
Indra keluar meninggalkan rumah sakit, di tengah jalan dia melihat kebelakang, dia teringat sosok Manda dan cerita tentang dia. Indra sangat penasaran tentang sosok wanita yang begitu kuat itu.
" Dia kuat, cantik juga." kata Indra tersenyum sambil melanjutkan langkahnya.
Indra bersiul dalam mobil menuju ke sebuah kantor. kantor kecil yang dia tempat 4 tahun. Sampai di kantor Indra bertemu dengan Mela, teman kantornya. Dia melihat Mela, tapi tiba-tiba wajahnya berubah menjadi Manda.
" Sadarlah Indra." kata Indra pelan sambil memalingkan wajahnya
Indra mulai bekerja seperti biasa, tapi hari ini dia tidak fokus seperti biasanya. Manda terus terbayang dalam pikirannya. Indra sangat ingin tahu tentang sosok wanita itu, bagaimana kepribadiannya dan kehidupannya.
"aku tidak bisa begini terus, aku harus menemui dia besok." kata Indra
Indra kembali ke rumah, dia termenung dan selalu teringat kepada Manda. Hari sudah malam tapi Indra tidak bisa tidur, dia bangun dan mengambil jaketnya segera keluar menaiki mobil. Dia sempat berhenti du tepi jalan membeli beberapa makanan ringan dan minuman lalu melanjutkan perjalanan.
Indra membuka pintu mobil dan mengambil barangnya. Baru saja ingin masuk Intan keluar menghampiri Indra.
" mau apa kamu kesini ? " tanya Intan yang membuat Indra kaget.
" Eh..... Mbak Intan... Anu... Aku mau masuk." kata Indra.
Intan mengangkat kedua tangannya ke pingang, dia tahu apa tujuan Indra. Dengan wajah sedikit marah Intan mendekati Indra yang hanya tersenyum melihat Intan.
" Mbak... Aku ingin menjenguk wanita itu." kata Indra dengan wajah memelas
" Sebenarnya apa tujuan kamu, apa kamu simpati kepadanya, atau hanya sebatas kasihan, atau jangan-jangan kamu suka kepadanya karna wajahnya yang cantik." tanya Intan
__ADS_1
Indra hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan Intan tanpa sebuah jawaban, itu membuat Intan marah dan mengejar Indra masuk kedalam.
Sampai di dalam Indra tiba-tiba berhenti, dia melihat banyak perawat yang masuk kedalam ruangan Manda. Intan kaget dan menabrak Indra yang tiba-tiba berhenti.
Intan melihat apa yang membuat Indra tiba-tiba berhenti, dia kaget melihat beberapa perawat masuk kedalam ruangan Manda. Intan bergegas menuju kamar Manda dan melihat apa yang terjadi. Bayi Manda menangis terisak-isak sedangkan Manda terlihat lemas tidak sadarkan diri.
"apa yang terjadi ?" kata Intan
" ini dok mbak Manda mengalami pendarahan." kata salah seorang perawat.
Intan melihat kondisi Manda yang cukup parah, banyak darah keluar dari alat vitalnya. salah seorang perawat mengecek stok darah yang sama dengan Manda O-.
" Dok... Kita kehabisan stok darah O-." kata salah seorang perawat.
" Indra... Cepat masuk, aku butuh bantuanmu sekarang juga." kata Intan
Seorang perawat lantas bergegas mengecek darah Indra, sedangkan beberapa perawat yang lain sedang memindahkan Manda ke ruang IGD. Salah seorang perawat memberitahu Intan kalau benar Indra memiliki golongan darah O-. Setelah yakin Intan lantas menjelaskan kelada Indra kalau dia ingin Indra mendonorkan darahnya kepada Manda. Indra menyetujuinya, perawat bergegas memasang alat-alat kepada tubuh Indra dan langsung menghubungkan ke tubuh Manda.
Waktu terus berjalan, beberapa jam kemudian tanda-tanda fital Manda sudah mulai stabil namun masih belum sadarkan diri. Suster yang menjaga anak Manda terlihat kewalahan, dari tadi bayi itu terus saja menangis rewel. Mungkin dia bisa merasakan jika ibunya sedang dalam bahaya.
Karna tidak berhenti menangis, suster membuatkan susu formula untuknya tapi masih saja rewel. Indra mendekat dan mengendong bayi itu, menimang-nimangkan nya dan memberikan susu. Beberapa saat kemudian bayi itu berhenti menangis, dengan antengnya dia meneguk susu dari tangan Indra. Semua suster yang ada disana merasa lega, akhirnya bayi itu terlelap dalam gendongan Indra.
" semoga tidak terjadi hal buruk kepada mbak Manda, kasihan bayi itu dia sudah di tinggal ayahnya sebelum dia lahir sekarang ibunya sedang terbaring tidak berdaya." kata salah seorang suster.
Indra menatap bayi itu, dia terdiam sejenak dan membayangkan apa yang akan terjadi kepada bayi itu kalau di tinggal ibunya. Indra sempat berfikir kalau terjadi hal yang tidak di inginkan kepada Manda nanti dia akan merawat bayi itu.
__ADS_1
Hari berganti hari, setiap hari indra terus berkunjung melihat perkembangan Manda dan bayi nya. Manda belum juga sadarkan diri, masih terbaring dengan alat-alat di tubuhnya. Sedangkan sang bayi berkembang cukup baik, kini berat badannya sudah bertambah, pipinya terlihat makin bulat membuat para suster gemas kepadanya.
" Bagaimana si tampan ?" tanya Indra kepada salah seorang suster.
" si tampan baru saja selesai mandi, sekarang sedang minum susu dengan suster sarah." kata suster miya
Orang-orang disana memanggil nama anak Manda dengan sebuatan si tampan, mereka belum memberi nama menunggu Manda sadar untuk memberi nama kepada anaknya nanti.
Sejak Manda koma, Indra yang mengurusi kebutahan anak Manda, dia juga sering berkunjung sekedar melihat perkembangan Manda atau mengurus si tampan. Indra terlihat sudah dekat dengan si tampan, ketika Indra datang si tampan selalu saja tenang.
" mbak.... Gimana perkembangan Manda ?" tanya Indra
" aku tidak tahu Dra... aku sudah melakukan semua sebisaku, hanya allah yang tahu apa yang akan terjadi kepada Manda." kata Intan
Indra dan Intan sama-sama tertegun, diam tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Tapi mereka saling mengerti dalam hati mereka sama-sama mendoakan yang terbaik untuk Manda.
" bagaimana nasib si tampan kalau terjadi sesuatu dengan mbak Manda?" kata salah seorang suster yang berdiri tidak jauh dari mereka yang sedang berbincang dengan yang lain
Indra dan Intan sama-sama menoleh tidak terima dengan apa yang suster itu katakan, Indra berjalan mendekati mereka.
" kalau hal buruk terjadi kepada Manda, aku yang akan menjaga si tampan." kata Indra
" Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, kita berdoa saja Manda akan sadar cepat atau lambat." kata Intan sambil tersenyum dan meninggalkan mereka.
Para suster dan staf rumah sakit pun ikut berdoa semoga Manda segera sadar.
__ADS_1