
Seluruh warga sudah mendapat kabar tentang meninggalnya Lukman, mereka menunggu dirumah duka. Terlihat disana mbok Darmi sedang menangis histeris tidak menerima kalau cucunya telah meninggal dunia.
Semua pekerja yang bekerja di perkebunan Kardi, termasuk Kardi, Safa dan Manda sudah berada di rumah duka. Manda dan Safa mendekati mbok Darmi.
" turut berbela sungkawa ya mbok... Semoga Lukman di terima disisi allah swt." kata Safa
Mbok Darmi tidak menjawab, dia masih teringat tentang cucu nya yang dia rawat setiap hari. Tapi siapa yang mengira hanya sakit panas saja bisa meninggal dunia. Tidak hanya mbok Darmi semua yang hadir disana juga heran, pasti karna sesuatu. Semua orang berbisik coba kalau segera dibawa kerumah sakit pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.
Bella mendengar ucapa para pelayat, dia kembali memiliki ide untuk menyudutkan Manda. Dia berbisik kepada temannya agar temannya itu menyebarkannya.
Tiba-tiba tidak lama, semua orang kembali bergosip kalau saja keluarga Kardi bisa langsung membayar upah Nur, pasti Nur dan Mardi segera membawa anaknya pergi kerumah sakit, dan semua ini tidak akan terjadi.
Dari satu orang ke satu lagi, semua menyebar bagaikan racun, hingga tatapan para pelayat tertuju kepada Manda dan menyalahkan dia tentang telatnya keluarga Kardi membayar upah.
Manda memang merasakan hal yang berbeda, ada yang aneh dengan tatapan para warga. Tapi dia mencoba berfikir positif. Tidak lama mobil yang dibawa Eko telah terlihat memasuki desa, semua orang bersiap dan memberikan jalan kepada Eko.
Mobil berhenti tepat didepan pintu rumah Nur. Nur turun terlebih dulu dan berlari menunju ibunya yaitu mbok Darmi. Tangisan Nur tidak terdengar sangat keras sambil terus memeluk ibunya. Dibelakang Nur turun Mardi sambil mengendong Lukman yang sudah tidak bernyawa.
Hati para pelayat bagai tersilet melihat Mardi berjalan dengan kakinya yang gemetar sambil menahan air matanya yang memaksa untuk keluar. Mardi menurunkan dan membaringkan anaknya. Mbok Darmi memeluk cucunya itu sambil terus menangis terisak-isak. Dia masih tidak terima kalau cucu yang dijaganya setiap hari sudah tidak bernyawa lagi.
Semua orang yang berada disana ikut bersedih. Bella mendekati Nur untuk menenangkan Nur dan memberikan kekuatan kepadanya untuk tetap tabah menghadapi semua ini. Tapi disela-sela perkataannya ada kata-kata yang sedikit menyalahkan Manda.
__ADS_1
Sambil menunggu beberapa persiapan semua duduk dan mendoakan Lukman, Nur duduk sambil terus melihat Manda dengan mata yang sangat tajam. Ternyata dia sudah termakan oleh omongan Bella yang menyalahkan Manda atas meninggalnya Lukman.
Setelah di mandikan dan dikafani, kini saatnya untuk menyolatkan jenasah Lukman.
Semua sudah selesai, kini saatnya Nur melepaskan anak tercinta mereka untuk selamanya. Mardi mengendong jenasah putranya dalam dekapanya, berjalan setapak demi setapak menuju keperistirahatan terakhirnya.
Semua orang turut serta mengantar Lukman ketempat peristirahat terakhirnya. Bunga ditabur dijalan mengiringi kepergian Lukman. Langit tampak mendung, Manda melihat Lukman pertahan diturunkan dan tanah mulai menutupi tubuh mungilnya.
Manda melihat orang disekitar yang terhanyut kesedihan, mungkin ini sama seperti apa yang dirasakan ketika dia kehilangan Rizki. Tapi beda, dia tidak pernah melihat tubuh Rizki untuk yang terakhir kalinya.
Bunga-bunga yang indah dan wangi tertabur dalam tanah gundukan tempat peristirahat terakhir Lukman, Manda melihat Nur yang masih larut dalam kesedihan, dia juga iri kepada Nur. Jika suatu saat nanti Nur rindu dengan anaknya, setidaknya dia tahu kemana dia akan berkunjung, berbeda dengannya dia hanya bisa melihat langit dimana hanya ada bayangan Rizki disana.
Setelah pemakaman selesai semua orang kembali kerumah, Nur masih terdiam sambil memengan gundukan tanah didepannya. Dia memikirkan apa yang dikatakan Bella tadi, kalau saja Manda tidak ceroboh dan menghilangkan uang upah para pekerja tentu saja dia sudah membawa Lukman ke rumah sakit, dan semua ini tidak akan terjadi.
Tapi ternyata tidak, ketika melihat Manda, emosi Nur memuncak. Dia sangat murka melihat Manda sedang berdiri bersama pelayat yang lain.
Nur berjalan mendekati Manda, dia sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dirasakan saat ini. Kehilangan seorang anak yang menjadi satu-satu semangat nya untuk menjalani hidup sungguh berat. Dengan keras Nur mendorong Manda kebelakang.
" Apa yang kamu lakukan disini ? Pergi..... Pergi dari rumah ku, aku tidak ingin melihat wajahmu....pergi kamu...." kata Nur
Manda jatuh, untung saja di belakang ada Surti dan Feri mereka langsung menangkap Manda. Feri menatap tajam Nur, dia binggung mengapa Nur melakukan itu kepada Manda. Terlihat mata Nur penuh dengan amarah, tapi mengapa dia melampiaskannya kepada Manda.
__ADS_1
Surti membantu Manda untuk berdiri, dia memeriksa apakah Manda baik-baik saja atau tidak, setelah tahu Manda baik-baik saja, Surti langsung berdiri dan berteriak kepada Nur
" Nur apa kamu gila ? Apa yang baru saja kamu lakukan ? Kamu tidak lihat kalau ada mbak Manda, bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadanya ?" kata Surti
Nur tidak menangapi apa yang sedang Surti katakan, matanya penuh amarah dan tidak berpaling dari Manda. Manda berdiri, dia menarik Surti menyuruhnya untuk berhenti. Setelah merapikan bajunya Manda mendekat.
" Mbak Nur, Manda salah apa ? Kalau Manda salah, bilang sama Manda, Manda salahnya dimana ? Kalau Manda benar-benar salah, Manda minta maaf." kata Manda sambil memeggang tangan Nur.
Dengan lembut Manda menatap Nur, Manda tahu kalau saat ini Nur sangat hancur karena kehilangan Lukman. Yang tidak dia pahami mengapa tatapan Nur terlihat begitu membenci dirinya.
Dari depan tiba-tiba Safa datang, dia bertanya ada apa mengapa terdengar ada keributan. Surti membetitahu Safa apa yang terjadi. Dengan sedikit emosi Safa bertanya kepada Nur, mengapa dia melakukannya kepada Manda.
Nur tidak tahan semua orang mempropokasinya, dia tidak tahan melihat orang-orang menatapnya dengan kecewa. Padahal yang dia rasakan bukan lagi kecewa tapi kebencian yang sangat dalam. Semua orang mulai berbicara menjelekannya.
" Hentikan....kalian mana tahu apa yang sedang aku rasakan... Karna dia... Aku kehilangan anakku... Kalau bukan karena dia, anakku tidak akan meninggal. Semua ini gara-gara dia...." kata Nur sambil terisak-isak menahan tangis.
Semua orang terdiam termasuk Manda, dia tidak percaya apa yang Nur katakan. Dia juga binggung apa maksud Nur berkata seperti itu. Dia tidak memahami mengapa Nur sangat membencinya saat ini.
Manda ingin maju dan bertanya, tapi Safa menghalangi. Dia berjalan mendekati Nur yang sedang ditenangkan oleh Mardi.
" Mbak Nur... Saya minta maaf, tapi saya tidak mengerti mengapa mbak Nur menyalahkan kaka saya. Coba perlahan, mbak Nur cetigakan semua cari awal.
__ADS_1
Perlahan setelah tenang Nur bercerita dan mengeluarkan semua apa yang dia pendam. cerita berawal ketika Lukman masih ada, dia harus banyak makan makanan yang bergisi, dia sudah tahu kalau Lukman sudah demam beberapa hari, tapi dia tidak punya uang untuk membeli obat atau membawanya kerumah sakit. karna Manda menghilangkan uang perkebunan Nur belum digaji, dia tidak bisa membawa Lukman kerumah sakit, dia hanya mengopresnya dengan air hangat, berharap panasnya segera turu. Tapi yang terjadi malah ibu memberi kabar kalau Lukman semakin parah. Hingga akhirnya dia meninggal dunia.
Semua itu salah Manda, setidaknya itulah alasan mengapa Nur begitu membenci Manda.