
Setelah merasa baikan, mereka kembali ke perkebunan. Kardi menyetir, pandangannya selalu mengarah kedepan, dalam mobil tampak sunyi, tidak satu pun mengeluarkan suara. Manda pun hanya diam sambil melihat jalanan. Wajahnya terlihat sangat lesu tidak berdaya,mungkin dia sangat menyesal.
Sedangkan Safa yang duduk disamping Manda merasa ada sebuah aura yang kuat dalam diam mereka. Dia melihat ke arah Ayahnya, kemudian ke arah Manda. Dari keduanya Safa bisa merasakan sebuah kecemasan.
" kak.... Apa kamu baik-baik saja, dari tadi diam terus." kata Safa
Manda melihat ke arah Safa, dia tidak menjawab hanya tersenyum tipis kemudian kembali melihat keluar. Safa juga melihat ke arah Kardi yang dia juga tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tapi terlihat jelas diwajah ayahnya itu kalau dia sangat khawatir.
Mereka sampai di rumah, perlahan Safa membantu Manda turun dari mobil. Surti berlari mendekati mereka dan ikut membantu Manda. Manda melihat sekeliling, dia melihat para pekerja melihat kearah nya. Manda tertunduk, dia merasa sangat bersalah kepada para pekerja. Apa lagi Kardi juga meninggalkan Manda dan yang lain tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Manda sampai di pondoknya, dia duduk diatas kasur dengan wajah muram. Surti masuk dengan membawa teh hangat ditangannya.
" Mbak Manda minum dulu." kata Surti sambil mengulurkan tangannya.
Manda meminum teh itu sampai habis, Safa dan Surti heran melihat Manda. Tapi Manda tidak memperdulikan mereka bahkan ketika Surti menanyakan beberapa hal kepada Manda, Manda tetap diam, pandangannya tampak kosong.
"Kak.... Apa kamu baik-baik saja." tanya Safa merasa khawatir
" Hemmm iya.... Aku baik-baik saja kok !" kata Manda
__ADS_1
" Oh ya... Aku mau tanya satu hal kepadamu." Kata Manda sambil melihat kearah Surti
Surti menatap Manda, mempersiapkan diri dan mendengarkan apa yang ingin ditanyakan Manda. Manda cukup lama diam, hingga Surti melihat Safa dan akhirnya Safa yang memberanikan diri untuk bertanya.
" Apa yang ingin kak Manda tanya kan ?" kata Safa
Sejenak Manda diam, dia binggung harus mulai dari mana. Dia tidak enak kepada para pekerja karena upah mereka akan tertunda.
" Apa para pekerja mengatakan sesuatu ?" tanya Manda
Surti melihat Safa, dia mengerti apa yang di maksud Manda, tapi dia tidak tahu harus berkata apa kepada Manda. Para pekerja sebenarnya sangat kecewa, keluarga mereka tergantung dari gaji yang mereka dapat setiap bulan, dan bulan ini mungkin semua akan kesulitan.
" Tidak ada mbak.... mbak Manda jangan berfikir hal-hal yang tidak-tidak, sebaiknya mbak Manda jaga kesehatan mbak Manda dulu." kata Surti
Safa juga binggung, dia tidak bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan Surti. Dia juga tahu keluarga para pekerja bergantung pada upah dari sini. Sedangkan keadaan seperti ini. Kardi dan keluarga tidak memiliki simpanan yang cukup.
Semalaman Kardi memikirkan bagaimana cara membayar upah para pekerja, pagi-pagi sekali Kardi sudah ke kota dia melihat isi tabungan dan bertanya kepada bank tentang pinjaman. Kardi memang memiliki jaminan yang cukup kuat, tapi umur Kardi sudah mencapai batas pengajuan pinjaman.
Kardi keluar dengan cemas, dia menatap langit mengapa semua ini harus terjadi. Rizki baru saja pergi, dan hampir saja dia kehilangan menantu dan calon cucunya. Meskipun keadaanya demikian, Kardi bersyukur tidak terjadi apa pun kepada Manda dan calon bayinya.
__ADS_1
Kardi terus mencari cara agar bisa mendapatkan uang untuk membayar upah para pekerja, dia tahu betapa pentingnya upah ini untuk keluarga mereka, jadi dia berusaha dengan sangat keras untuk mendapatkan pinjanam.
Sedangkan di perkebunan, Manda keluar jalan-jalan sambil memegang perutnya. Dia menyapa para pekerja, tapi semua tampak acuh kepada Manda. Meskipun Manda mengerti mereka pasti sangat kecewa kepada Manda, tapi Manda tidak ingin dirinya dibenci oleh orang disekitarnya.
Sepanjang jalan menuju taman, tatapan para pekerja seakan menusuk Manda. Apa lagi banyak yang berbisik, entah apa yang mereka katakan yang jelas dari wajah mereka Manda tahu ada kebencian di pembicaraan mereka.
Manda sangat sedih, diam-diam dia menitikan air matannya. Dari jauh Surti melihat Manda, dia sangat ingin sekali menghibur Manda. Tapi sebuah tangan menghentikan dia. Surti melihat kebelakang, orang itu adalah Bella.
Surti terdiam sambil menatap Bella, dengan mulutnya yang manis Bella berusaha menghentikan Surti. Ternyata Bella lah yang membuat orang di perkebunan membicarakan Manda, membuat gosip yang tidak baik tentang Manda sehingga perlahan-lahan semua orang membenci Manda. Bukan cuma karena Manda membuat perkebunan merugi tapi juga keluarga para pekerja yang menderita. Mereka tergantung pada gaji mereka tapi bulan ini mereka tidak mendapat gaji maka perekonomian keluarga juga terganggu.
Surti menepis tangan Bella, dia tahu betapa menderitanya Manda saat ini. Semua ini bukan salah Manda, tapi sebuah musibah yang semua orang juga tidak ingin semua ini terjadi.
" Jangan mengadu domba orang, jadi seperti ini lah sifat kamu ? Pantas saja almarhum mas Rizki tidak pernah suka padamu." kata Surti
" Jaga ucapanmu." kata Bella sambil matanya melotot.
Melihat Bella marah, Surti merasa puas. Meskipun dia tidak percaya pada perkataan Bella tapi berbeda dengannya semua orang percaya kepada Bella bahwa Manda sengaja melakukan semua ini agar perkebunan Kardi hancur.
Safa mulai merasa ada yang berbeda dari tingkah para pekerja. Semuanya mulai sering berkumpum membicarakan sesuatu, tapi ketika Safa mendekat semua orang diam dan perlahan pergi.
__ADS_1
Surti mendekati Safa, dia memberitahu Safa apa yang telah terjadi. Dia tidak bisa menghentikan apa yang telah diperbuat oleh Bella, semua orang terlanjur mempercayai Bella karna memang kenyataannya upah mereka sampai sekarang belum dibayar.
Pada sore hari kardi perjalan lemas memasuki perkebunan, terlihat dari wajahnya dia belum mendapatkan uang untuk membayar upah. Safa mendekat sambil membawakan secangkir kopi kepada Kardi. Perlahan Safa memberitahu Kardi apa yang terjadi, Kardi khawatir kalau semua ini akan terdengar oleh Manda, mungkin sesuatu akan terjadi pada kehamilannya.