar.
"Kamu harus sabar dan berpikir jernih, aku yakin Sena akan segera berubah." Merry mencoba menghiburku.
Aku tak dapat memikirkan apapun selain perasaan sakit ku.
Setelah beberapa saat aku dan Briyan kembali ke kantor polisi untuk kembali dimintai keterangan dan lain sebagainya. Kejadian hari ini sungguh membuatku lelah dan frustasi hingga lupa untuk makan. Bahkan Briyan rela meninggalkan pekerjaannya demi urusan yang merepotkan begini.
15 menit kami diperjalanan hingga sampai di kantor polisi. Di sana ku lihat Sena dan Ben sedang saling menyalahkan dan membuat pernyataan yang berbelit-belit. Sehingga membuat polisi dihadapan mereka emosi sampai menggebrak meja. Sena dan Ben dibuat tak berkutik dan kembali menjawab semua pertanyaan.
Aku meminta agar rentenir yang bernama Bu Samsi juga segera di usut kasusnya. Aku hanya bisa menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib.
"Sayang, aku harus ke kantor sekarang juga ada pertemuan penting sore ini." Briyan mengatakan sambil terus melihat jam tangannya.
"Iya, aku juga sudah selesai. Tapi, kamu antar aku ke wisma saja. Aku harus mengambil sepeda motorku, nggak mungkin kamu terus mengantar jemput ku kan?"
Aku dan Briyan bergegas ke wisma, aku mengemasi sedikit barang-barangku. Di sana Merry hanya sendirian menikmati hari liburnya.
"Bagaimana, apa adikmu akan segera bebas?" tanya Merry.
"Belum, dia harus merasakan akibat perbuatannya terlebih dahulu Merry. Jangan sampai dia mengulanginya dikemudian hari." Tukas ku.
__ADS_1
"Iya, kamu benar juga. Tapi ingat lah Wi, jangan terlalu keras padanya."
"Iya, aku tahu."