
"Kakak! kakak...!" Sena memanggil.
"Apa?" Aku berbalik ke arah Sena.
"Aku mau kita foto selfie kak, kakak cantik sekali." Sena tersenyum lebar dan segera berpose.
Krik!
Krik!
"Waaahhh... kakak sangat cantik." Sena tersenyum lebar melihat foto kami berdua.
"Aku masih ingat semalam pacar mu yang kurang a**r itu mengatakan aku seperti preman." Ucapku ketus pada Sena.
Sena terdiam mendengarnya. "I—itu, ma'af kan aku kak. Dia memang kurang a**r sekali."
Aku duduk di ruang rias dan mulai melepas satu per satu atribut yang aku gunakan termasuk gaun pengantin.
"Sebenarnya kamu mau apa ke sini? apa kamu mau memeras kakak ipar mu lagi?" tanyaku tanpa basa basi.
"Kakak, aku sini untuk mencari pekerjaan. Aku sudah nggak mau lagi bekerja di club malam, aku juga ingin seperti kakak yang memiliki kehidupan normal." Sena duduk di kursi sebelahku.
"Kalau kamu mau menjalani hidup normal, pertama-tama kamu harus putus hubungan sama kekasih preman mu itu."
Suasana hening sekejap.
"Iya kak, aku akan memikirkan tentang itu... kakak, aku tahu sebenarnya kak Briyan orang kaya."
Aku berhenti dari aktivitas ku dan menatap Sena. "Jadi?"
"Aku tahu apa yang kakak mau, jangan sampai ayah, ibu atau melati mengetahui kebenarannya kan? aku tahu kakak nggak suka mereka meminta uang pada kak Briyan."
__ADS_1
"Apa bedanya mereka semua denganmu? bukannya kamu kemarin menikmati uang kakak ipar mu juga??"
"Maaf kakak... aku cuma anak kecil yang ingin dimanja. Tentang itu, tolong ma'afkan aku ya... Aku ke sini untuk mencari pekerjaan yang layak, tolong bantu aku kak."
"Aku mau bantu kamu, asalkan kamu putus dari laki-laki kurang a**r itu."
"Aku akan berusaha kak."
*******
Aku mengajak Sena tidur di wisma bersama denganku. Aku harap dia tidak membuat masalah di sini.
"Merry, aku minta ma'af karena harus membuatmu repot dengan menitipkan adik ku di sini."
Merry tersenyum. "Itu bukan masalah Wi... dia kan sedang mencari pekerjaan."
"Terima kasih, kamu sangat pengertian."
Aku berpamitan dan pergi bersama Briyan ke rumah nya, untuk sementara aku harus tinggal bersama dengan keluarga Briyan. Itu bukan masalah bagiku, hanya saja aku harus membuat surat pengunduran diriku besok dan semua itu juga memakan waktu.
Sesampainya di rumah Briyan, seperti biasa aku di sambut biasa saja oleh orang tua Briyan. Mereka menyuruhku masuk dan beristirahat, hanya itu.
Baru saja aku masuk ke kamar, ponselku berdering. Ada nomor baru yang menelpon, ternyata itu adalah ibu ku.
["Dewi, apa Sena di sana bersama mu?"]
["Ya, ada apa Bu?"]
Ibu menangis.
]"Dewi... ibu nggak tahu harus menceritakan semua ini darimana... ayahmu sekarang berada di rumah sakit, dia terkena serangan jantung. Dan dia babak belur habis di hajar sekelompok preman..."]
__ADS_1
Ibu kembali menangis.
["Ceritakan pelan-pelan Bu, aku nggak bisa mendengar suara mu dengan jelas.."]
["Ayahmu sedang kritis Wi, dan sekarang ibu kehabisan uang untuk menyelesaikan administrasi.... Dan semua ini terjadi karena ulah Sena..."]
["Sena??"]
["Sena terlilit hutang pada rentenir, dan juga beberapa koperasi simpan pinjam. Tapi, Sena sangat keterlaluan... dia dan kekasihnya kabur entah kemana setelah menggadaikan surat-surat rumah Wi... sekarang ayah, ibu dan melati akan menjadi gelandangan."]
Sekarang tangisan ibu semakin menjadi.
["Aku akan kirimkan uang sekarang, ibu tenang saja. Dan Ben akan aku laporkan ke kantor polisi sekarang juga."]
Betapa emosi ku sekarang semakin menjadi mendengarkan perkataan ibu di telepon. Aku meminta Briyan mengantarkan ku ke kantor polisi. Aku juga menyerahkan bukti video ketika Sena dan Ben memasuki dan membobol rumahku semalam.
Setelah beberapa waktu kemudian, kami keluar dari kantor polisi. Sekujur tubuh ku bergetar menahan emosiku yang memuncak.
Pukul 21.00, malam semakin dingin. Akan tetapi aku enggan untuk pulang ke rumah Briyan. Aku tak ingin orang rumah melihatku dalam keadaan seperti ini.
"Sayang... uangnya sudah aku transfer, 30 juta semoga saja cukup."
Aku tak merespon perkataan Briyan.
"Sayang.... sudahlah, ayo kita pulang." Ajak Briyan.
"Aku nggak bisa pulang sekarang, aku mau menghirup udara segar di pantai."
Briyan heran dengan permintaanku. "Tapi sayang, sekarang sangat dingin."
"Kamu tunggu saja di dalam mobil, aku ingin jalan-jalan sebentar."
__ADS_1
"Yasudah, ayo naik."
Aku dan Briyan menuju pantai, di sana kami berdua hanya memesan beberapa makanan kecil dan minuman hangat.