Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 30


__ADS_3

Aku dan Briyan berjalan menyusuri rumah warga di bantaran sungai. Karena masih gelap belum ada yang melintasi jalan tersebut. Hanya ada 1-2 kendaraan bermotor yang melintas.


"Aku belum pernah ke daerah ini, apa kamu pernah kemari?" tanya ku pada Briyan.


"Aku belum pernah ke sini, tapi kalau kita berjalan terus ke depan aku yakin kita akan bertemu jalan raya." ucapnya sambil memeriksa tas kecil di pinggangnya.


"Jadi, sekarang kamu sudah nggak punya uang untuk naik taksi?"


Briyan menggeleng, "tas ku sudh kering sekarang. Ponselku juga sudah hilang diambil oleh para penculik itu. Sial sekali!" Briyan mengumpat.


Sekarang cahaya dari ufuk timur semakin jelas, matahari akan terbit sebentar lagi. Tetapi cuaca masih dingin, aku melipat kedua tanganku di depan dada dan merapatkan jaket.


"Sepertinya kita akan jalan kaki saja sampai rumah." Ucapku menoleh padanya.


Briyan menghela nafas panjang.


"Aku punya kenalan, tetapi masih agak jauh dari sini. Sepertinya kita bisa minta tolong."


"Oke...." ucapku santai.


Sesekali ku tatap wajahnya yang kusut dan memar. Dia masih tampan dengan kulit putih dan mata sipitnya.


"Kamu lihat apa?" tanya Briyan mengejutkanku.


Aku menjadi gelapan di buatnya.


"Apa?? memangnya apa yang aku lihat??" Aku hampir saja menjadi gagap menjawab pertanyaannya.


"Kamu memandangiku terus, aku tahu aku belum mandi dan sangat kusam. Tapi tatapan mu benar-benar mengejekku tahu..." ucapnya tanpa menoleh ke arahku.


"Benarkah? aku nggak tahu tatapan ku menyinggungmu. Aku pikir kamu suka kalau aku menatap mu."


Briyan menghentikan langkahnya. "Kamu, bilang apa apa barusan?"


Tapi aku terus berjalan ke depan, ku yakin sekarang tak mampu menatapnya, sialan!

__ADS_1


"Aku lapar, apa ada makanan di dekat sini??" Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


Briyan menatapku dengan agak kesal karena aku mengalihkan pembicaraan.


"Kita udah nggak punya uang, jadi jangan meminta yang bukan-bukan. Oke?" Ucapnya berjalan tanpa ekspresi.


"Jadi, mereka juga mengambil ATM mu?" tanyaku lagi.


"Untung saja, hari aku di culik aku membawa dompetku yang ini. Jadi, ATM ku aman... Tetapi, meskipun aku membawa ATM aku yakin mereka tidak tertarik dengan uangku. Karena yang mereka mau hanyalah aset yang dimiliki orang tuaku."


Benar juga apa yang dikatakan Briyan. Jadi, pagi ini tidak ada sarapan. Ini benar-benar kesialan kami dari kemarin. Tapi dibalik itu semua aku masih bersyukur bisa terbebas dari kejaran para penculik tadi malam. Kejadian tadi malam sungguh membuatku bergidik.


"Aku harus charge ponselku, supaya bisa mencari bantuan. Ponselku sudah kehabisan daya sejak kemarin sore."


"Ya, kita akan isi daya ponselmu. Sementara itu, kita harus berjalan kaki dulu beberapa kilometer."


"Ya," sahutku.


Kami berdua berjalan kaki ke depan untuk menemukan jalan raya dan memastikan keberadaan kami. Karena matahari mulai terbit, warga sekitar juga mulai keluar rumah memulai aktivitasnya.


Semakin ramai saja tempat ini, juga banyak anak sekolah yang naik sepeda kayuh maupun motor. Suasana di tempat ini menjadi padat. Beberapa pasang mata juga memperhatikan kami yang sedang berjalan, namun kemudian mereka tampak acuh.


Beberapa pohon besar yang sangat rindang menambah suasana mistis di jalan sempit itu. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh seekor ular yang menyeberang. Ular itu sangat panjang, sekitar 1,5 meter. Dia menyeberang dengan sangat cepat.


Kami terus berjalan hingga sampai di ujung penghabisan jalan. Di ujung jalan nampak sangat rindang tertutup oleh beberapa pohon besar. Kini kami telah berada di jalan besar.


"Jadi, kemana arahnya? kanan atau kiri?" tanyaku pada Briyan.


"Aku nggak tahu persis, tapi aku akan coba ambil jalan kiri." Ucapnya mengambil langkah tanpa ragu.


Aku mengikutinya dari belakang, beberapa mobil dan truck besar melintas membuat angin bertiup kencang kearah kami. Sesekali Briyan mengucek matanya yang terkena debu.


Sekarang tak ada tempat rindang, semua panas sepanjang jalan. Aku dan Briyan menggunakan jaket kami masing-masing untuk melindungi kepala kami dari panas matahari langsung.


"Kamu baik-baik saja wi?" tanya Briyan yang saat ini sudah mandi dengan keringat.

__ADS_1


"Aku... mau pingsan." Ucapku dengan ekspresi kelelahan seperti ingin pingsan.


"Apa?! tu-tunggu kita dulu. Kamu nggak boleh pingsan di sini!" Ucap Briyan menarik ku ke bawah pohon di dekat kami.


Kini kami duduk di bawah pohon, berteduh. Ekspresi Briyan masih khawatir.


"Kamu baik-baik saja??" tanya nya lagi.


Aku tersenyum melihat ekspresi ke khawatirannya. "Ha ha ha ha... aku baik-baik saja, kenapa wajahmu muram begitu??" aku tak dapat menahan tawaku.


Ekspresi Briyan seketika berubah, "sejak kapan, kamu bisa bercanda sih??" tanyanya terduduk lesu.


Benar juga apa dia katakan, sejak kapan aku bisa bercanda. Biasanya kan aku ketus dan judes. Tukas ku dalam hati. Entahlah, mungkin sejak barusan.


Kami duduk sebentar mengendorkan otot-otot kaki yang mulai tegang. Aku sangat haus, ku pikir Briyan juga sama dengan hausnya denganku.


Tiba-tiba seorang penjual es keliling lewat di hadapan kami. Aku memanggilnya dengan percaya diri. Briyan hanya memandangiku penuh heran.


Si penjual es berhenti, aku memesan 4 gelas ek kelapa kopyor yang dijual penjual keliling tersebut. Setelah itu aku mengeluarkan dompet kecil dari saku ku dan membayar.


Setelah penjual es tersebut pergi, aku memberikan 2 gelas es kepada Briyan. Briyan menerimanya dengan ekspresi tidak senang.


"Dan sejak kapan kamu pandai mengerjai ku?" tanya Briyan dengan tatapan tajam, akan tetapi ekspresi itu sangat lucu di mataku.


"Entahlah," aku menjawabnya tanpa menoleh kearahnya dan terus meminum es ditanganku.


"Dasar pembohong, kamu punya uang dan membawa dompetmu. Tapi berpura-pura nggak punya uang??"


"Aku nggak merasa sudah berbohong." Aku menatapnya balik dengan tatapan tajam, "memangnya kamu bertanya aku bawa uang atau dompet??"


Briyan terlihat semakin gemas dengan tingkahku, akan tetapi dia hanya bisa diam dan menatapku.


"Kamu keterlaluan Wi, kamu membiarkan kita berjalan kaki sudah 2 kilometer dan kamu baru mengeluarkan dompetmu?? kita bisa naik taksi dengan uangmu kan? kamu benar-benar ingin aku jadi kurus dan hi—" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya aku sudah memotong.


"Percuma saja pak Briyan... sebenarnya aku baru sadar tadi malam waktu ganti pakaian, aku juga salah membawa dompet. Dompet ini isinya cuma 50 ribu, ini uang jajanku saat jam istirahat kerja."

__ADS_1


Briyan terdiam mendengar penjelasan ku, aku mengeluarkan isi dompetku yang hanya tersisa 30 ribu.


Kami berdua menarik nafas panjang, yah... paling tidak sekarang kami sudah tidak kehausan lagi dan bisa berjalan kaki kembali.


__ADS_2