Autumn In Heart

Autumn In Heart
Part 43


__ADS_3

"Kamu nggak kerja hari ini?" tanyaku pada Briyan.


"Aku mau menikmati hari-hariku bersama istriku dahulu." Sahut Briyan.


Aku terkejut mendengarnya. Benar juga, sekarang kami hanya berdua saja di rumah. Tentu saja aku menjadi gugup dibuatnya.


"Kamu nggak perlu tegang begitu, meskipun kita sudah sah menjadi suami istri aku nggak akan memaksamu dalam hal apapun. Kamu cuma ingin mengajakmu pergi ke kantor bersama, bagaimana?"


Briyan pasti mengetahui kegugupanku, aku memang mencintainya tapi entah kenapa untuk dia sentuh aku masih saja belum siap.


"Itu ide bagus." Sahutku.


"Cepatlah bersiap, gunakan pakaian mu yang rapi." Ucap Briyan duduk di depan tv sambil memainkan ponselnya. Ia nampak sibuk dengan beberapa pesan whatsapp.


Aku mengganti pakaianku dengan yang lebih rapi juga berias tipis. Di cermin, aku melihat tas Briyan yang tergantung di dinding kamar. Kulihat tas itu nampak menganga lebar karena resletingnya tidak di tutup.


Kenapa Briyan ceroboh sekali, bukankah biasanya dia tidak pernah meninggalkan tasnya dalam keadaan terbuka? aku berbalik dan menutup tas Briyan yang menggantung. Beberapa helai uang di tas nya mencuri perhatianku.


Bukan kah dia bilang jumlah uang di tasnya sekitar 6 juta? kenapa lembaran seratus ribuan ini nampak tipis sekali?

__ADS_1


Aku menjadi penasaran, apakah seseorang telah mencuri uang Briyan?


Aku mulai curiga dan menghitung uang yang kulihat, benar saja uang itu hanya ada 1,5 juta. Aku membuka resleting tas di sampingnya, dan tidak menemukan uang selain 1,5 juta tersebut.


Aku mencoba mencoba mengecek seluruh tas Briyan, akan tetapi Briyan mengejutkanku dengan kemunculannya.


Sriingg!


Briyan membuka tirai pintu dan tatapan kami bertemu. Ia memandangi tas yang sedang ku pegang.


"A—aku, aku lagi memeriksa tasmu..."


"Briyan...."


"Apa??" Briyan menyahut tanpa menoleh ke arahku.


"Bukannya kamu bilang uangmu ada 6 juta di dalam tas ini. Tapi, kenapa cuma ada 1,5 juta??"


"Jadi, kamu benar-benar memeriksa tasku?" tanya nya masih tak menoleh. Ia sibuk mencari sesuatu di dalam lemari pakaiannya.

__ADS_1


"Aku nggak sengaja, aku melihat resleting tas kamu terbuka. Dan aku cuma melihat beberapa lembar uang seratus ribuan. Aku nggak mungkin salah lihat, jadi aku mencoba menghitung jumlahnya hanya ada 1,5 juta. Apa ada seseorang yang mencuri uangmu?"


"Masa sih, mungkin aku salah hitung jumlah uang dalam tas itu. Hilang pun nggak masalah, aku masih punya banyak di ATM." Briyan masih sibuk dengan pencariannya.


BRAK!!


Aku mendorong pintu lemari dan membuat Briyan terkejut.


"Apa seseorang sudah mencuri uang di tas mu??"


"Nggak, mana mungkin." Briyan masih tidak melihat kearah ku.


"Tatap aku kalau kita sedang bicara, kamu sekarang suamiku. Mulai sekarang nggak ada yang kita sembunyikan. Sekarang katakan apa uangmu hilang dicuri? atau kamu berikan pada keluargaku sebelum mereka ke stasiun??"


"A—apa, ng—nggak...!"


"Kamu berbohong Briyan!" Aku meninggalkan Briyan dengan perasaan sangat kesal.


Aku pergi ke halaman belakang rumah, duduk di bawah pohon. Aku hampir saja menangis, jadi Briyan memberikan uangnya 4,5 juta sebelum keluarga pulang?

__ADS_1


Aku benar-benar marah, sedih berkecamuk di dalam kepala ku. Kenapa mereka tega memeras Briyan seperti ini. Belum cukup kah uang 3 juta yang Briyan berikan pada mereka kemarin? aku benar-benar tak habis pikir.


__ADS_2