
Di sepanjang perjalanan, Briyan bernyanyi kecil di dalam mobil. Suara nada rendah nya terdengar merdu di telingaku. Sesekali ia menggodaku dan mencolek hidungku. Lalu kami berdua tersenyum bersama.
Setengah jam kemudian kami sampai di deretan pertokoan. Kami berhenti di salah satu toko tersebut, hanya saja tokonya sedang tutup.
Briyan turun dari mobil, aku mengikutinya dari belakang. Tak berapa lama kulihat Briyan merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci.
"Ini, sekarang toko ini milikmu. Buka lah!"
Aku sangat terkejut mendengarnya.
"A—apa?!"
"Sekarang buka lah, ayo!" Briyan meyakinkanku.
Aku terdiam memegang kunci yang Briyan berikan. Ini tidak benar!
"Ada apa sayang? kenapa kamu berhenti?"
"Aku bukan perempuan matre yang menginginkan hartamu Briyan. Ma'af aku nggak bisa menerima ini." Ucapku sambil meletakkan kunci di telapak tangan Briyan.
Suasana menjadi canggung, Briyan menjadi bingung apa yang harus ia katakan. Rupanya ia belum memikirkan balasan kalimat penolakan ku.
"Sayang, aku nggak pernah bilang kamu matre... dan kalau kamu matre pun aku nggak masalah, kamu kan istriku." Briyan duduk di sampingku. kami berdua duduk di teras toko tanpa alas apapun.
Aku terdiam tak bergeming mendengar perkataan Briyan.
"Aku dan mamah memang membelikan toko ini untuk mu, tapi ini hanya toko kecil yang kosong. Aku paham sekali kamu nggak akan mau menerima ini, tapi aku dan mamah ingin sekali kamu berhenti bekerja di pusat perbelanjaan sebagai SPG. Kamu bisa memulai bisnis kecilmu di sini dengan uang tabunganmu selama ini. Untuk urusan modal, aku nggak akan ikut campur sedikitpun."
Briyan menyudahi kalimatnya yang panjang, ia mengambil rokok dari dalam sakunya dan menyalakannya. Aku terdiam mencerna semua yang Briyan katakan.
"Bagaimana, kamu mau kan? pertama-tama aku harus tahu dulu berapa jumlah uang tabunganmu?? aku tahu kamu selalu menabung, kamu bukan tipe perempuan boros."
"Iya, aku selalu menabung. Kalau tidak salah di ATM ku hanya ada uang 20 juta, ditambah lagi uang 30 juta yang pernah kamu berikan dulu, tapi aku melakukan beberapa kali penarikan. Aku yakin jumlahnya sekarang dibawah 60."
__ADS_1
"Kalau uang mu kurang untuk modal, kamu bisa minta padaku kapan saja."
"Nggak, terima kasih. Aku akan berusaha sendiri."
"Akhirnya... kamu mau juga menerima toko ini." Briyan menghembuskan nafas kasar.
"Aku nggak mungkin kan, terus bekerja di mall ? cepat atau lambat aku pasti berhenti bekerja di sana sesuai kemauan kamu."
Briyan tersenyum. "Nah, sekarang buka lah!"
Aku memandang Briyan dengan senyuman tipis, mengambil kunci di tangan Briyan dan membuka pintu.
Klek!
Klek!
Pintu terbuka sempurna, ruangan ini lumayan luas dan bersih. Ukurannya sekitar 8x10 m². Kami memeriksa setiap inci ruangan, akan tetapi aku tak berani menanyakan berapa mereka membayar toko sebagus ini. Harganya pasti ratusan juta.
Aku mengecek kamar mandi dan toilet, bahkan di sana juga ada sebuah kamar tidur. Toko ini bertingkat, aku dan Briyan naik ke lantai atas untuk memeriksa.
"Briyan...."
"Apa?" Briyan menoleh padaku.
"Aku nggak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu dan juga pada mamah dan ayahmu."
Briyan tersenyum, ia membelai rambutku.
"Terlalu cepat untuk berterima kasih, buktikan saja semua dengan usaha yang akan kamu jalani nanti, oke?"
Aku membalas senyumannya. "Iya."
"Jadi, apa kamu sudah memikirkan sesuatu tentang usaha apa yang akan kamu jalankan?" tanya Briyan.
__ADS_1
Aku menggeleng. "Aku belum terpikir sedikitpun."
"Pikirkanlah segalanya dengan matang, oke?"
Aku mengangguk mengiyakan perkataannya.
Drrrttt
Drrrrtttt
Drrrrtttt
Ponsel Briyan bergetar, seseorang menelpon nya. Mereka mengobrol sebentar dan kemudian Briyan mengakhiri obrolannya di telpon.
"Waktu pertemuan dipercepat, aku harus kembali ke kantor." Ucap Briyan nampak terburu-buru.
"Briyan, bisakah kamu mengantarkan ku ke rumah kita kemarin?" tanyaku agak ragu-ragu.
"Kenapa? kamu akan sendirian di sana. Lebih baik kamu istirahat saja di wisma."
"Aku harus bersih-bersih di sana. Rumah itu pasti sudah sangat kotor." sahutku.
Briyan berpikir sejenak. "Bagaimana kalau aku terlambat menjemput?"
"Aku bisa naik taksi, kamu tenang saja."
Briyan mengernyitkan keningnya. "Oke, aku antar kamu ke sana. Tapi, usahakan pulang secepat mungkin kalau aku terlambat."
"Ya."
Akhirnya Briyan mengantarkan ku ke rumah kami kemarin. Akan tetapi Briyan hanya mengantarkan ku sampai di halaman depan saja.
"Hati-hati di jalan." Untuk pertama kalinya, aku mengatakan itu pada Briyan.
__ADS_1
"Oke sayang." Dan seperti biasa Briyan menyahut dengan senyuman tanpa canggung dan percaya diri.