
Hari-hari berlalu, mereka sudah dekat satu sama lain. Intan juga masih telaten menjaga dan merawat Manda serta Shaka. Mereka terlihat seperti keluarga sesungguhnya. Indra yang berperan menjadi vigur seorang kepala rumah tangga sangat bagus memerankan perannya. Manda terlihat bahagia, begitu juga dengan Shaka, dia seperti memiliki keluarga yang sesungguhnya.
Hari ini Manda membereskan baju-baju Shaka dan melihat Indra sedang menggendong Shaka. Sesaat sosok Indra berubah menjadi Rizki. Manda membayangkan kalau yang menggendong Shaka saat ini adalah Rizki. Air mata Manda menetes kemudian dia tersadar dari lamunannya.
Manda mengehela nafas panjang dan berusaha melupakan semuanya. Jalannya masih panjang, dia juga harus turus maju demi masa depan Shaka.
" aku berangkat dulu ya..." kata Intan
" nanti jangan tunggu aku, hari ini ada operasi malam, tidak tahu pulang jam berapa nanti." sambung Intan sambil pergi
Manda ingin protes jangan pulang terlalu malam, tapi Intan buru-buru meninggalkan Manda dan menuju ke tempan Indra. Sebelum pergi Intan berpamitan kepada Shaka.
" Hai sayang.... Hari ini aku pulang agak malam... Jangan nakal ya." kata Intan lantas mencium pipi Shaka.
Setelah kepergian Intan, rumah sekejap sepi. Indra merasa memang ada sebuah tembok yang membatasi dirinya dan Manda. Meskipun dia berusaha mendekati Manda tetap saja tembok itu masih saja berdiri dengan kokohnya.
Karna sudah cukup lama mereka tinggal bersama, Indra sedikit mengenal Manda lebih dalam. Manda memang sosok yang kuat, ceria namun tertutup. Hari ini Manda mendapat pesan dari Dira. Dira menghubungi Manda setelah kepergiannya ke London.
Ini pertama kali Indra melihat Manda tersenyum, begitu senangnya Manda terlihat jelas dari senyuman itu. Indra perlahan mendekat, dia bertanya apa yang terjadi ?apa yang membuat Manda begitu senang hari ini ?.
Manda dengan senangnya menceritakan kalau dia mendapat pesan dari Dira. Setelah sekian lama mereka tidak saling memberi kabar hari ini Dira memberitahu keadaan dia dan penasaran dengan keadaan Manda saat ini.
Ketika membaca pesan Dira yang bertanya tentang keadaannya saat ini, senyum itu tiba-tiba hilang. Dia teringat kalau dia tidak pernah memberi kabar apa pun kepada Dira. Bahkan tentang kepergian Rizki selama ini.
__ADS_1
Air mata Manda tiba-tiba menetes. Indra dengan sepontan mengusap air mata itu.
" Apa yang membuat mu menitikan air mata ?" tanya Indra
Manda hanya diam, dia ingin sekali memberitahu Dira tentang nasibnya selama ini. Tentang bagaimana perjuangannya selama ini. Jika tidak ada Intan dan Indra entah apa yang akan terjadi kepadanya.
Manda segera mengusap air matanya sambil mengela nafas panjang. Berusaha kembali bangkit dan tersenyum kembali.
Akhirnya Manda memberi tahu Dira kalau dia baik-baik saja sekarang, dia sangat bahagia karna anaknya sudah lahir ke dunia. Dia juga memberitahu Dira nama anaknya adalah Shaka.
Pesan Manda tidak dibalas oleh Dira mungkin dia masih sibuk atau tidak tahu kalau Manda mengirimkan pesan.
Hari berganti malam, Indra sudah pulang tapi tidak dengan Intan. Mungkin operasi belum selesai Manda menyiapkan makan malam dan menyuruh Indra untuk mandi terlebih dulu.
" Mas... Ada yang ingin Manda sampaikan !" kata Manda masih ragu-ragu
" katakan lah." kata Indra sambil menyantap makan malamnya.
Manda masih saja terlihat ragu untuk mengatakannya. Dia tidak tahu bagaimana mengatakannya tapi dia tidak ingin seperti ini terus.
" kenapa diam ? Katanya ada yang mau di sampaikan, katakan lah." kata Indra.
" Mas.... Begini...."
__ADS_1
Manda masih terlihat ragu.
" jadi... Manda ingin keluar dari sini ?" kata Manda
Kata-kata Manda membuat Indra terdiam dan kembali meletakkan sendoknya. Dia berada di perasaan kecewa dan marah tapi dia sadar dia tidak memiliki hak apa pun.
" kenapa kamu ingin keluar dari sini ? Apa kamu ingin pulang ke Jakarta ? Atau ingin kembali ke perkebunan keluarga Kardi ?" tanya Indra
" Tidak keduanya." kata Manda sambil menunduk.
" Terus kamu ingin pergi kemana ? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman ? Atau kamu menginginkan sesuatu ? Bilang pada ku apa pun itu aku akan berusaha mendapatkannya. Asal kamu dan Shaka tidak pergi dari sini." kata Indra
" Tapi Mas.... Bukan begitu maksud Manda. Manda hanya ingin mandiri." kata Manda
" Sudahlah... Aku tidak mau mendengarnya lagi." kata Indra lalu pergi meninggalkan Manda.
Manda terdiam, dia merasa bersalah. Tapi dia tidak ingin menjadi beban untuk Intan dan Indra lagi. Dia hanya ingin berusaha mandiri tidak selalu merepotkan Indra dan Intan lagi.
Sampai di kamar Indra mengesal berkata seperti itu kepada Manda. Kata-kata itu keluar begitu saja karena dia tidak ingin berpisah dengan Shaka. Meskipun kedepannya Manda selalu merepotkan Indra itu tidak masalah baginya asalkan Manda dan Shaka berada di dekatnya.
Manda kembali kekamar dia melihat Shaka yang sedang tertidur dengan pulas. Dia mendekat dan melihat anaknya, dari wajah Shaka dia kembali melihat Rizki. Sekarang Shaka adalah prioritas baginya. Dia ingin masa depan Shaka lebih baik dari dirinya dia ingin membesarkan Shaka dengan jeri payahnya sendiri.
Sebenarnya hanya itu pikiran Manda. Dia ingin menunjukan kepada semua orang kalau dia masih bisa berdiri walau tertati-tati. Jika dia tidak sanggup berdiri lagi kini ada Shaka yang akan menjadi tongkat penyangganya. Yang akan menjadi penyemangat baginya.
__ADS_1