
Baru saja Rizki berangkat, Manda sudah merasakan rindu. Setiap tempat dan waktu selalu mengingatkannya kepada Rizki. Manda menyadarkan diri dan mulai mentibukkan dirinya dengan pekerjaan. Melihat semua pekerja begitu semangat hari ini, Manda mulai melupakan sosok Rizki.
Beberapa hari ini, Manda mulai gentar mempromosikan perkebunan dan penginapannya di internet. Ada beberapa turis luar yang tertarik dan mendatangi perkebunan itu. Disana mereka di ajari cara menanam berbagai sayur dan buah dan jug bunga-bunga yang cantik.
Sekejap tempat itu berubah menjadi sangat rampai. Sampai-sampai Manda harus merelakan pondoknya untuk tamu. Sebuah rumah kecil yang tidak jauh dari pondoknya berhasil disulap Manda menjadi tempat tinggal yang nyaman.
Hari-hari Manda Mulai sibuk, tidak hanya turis luar kota juga ada beberapa turis luar negeri yang datang kesana. Untung saja Manda pandai berbahasa inggris jadi dia bisa memahami mereka. Semua pekerja dibuat sibuk setiap hari. Tapi meskipun mereka terlihat lelah selalu terpancar senyuman diwajah mereka, Manda selalu ikut dalam setiap pekerjaan yang membuat para pekerja merasa senang.
Terlihat rasa kepuasan didalam hati mereka, mereka semua sudah bekerja keras setiap hari dan akhirnya perkebunan mereka banyak turis yang mendatangi. Setiap hari walau hanya sebentar Manda mencoba menghubungi Rizki, menceritakan bagaimana hari yang sudah dilewatinya setiap hari. Meskipun kadang hanya sebentar karna Rizki juga bekerja. Kandang Manda tertidur dengan telpon yang masih terhubung. Setiap hari selalu saja ada cerita diantara mereka.
Hari ini sudah satu bulan Rizki bekerja jauh disana. Manda melihat kalender didinding, raut wajahnya terlihat sedih.
" ada apa kak " tanya Safa
Manda hanya tersenyum dan kembali melanjutkan aktifitasnya, Safa melihat kalender, dia bertanya-tanya apa yang sedang Manda pikirkan tapi tidak menemukan jawaban, dia segera berlari menyusul Manda dan kembali menayakan apa yang terjadi sebebarnya, mengapa Manda terlihat murung hari ini.
" Apa ayah ada dirumah ?" tanya Manda
__ADS_1
Safa sedikit kesal karena pertanyaannya tidak terjawab, dia mengangguk pelan dan menujuk ke rumah kalau ayahnya sedang duduk di depan. Manda tersenyum dan mengelus kepala Manda kemudian menghampiri Kardi yang sedang duduk santai dedepan rumah.
" Yah... Manda besok harus ke kota, apa boleh Manda meminjam mobil ?" tanya Manda
Kardi kaget, begitu juga Safa yang masih saja mengikuti Manda. Sontak mereka bertanya bersamaan.
" Ada apa ? Apa yang terjadi ?" tanya Kardi dan Safa
Manda tersenyum melihat mereka berdua terlihat cemas, Manda pun berusaha menengkan mereka dan menjelaskan bahwa besok adalah jadwal pemerikasaan untuknya dan bayinya.
Akhirnya Kardi san Safa mengerti dan tidak lagi khawatir tapi masih ada satu hal yang membuat mereka khawatir, jarak dari perkebunan ke kota begitu jauh dan Manda harus menyetir sendiri mereka tentu saja tidak tega.
Manda tersenyum dan meyakinkan Kardi dan Safa kalau dia akan baik-baik saja. Dia akan berkendara dengan pelan dan aman. Dengan berat Kardi menyerahkan kunci kepada Manda. Melihat Kardi begitu khawatir Manda memeluknya dan kembali meyakinkan Kardi kalau semua akan baik-baik saja. Manda akan berangkat pagi-pagi untuk menhindari keramaian, dan mungkin akan kembali pada sore hari karena harus berkendara dengan pelan.
Manda kembali kerumahnya, hari sudah malam. Dia melihat kunci yang ada diatas meja. Sebenarnya dia sedikit ragu dan khawatir kalau berkendara jauh dengan perutnya yang sudah besar. Tapi semua demi sang bayi yang berada diperutnya, dia harus tahu perkembangan bayinya dan vitamin juga sudah hampir habis.
Manda duduk termenung, dia teringat Rizki dan mencoba menguhubunginya tapi tidak tersambung. Sudah dicoba beberapa kali, tapi tetap saja tidak tersambung, Manda mencoba berfikir positif mungkin disana tidak ada sinyal. Tapi tetap saja dia merasa sedikit kecewa. Kalau saja Rizki berada disini Manda tidak khawatir harus pergi kekota sendiri.
__ADS_1
Manda berjalan kedepan untuk menutup pintu dari jauh terlihat samar-samar ada orang yang sedang berjalan kearah rumahnya. Manda tidak yakin itu siapa, hatinya berdekup dengan kencang berharap yang datang adalah Rizki. Sosok itu semakin dekat, air mata Manda tidak tertahan lagi melihat orang yang didepannya itu adalah Rizki.
Manda berlari menghampiri Rizki. Rizki menjatuhkan tasnya dan berlari menghentikan Manda.
" jangan berlari." teriak Rizki
Manda memeluk Rizki dengan erat, air matanya tidak tertahan dan membasahi bahu Rizki. Dengan tangan kasarnya Rizki menyeka air mata dipipi Manda. Manda mengambil tangan itu dan menciumnya. Dia meraskan tangan yang begitu kasar yang bekerja keras untuknya dan calon bayinya.
Mereka duduk sambil bercerita banyak hal. Manda terus memandang Rizki yang berubah, wajahnya terlihat hitam kusam, tanganya yang kasar dan tubuhnya yang kurus. Manda tidak bisa menahan air mata dan memeluk Rizki lagi. Manda mengeluh mengapa Rizki menjadi seperti itu.
Rizki tertawa mendengar pertanyaan Manda.
" aku bekerja keras untukmu dan calon bayi kita." kata Rizki sambil mengelus perut Manda.
Manda tersenyum, Rizki masih sama dengan Rizki yang lembut dan perhatian. Dia kembali merasakan kehangatan seorang suami.
Manda meminta Rizki untuk tidak lagi kembali bekerja di proyek tersebut. Perkebunan dan penginapan cukup ramai saat ini, mereka juga membutuhkan banyak pekerja. Kalau Rizki tetap disini akan banyak membantu.
__ADS_1
Rizki memeluk Manda, dia tahu perasaan Manda yang ingin terus bersama dirinya. Tapi Rizki harus kembali, selain upah yang lumayan besar, disana Rizki juga banyak dibutuhkan. Hanya tinggal dua bulan proyek itu akan selesai, Rizki berjanji akan kembali sebelum Manda melahirkan, setelahnya dia tidak akan pergi dan akan terus bersama mereka, Manda dan anaknya.