
Bapak sopir itu tepat membawa Manda kerumah sakit yang biasa dia datangi untuk pemeriksaan rutin. Setelah mendengar kabar Manda di bawa kerumah sakit dokter Intan yang menangani Manda segera datang.
" bagaimana apa yang kamu rasakan ?" kata Dokter Intan
" Nyeri pada punggung, aku juga merasa mulas." kata Manda
Dokter Intan melihat sekeliling, dia tidak melihat seorangpun yang mendampingi Manda.
" Manda... Dimana keluargamu ?" tanya Intan
Manda hanya diam saja, dengan beralasan perutnya yang semakin bertambah mulas Manda memalingkan wajah dan tidak menjawab pertanyaan Intan. Melihat Manda yang semakin kesakitan Intan segera menyuruh beberapa suster untuk mempersiapkan persalinan.
Manda terlihat begitu keras menahan sakitnya pembukaan, andai saja Rizki ada bersama dia saat ini mungkin dia akan dengan mudah melewati fase ini.
" Manda... Manda harus kuat, serang sudah buka 9 tahan sebentar lagi." kata Intan
Manda hanya mendengarkan perkataan dan arahan dari dokter intan, tidak sepatah kata pun dia keluarkan dari mulutnya. Hanya sesekali dia mendesah menahan sakit.
Intan melihat Manda dengan khawatir, tapi dia juga kagum kepada Manda. Dengan sekuat tenaga dia berusaha kuat, tanpa air mata dia berusaha dengan keras menahan sakitnya pembukaan. Intan mendekat dia kembali memeriksa apakan pembukaan sudah sempurna, terlihat dari espresi Manda bayi itu ingin segera keluar.
Setelah buka 10, kini Manda harus berjuang mendorong bayinya keluar. Terdengar erangan Manda yang berjuang mengeluarkan bayinya dengan arahan dari dokter Intan beberapa saat kemudian bayi mungil keluar. Manda tersenyum melihat bayinya menangis dengan keras.
" Lihatlah... Bayi laki-laki yang sangat tampan." kata dokter Intan sambil meletakkan bayi itu di dada Manda.
Air mata Manda tiba-tiba menetes melihat sang bayi mengerakkan mulutnya mencari ****** susu. Intan masing berusaha mengeluarkan ari-ari di perut Manda. Manda sangat pintar dan sabar semua proses di lalui dengan lancar. Si bayi dan si ibu sehat, setelah keadaan Manda stabil dia dan bayinya akan di pindah kan ke kamar inap.
" selamat Manda... Seorang bayi laki-laki yang tampan." kata Intan sambil memberikan bayi Manda dalam pangkuan
__ADS_1
Manda tersenyum, dia sangat bersyukur melewati semua proses persalinan dengan lancar, apa lagi dirinya dan bayinya sehat semua.
" Manda... Maaf kalau aku lancang, dimana keluarga kamu ? " kata Intan
Sejenak Manda diam, setelah menghembuskan nafas dia menatap Intan dan tersenyum
" aku meninggalkan mereka." kata Manda singkat
Intan sangat penasaran, dia ingin tahu lebih lanjut tapi dia tidak berani bertanya. melihat Manda berusaha begitu kuat untuk tersenyum, Intan mengurungkan niatnya. Intan memberitahu dan mengajari Manda cara mengendong dan menyusui bayinya kalau nanti dia terbangun.
Beberapa saat kemudian Intan pergi keluar meninggalkan Manda yang terlihat begitu bahagia, terlihat jelas dari wajah Manda yang begitu lembut menatap bayinya.
Intan menghela nafas panjang dan menutup pintu kamar, tiba-tiba ada sosok pria yang mengagetkan Intan.
" Kenapa mbak Intan menghela nafas sepanjang itu ?"
" Baru saja." kata Indra sambil mengintip kedalam ruangan.
Melihat Indra yang begitu penasaran, Intan langsung menarik Indra kedalam ruangannya. Di sana Intan kembali menghela nafas panjang dan termenung. sikap Intan membuat Indra semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
" Sekarang bisa cerita ? " kata Indra sambil terus menatap kakaknya itu dengan sangat penasaran.
Intan menunduk dan kembali menghela nafas, dia masih ragu apa ini harus diceritakan kepada Indra atau memendam semua nya. Tapi memang kejadian ini menganjal di hati dan pikiran Intan. Intan sudah lama menjadi dokter Manda, dia cukup tahu perkembangan Manda, apa lagi kondisi Manda yang telah di tinggal pergi oleh Rizki.
Indra menatap kakaknya semakin tajam, melihat kakaknya yang engan bercerita kepadanya, Indra berdiri yang membuat Intan kaget.
" kalau mbak Intan tidak mau memberitahuku, aku akan bertanya kepada orang yang ada dikamar itu." kata Indra
__ADS_1
Intan kaget dan berdiri, menghentikan Indra yang ingin beranjak dari ruangannya
" oke.... Duduk dan dengarkan." kata Intan
Indra duduk tidak sabar mendengar apa yang akan di ceritakan oleh Intan, Intan menghela nafas panjang dan mulai bercerita. Dari awal ketika Manda dan Rizki datang kerumah sakit ini, dari jauh terlihat Rizki yang sangat menyayangi Manda. Mereka terlihat sangat bahagia. Dari situ Intan mulai menyukai Manda dan Rizki, bukan hanya karna mereka terlihat serasi tapi juga tutur sapa yang baik dan ramah.
Sampai Intan berharap hari, minggu dan bulan cepat berlalu karna ingin bertemu dan mengetahui perkembangan kandungan Manda. Dari menjadi dokter Intan sudah mulai berteman dengan Manda dan Rizki. Mereka juga sering cerita tentang kehidupan pribadi mereka sebelum dan sesudah menikah.
Tapi suatu hari Manda datang kerumah sakit sendiri, Intan penasaran, dia bertanya tapi saat itu Manda tidak bisa bercerita banyak,dia hanya bilang kalau Rizki telah pergi meninggalkan dia untuk selamanya. Mulai saat itu dia akan memeriksakan kandungannya sendiri.
" sampai saat ini Manda terus diam, aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu." kata Intan
Indra diam, dia berdiri dan beranjak meninggalkan Intan. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Indra.
" kemana kamu ? " kata Intan
Indra diam, berhenti dan melihat kebelakang dan tersenyum.
" Pulang." kata Indra singkat
Intan kaget, melihat Indra yang begitu cuek. Padahal Indra selalu penasaran dan peka terhadap masalah seperti ini. Tapi ini membuat Intan lega, setidaknya Indra tidak akan menimbulkan sebuah masalah nanti.
Indra keluar ruangan Intan, tapi matanya tertuju kepada ruangan dimana Manda berada, dia tidak bisa menahan diri ingin melihat sosok Manda seperti apa. Perlahan Indra berjalan mendekati ruangan Manda. Matanya tertuju kepada Manda yang sedang mengendong bayinya, terlihat senyuman yang manis dari wajah Manda.
" aku tidak percaya dia memiliki masalah, dia terlihat bahagia."kata Indra pelan
Mantanya melihat sekitar, tidak ada seorang pun didalam ruangan hanya Manda dan bayinya. Indra sedikit mengerti tentang kesunyian saat itu, Indra menghela nafas dan beranjak meninggalkan tempat itu.
__ADS_1