Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 21


__ADS_3

"Wi, setelah makan ini aku mau kita ke rumah orang tua ku."


Aku menatap Briyan dengan tatapan heran. "Untuk apa pak?"


Briyan balik menatapku. "Menikah lah denganku." Briyan menggenggam tanganku dengan erat.


Aku terkejut dan bingung harus mengatakan apa. Aku melepaskan genggaman tangan Briyan perlahan.


"Jadi, kita akan melanjutkan pernikahan kontrak kita?"


Briyan menghembuskan nafas perlahan. "Ya."


"Jadi, perjanjian kita masih berlaku?"


"Ya, tentu saja." Ucap Briyan tersenyum meyakinkan ku.


"Em.. baiklah, kita akan ke sana setelah makan ini."


Briyan tersenyum mendengar perkataan ku. Briyan makan es buah dengan cepat, bagiku ia nampak sedikit terburu-buru. Tapi aku malah bersantai-santai. Jujur saja, aku masih trauma dengan pertemuan terakhirku dengan ibunya Briyan.


"Wi, kamu lelet sekali makannya." Briyan menatap ku dengan tatapan tak sabar.


Aku menatap jam tangan ku. "Aku harus ke mushola sebentar, kamu tunggu di sini ya!"


"Mu-mushola?"

__ADS_1


Aku berdiri segera. "Tunggulah di sini pak! aku harus sholat dzuhur dahulu."


Aku berjalan ke samping warung es buah dan menuju mushola untuk sholat. Setelah selesai sholat aku kembali ke warung es buah.


"Apa kamu selalu sholat lima waktu?"


"Aku hanya berusaha sholat lima waktu pak."


Briyan tersenyum melihat ku, wajahnya nampak lebih berseri-seri kali ini.


"Sikap kamu memang kasar, kamu juga nggak memakai hijab, tapi ternyata kamu bisa sholat juga."


"Ya pak, aku memang nggak punya orang tua. Tapi aku punya Tuhan tempat ku mengadu." Ucap ku dengan percaya diri.


Selesai sholat di mushola, aku kembali ke tempat duduk ku dan menyimpan mukena ku dalam kantong plastik berwarna biru.


Briyan nampak memperhatikan dengan seksama apa yang aku lakukan. Mungkin pemandangan seperti tak pernah dia lihat pada semua mantan pacarnya, atau mamah mungkin? Aku yakin Mak lampir itu tak pernah sholat. Ah, aku pasti kualat menyebutnya demikian.


"Oke, sekarang kita pulang ke kost kamu dulu. Aku mau kita naik mobil berdua karena ke rumah ku jaraknya lumayan jauh dari sini, sekitar 40 km."


"Baiklah pak, kita ke kost ku terlebih dahulu."


Kami pergi beriringan, setelah sampai di kost aku memasukkan sepeda motor ke dalam kamar kost dan mengikuti Briyan menuju rumahnya.


Di sepanjang perjalanan, kami bercerita dan bercanda dengan santai. Hingga tak terasa mereka telah sampai di rumah Briyan. Rumah itu sangat mewah, dari luar persis seperti istana. Kami di sambut oleh security di gerbang dan ia nampak sangat sopan.

__ADS_1


Kami berdua masuk ke dalam rumah. Di sana kami sudah di tunggu oleh kedua orang tua Briyan. Aku merasa sedikit gugup dibuatnya.


"Dewi, duduklah!" Ayah Briyan menyuruhku untuk duduk di sofa.


Sofa nya sangat bagus, elegan dan empuk. Berbeda dengan sofa yang pernah aku duduki selama ini, yang ini benar-benar sangat empuk.


Terlihat seorang pembantu rumah tangga membawa beberapa gelas minuman da kue mewah yang belum pernah aku lihat sebelumnya.


"Dewi, apa benar kamu mau menikah kontrak dengan Briyan?" tanya Ayahnya Briyan padaku.


"Ya pak," aku mengiyakan tanpa basa basi.


"Saya berharap Briyan memiliki istri yang sederajat dengannya, berpendidikan tinggi, cerdas dan yang paling penting dia bisa mengelola perusahaan dan menjadi kebanggaan keluarga. Akan tetapi, mencari perempuan seperti itu sekarang lumayan sulit juga." Ayah Briyan menghentikan kalimatnya dan mengambil nafas panjang.


"Dan sekarang, kamu hadir di sini sebagai calon istri kontrak nya Briyan. Awalnya saya berpikir itu cuma akan menjadi masalah nantinya, tapi setelah saya pikir-pikir lagi, baiklah... Saya punya keuntungan juga dari situ, karena Briyan sangat pandai, ia sering menjadi ketua konferensi pers antar presdir. Dari situ dia bisa mendapatkan banyak keuntungan mulai dari konsumen, saham baru, investasi dan endors. Namun, akhir-akhir ini ia menjadi semakin banyak saingan. Bahkan di turunkan dari jabatannya sebagai ketua, hanya karena dia belum beristri. Itu membuat kami semua frustasi."


Oh, jadi ini tentang jabatan?


Batin ku bersuara.


"Selain itu, ada banyak masalah dan halangan buat Briyan yang membuatnya kesulitan hanya karena ia belum memiliki istri. Jadi, saya putuskan untuk menyetujui pernikahan kontrak ini. Demi kelangsungan perusaahan yang hampir ada diujung tanduk."


Briyan hanya menunduk mendengarkan penjelasan ayahnya. Ketika aku melirik kearahnya ia tak membalas, bahkan raut wajahnya berubah. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Tapi, kalau hanya menjalankan nikah kontrak dan aku masih memiliki kebebasan ku, dengan senang hati aku pasti setuju. Apalagi jika dapat bayaran yang setimpal.


Hari itu kami mengobrol seperlunya dengan presdir. Dan kami sudah menyepakati perjanjiannya. Perjanjian yang pernah Briyan dan aku buat.

__ADS_1


__ADS_2