
Manda berdiri sambil melihat para pekerja memetik bunga panca warna yang akan dikirim hari ini. Dia teringat dulu ketika Rizki masih disini bersamanya, mengingat kembali janji mereka yang akan bersama sampai tua bersama.
Teringat masa tua yang mereka bayangkan bersama, langkah kaki kecil anak mereka yang berlarian bersama Rizki disana. Manda menitikan air matanya. Meskipun masa itu tidak akan terwujud Manda berterima kasih pernah merasakan rasa itu bersama Rizki.
Dalam lamunannya tiba-tiba seorang wanita tua berlari. Terlihat dia sedang mencari-cari seseorang. Feri menghampiri wanita tua itu, ternyata wanita tua itu adalah Sarmi ibu dari Nur yang bekerja di perkebunan, dia adalah tetangga Feri.
"Ada apa mbok ?" kata Feri
" Itu.... Dimana Nur... Dimana Nur ?" kata Sarmi nada nya terdengar panik.
Mendengar ada keributan semua orang mendekat, termasuk Manda. Wanita tua itu bernama mbok Darmi ibu dari Nur yang bekerja di perkebunan Kardi.
Mbok Darmi mencari Nur karna anaknya sedang sakit panas, ketika Nur kerja mbok Darmi yang menjaga anak Nur yang adalah cucu mbok Darmi juga. Tapi tadi tiba-tiba Lukman anak Nur panasnya begitu tinggi, mbok Darmi sangat panik hingga pergi ke perkebunan untuk mencari Nur.
Ketika Manda tiba, semua orang sedang ribut. Mereka juga sangat khawatir terjadi apa-apa pada Lukman, Nur menemui Manda, meminta ijin kepadanya untuk pulang lebih awal. Manda langsung mengiyakan. Sebelum Nur dan mbok Darmi pergi, Manda menghentikan Nur, dia memanggil Eko untuk mengantar Nur dan mbok Darmi pulang.
Setelah sampai rumah, keadaan dirumah sangat kacau. Mardi suami Nur sudah tiba dirumah lebih dulu, terlihat banyak orang dirumah Nur. Nur sangat takut terjadi apa-apa kepada Lukman, dia segera masuk dan melihat Lukman sedang kejang-kejang karna panasnya yang begitu tinggi.
__ADS_1
Nur dan mbok Darmi menangis, takut terjadi sesuatu kepada Lukman. Sedangkan Mardi keluar meminta tolong kepada warga untuk memanggil mantri.
Eko beberapa kali pergi kekota bersama Rizki dulu, dia sedikit tahu tetang rumah sakit. Eko masuk kedalam, berbicara kepada Nur dan mbok Darmi untuk membawa Lukman pergi kerumah sakit. Tapi Nur dan mbok Darmi saling pandang, mereka ingin membawa kemana pun Lukman jika itu bisa membuatnya sembuh. Tapi masalahnya mereka tidak punya uang.
Eko mengendong Lukman, membawanya kemobil dan menyuruh Nur dan Mandi ikut bersamanya kerumah sakit.
Tanpa sebuah persiapan dan tanpa membawa apa pun mereka pergi kerumah sakit. Eko melihat Lukman yang masih kecil tidur tidak berdaya dalam pangkuan ibunya. Air mata Nur jatuh tidak henti. Mandi juga terlihat sangat khawatir kepada anak semata wayangnya itu.
Jarak rumah Nur dan rumah sakit sangat jauh, beberapa kali Lukman kejang yang membuat Nur dan Mardi semakin binggung, mereka takut terjadi sesuatu kepada anak mereka. Rumah sakit sudah dekat, hanya tinggal melewati satu kali lagi persimpangan, Lukman kejang lagi dan kali ini setelah kejang Lukman tidak sadarkan diri. Nur dan Mardi sangat takut air mata terus mengalir dari mata Nur.
Akhirnya mereka sampai dirumah sakit, Eko memanggil suster dan membawa Lukman masuk kedalam UGD. Banyak dokter dan suster masuk ketika Lukman dibawa masuk. Meskipun belum ada titik terang, Eko, Nur dan Mardi sedikit lega.
Eko tidak tega melihat mereka yang duduk sambil terus berdoa kepada tuhan untuk keselamatan anak mereka.
" Ya allah.... Semoga engko mengabulkan apa yang mereka doakan." kata Eko dalam hati.
Beberapa saat kemudian salah seorang dokter keluar, terlihat Nur dan Mardi masih belum tahu jadi Eko menghampiri dokter itu terlebih dulu. Eko menundukan kepala mendengar apa yang dikatakan dokter. Dia menunjuk kepada Nur dan Mardi meminta kepada dokter untuk memberi tahu mereka.
__ADS_1
" Maaf bapak... Ibu..." kata Dokter
Nur dan Mardi segera berdiri, mereka memasang kedua telinga mereka bersiap untuk mendengarkan apa yang akan dokter katakan. Awalnya wajah Nur terlihat sangat bersemangat karena dia mengira Lukman akan selamat jika dibawa kerumah sakit besar.
" Maaf ibu... Bapak... Kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien, tapi mungkin tuhan berkehendak lain... Mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan pasien." kata dokter
Nur dan Mardi sesaat tidak berkata apa pun, dia tidak percaya apa yang dokter katakan, mereka melihat kearah Eko, dan Eko mengangguk mengisyaratkan kalau apa yang dikatakan oleh dokter itu benar.
Nur berlari memasuki ruangan, dia melihat Lukman telah menutup mata untuk selamanya. Nur menangis sejadi-jadinya dia tidak pernah berfikir kalau semua ini akan terjadi kepada anak semata wayang mereka.
" Lukman....sayang....anak ibuk....buka matamu nak... Ibuk disini...ibuk tidak akan meninggalkan Lukman lagi.... Buka mata mu nak..." kata Nur sambil mengoyangkan tubuh Lukman, air matanya tidak henti menetes.
Mardi duduk disudut ruangan, dia menangis dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak segera membawa anaknya itu kerumah sakit. Dia menyesal tidak bekerja lebih giat lagi, dia menyesal tidak mendapatkan uang yang cukup membawa anaknya kerumah sakit. Tangisan keduanya menyayat hati Eko, dia juga tidak mengira semua ini akan terjadi kepada Lukman anak sekecil itu harus kembali ke sisi allah.
Eko menngurus biaya rumah sakit, dia juga memberitahu Kardi dan orang-orang yang lain kalau Lukman sudah meninggal dunia.
Setelah suasana sedikit tenang, Eko masuk kedalam, dia memberitahu Nur dan Mardi kalau Lukman harus segera dibawa pulang untuk disemayamkan.
__ADS_1
Mardi mendekati Eko, dia bertanya kepada Eko tentang biaya rumah sakit karna Mardi tidak memiliki uang. Eko menepuk pundak Mardi memberitahu dia kalau semua biaya rumah sakit sudah di bayar oleh Kardi.
Karna masih balita, dan jarak rumah sakit dan kampung mereka cukup jauh. Mardi mengendong Lukman dan pulang dengan mobil yang Eko bawa tadi, tidak menyewa ambulan.