
Setelah memberikan ponsel kepada Manda, Rizki memberi waktu kepada Manda. Mungkin dia ingin segera menghubungi Dira.
Manda berjalan dan berdiri dekat jendela. Dia tampak ragu-ragu tapi rasa kangen kembali menguatkannya.
Tut....tut....tut
Nomer Dira masih terhubung, entah ini masih Dira atau orang lain yang sudah mengunakan nomer Dira. Manda menunggu dengan rasa cemas.
" haloooo....." suara dari balik telpon, sepertinya bukan suara Dira, Manda terdiam beberapa saat sampai ketika seorang berbicara dari balik telpon
" siapa....
" enggak tahu bu, dia diam saja."
Manda samar-samar mengenali suara itu, benar itu suara Dira. Manda sangat senang sampai-sampai dia lupa berbicara dan hampir saja Dira mematikan panggilannya.
" Diraaa.... Ini aku." kata Manda
Mendengar suara yang familiar Dira mendekatkan ponselnya karena tidak yakin dengan suara yang didengarnya Dira bertanya.
" Ini siapa...." kata Dira dengan penuh harap kalau orang di balik telpon adalah Manda
__ADS_1
" ini aku Manda...."
" Manda.... Ini benar kamu ? Kamu ada di mana sekarang. Kembali lah.!" kata Dira
" Maaf tapi aku tidak bisa." kata Manda yang terdengar sedih
" kenapa tidak bisa, kembalilah... Semua menunggumu, termasuk papa. Dia sangat merindukanmu." kata Dira.
Manda terdiam beberapa saat. dari balik telpon Dira bercerita banyak hal. Meskipun Hermansyah tidak pernah menyinggung Manda tapi Dira bisa melihat dari espresinya kalau sang papa sangat merindukan keberadaan anaknya.
Mendengar perkataan Dira, Manda menitikan air mata. Meskipun dia sangat ingin kembali tapi dia tetap tidak bisa. Manda bercerita kalau dia sudah menikah dengan Rizki dan dia ingin melahirkan dan membesarkan anak mereka.
Setelah bercerita banyak hal, Manda dan Dira mengakhiri pembicaraanya. Manda duduk di tepi tempat tidur, pikirannya masih membayangkan bagaimana kalau dia kembali ke Jakarta. Tapi kenyataan meyadarkan Manda ketika Rizki datang.
" kamu sudah berbicara dengan Dira ?" kata Rizki
Manda mengangguk dan tersenyum lalu memeluk suaminya itu dan bilang kalau dia sangat senang bisa berbicara dengan Dira. Meskipun sang papa belum bisa memaafkannya tapi dia berharap suatu saat nanti dia bisa memaafkan Manda dan menerima Rizki dan anak yang di kandungnya.
Rizki juga tersenyum dan membelai dengan lembut kepala Manda, dia senang kalau Manda juga senang. Apa pun itu akan di perjuangkan Rizki untuk kebahagiaan istri dan anaknya nanti.
Disisi lain Dira memasuki kantor Hermansyah. Dia ingin sekali memberitahu papanya kalau dia baru saja berbicara dengan Manda. Tapi melihat papanya terlihat sibuk dan emosi, Dira mengurungkan niatnya.
__ADS_1
" Ada apa Dira ? Ada yang ingin kamu katakan ?" kata Hermansyah yang menghentikan langkah Dira yang hendak pergi.
" tidak pa... Sepertinya papa sedang sibuk, jadi nanti saja Dira bicara. Lagi pula bukan hal penting kok."kata Dira sambil tersenyum dan meninggalkan ruangan Hermansyah.
Dira kembali keruangannya. Dia melihat jauh ke depan sebuah pemandangan kota yang begitu sibuk. Dira memikirkan keadaan Manda yang yang sedang berada jauh dikota asing.
" semoga kamu baik-baik saja." gumam Dira
Setelah semua orang meninggalkan ruanga, Hermansyah membuka laci dan melihat ada sebuah foto dia dan Manda ketika masih kecil. Terselip kerinduan disana tapi Hermansyah mengabaikannya. Hermansyah berdiri dia menuju jendela dan menatap jauh kedepan. Dari lubuk hati yang paling dalam dia tetap merindukan sang buah hati.
" Dimana kamu Manda ?" gumam Hermansyah
Dari tempat berbeda Dira, Hermansyah dan Manda sama-sama merasakan perasaan yang sama yakni Kerinduan.
Tapi Hermansyah masih bersikukuh dengan egonya. Tidak mau memaafkan Manda dan mencarinya. Dia masih sangat kesal ketika tahu Manda memilih pergi dengan pria itu dari pada bertahan dengan keluarganya. Disisi lain ada sedikit penyesalan ketika Kardi datang menemuinya dulu, dia terlalu meninggikan ego nya dari pada memaafkan anaknya. Dan akhirnya Manda pergi entah kemana.
Rizki melihat dari kejauhan, terlihat kesedihan diwajah Manda. Dia tahu kalau istrinya itu sekarang sedang merindukan keluarganya. Bagaimanapun keluarga tetap keluarga, dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Manda. Rizki berfikir suatu saat nanti dia akan membawa Manda pulang menemui keluarganya entah itu kapan.
Manda menghela nafas panjang dan mulai tersenyum, dia bersyukur meskipun hanya lewat telpon tanpa melihat wajah dan bersentuhan Manda dapat meredakan kerinduan yang ada dihatinya. Dia melihat Rizki yang sedang berkerja dan dia bersyukur memiliki seorang suami yang begitu perhatian dan memikirkan keadaannya.
Manda bergabung dengan Rizki membantu menanam bibit sayur mayur bersama pekerja yang lain, disana Manda bisa tersenyum dengan lebar. Melihat Manda sudah baikkan Rizki juga ikut senang.
__ADS_1