
Manda kembali ke perkebunan, dia terus memikirkan apa yang telah terjadi di rumah Nur tadi. Dia mengerti mengapa Nur begitu marah begitu membencinya. Secara tidak langsung memang ini adalah kesalahan dia. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Manda.
" Assalamualaikum mbak..." kata Tini
Tini mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban, Surti mendorong Tini untuk segera membuka pintu karena dia sangat khawatir kepada Manda.
Tidak hanya Surti, Tini juga khawatir kalau terjadi sesuatu kepada Manda. Dia mengetuk pintu lebih keras lagi, jika memang tadi Manda tidak mendengar mungkin kali ini dia akan mendengar.
" mbak.... Mbak Manda... buka pintunya mbak.... Mbak Manda tidak apa-apa ?" tanya Surti
Perlahan pintu dibuka, Manda keluar dengan membalut rambutnya dengan handuk. Surti dan Tini sekarang bisa bernafas lega. Tidak terjadi sesuatu kepada Manda. Ternyata tadi dia begitu lama membuka pintu karena sedang mandi.
" ada apa sih kalian ribut begini ?" tanya Manda
Surti dan Tini hanya tersenyum, mereka tidak bisa memberitahu Manda kalau mereka sangat khawatir kepada Manda. Tapi Manda tahu dari suara yang keluar dan gelagat mereka. Mereka begitu menyayangi Manda dan mungkin saat ini mereka sangat khawatir kepada Manda.
Manda menyuruh mereka masuk dan membatu Manda membereskan Kamar. Surti melihat barang-barang Rizki tampak rapi. Dia melihat kepada Manda, dan meneteskan air mata. Tini yang melihat Surti menangis segera bertanya
" ada apa ?" tanya Tini
" Aku sedih, aku kasihan kepada mbak Manda. Mengapa semua ini terjadi kepada dia."kata Surti
Manda menyisir rambutnya perlahan, rambutnya kini semakin panjang, dia juga teringat saat itu Rizki yang merapikan rambut Manda. Dia berpesan jangan pernah memotong rambut karna Rizki menyukai rambut Manda yang terurai panjang.
Manda menitikan air mata, dia meletakkan sisirnya dan tertunduk, dia merasa sangat sedih hari ini. Kalau saja Rizki masih disini mungkin semua ini tidak akan terjadi, meskipun semua ini terjadi dia akan ada tempat untuk bersandar.
Tini dan Surti melihat Manda menangis, dia mendekat dan bertanya apa yang sedang Manda pikirkan. Sama dengan yang mereka pikirkan. Seseorang yang sudah berada jauh dari sisinya. Manda terdiam, meskipun tidak mengatakan apa pun Tini dan Surti tahu betul apa yang sedang Manda pikirkan. Surti mencoba menghibur Manda.
__ADS_1
" Mbak Manda, aku sangat penasaran jenis kelamin anak mbak Manda." kata Surti
Manda terkejut Surti bertanya seperti itu, waktu itu dia dan Rizki juga berdebat tentang jenis kelamin anak mereka, Manda ingin seorang anak laki-laki yang akan mewarisi ayahnya. Sedangkan Rizki ingin anak perempuan secantik ibunya.
" apa pun mbak... Mau perempuan mau laki-laki yang penting sehat." kata Manda sambil tersenyum
Tini dan Surti senang dengan jawaban Manda, terlihat senyuman terselip di wajah Manda yang memerah.
Beberapa saat kemudian terjadi keributan di luar, banyak pekerja yang membicarakan tentang kejadian di rumah Nur. Banyak dari mereka yang menyalahkan Manda. Tapi tidak sedikit yang juga membela Manda. Meskipun begitu hati Manda tetap saja tersentak mendengar ucapan mereka. Dia merasa sangat bersalah mungkin benar apa yang dibicarakan mereka kalau saja gaji pegawai dapat di bayar tepat waktu semua itu tidak akan terjadi.
Beberapa hari berlalu, karna usia kandungan Manda sudah memasuki sembilan bulan, dia susah tidur. Ketika malam dia bangun duduk melihat ke bawah sinar bulan. Langit begitu indah tapi mengapa hidupnya begitu sepi.
Ditambah lagi semua mulai asing, orang-orang mulai membicarakan keburukan Manda. Setiap hari turus saja menyalahkan Manda. Apa lagi ketika dia bertemu dengan Nur yang menatapnya penuh dengan kebencian. Harusnya di usia kandungan yang sekarang Manda tidak boleh stres. Tapi apa yang dia dapat.
" Apa aku harus pergi ?" kata Manda lirih sambil menatap bulan
" Nak... Apa kamu bisa mendengar kata Mama... Kamu yang kuat ya.... Hanya kamu kekuatan Mama." kata Manda.
Manda membereskan barang-barang. Dia ingin pergi meninggalkan perkebunan. Dia mulai berfikir ini bukan tempat yang baik untuk tumbuh kembang anaknya dan juga mentalnya.
Dia tidak membawa banyak barang, hanya beberapa barang berharga untuk bekal hidupnya.
Hari masih sangat gelap, Manda berdiri didepan pondok dan melihat sekeliling. Disini walau hanya sebentar sudah banyak kenangan yang terukir. Ada banyak kebahagian bersama orang-orang disini. Ada banyak yang menyayanginya disini. Tapi dia harus pergi, dia tidak mau menjadi beban untuk keluarga Kardi lagi.
" aku pasti akan merindukan tempat ini." kata Manda sambil melangkahkan kakinya.
Manda menyusuri jalan menuju jalan raya. biasanya pagi-pagi sekali ada truk atau mobil yang mengantar sayuran ke kota, dia bisa menumpang sampai kota. Dengan perutnya yang besar Manda terlihat susah sekali berjalan, apa lagi hari masih gelap. Ada ketakutan di hati Manda, tapi tekat menguatkannya.
__ADS_1
Karena lelah Manda duduk di sebuah batu tepi jalan, baru saja meletakkan tubuhnya ada sebuah mobil lewat dan berhenti tepat didepan Manda.
"hai nona... Apa yang terjadi ?" kata supir
Karna khawatir supir itu turun dan melihat keadaan Manda. Manda sangat bersyukur ada mobil yang berhenti, tapi ketika dia ingin berdiri tiba-tiba perutnya sakit.
" pak tolong.... Perut saya sakit sekali." kata Manda
Melihat perut Manda yang besar, sopir itu berfikir kalau Manda akan melahirkan. Tapi ini masih gelap, dia tidak bisa melihat jalan menuju desa, apa lagi dengan kondisi Manda yang sedemikian.
" Pak... Bisa bawa saya kerumah sakit ?" kata Manda
Sejenak sopir itu terdiam, dia mendengar kata rumah sakit, biasanya hanya orang kota yang akan melahirkan kerumah sakit. Jadi dia berfikir Manda bukan orang sekitar sini dan bergegas membantu Manda masuk kedalam mobilnya.
Dalam perjalanan sangat hening, Manda hanya merintih pelan karena sakit. Sedangkan sopir hanya fokus kejalan agar cepat sampai ke rumah sakit.
cahaya matahari sudah mulai muncul, dan mereka juga sudah hampir sampai kerumah sakit. Manda melihat jelas keringat pada kening sopir dan tersenyum.
Tidak lama mereka sudah sampai di depan sebuah rumah sakit. Sopir itu berlari keluar dan memanggil suster kalau ada orang yang akan melahirkan. dua orang suster menghampiri mobil bapak itu sambil membawa sebuah kursi roda.
Manda didorong kedalam meninggalkan bapak itu yang masih tertegun melihat Manda. Tiba-tiba Manda menyuruh berhenti dan memanggil bapak itu.
" Pak... Terima kasih untuk bantuannya." kata Manda
Bapak sopir itu tersenyum dan menyuruhnya untuk segera masuk, dia kembali kemobil dan menghela nafas panjang.
" Semoga persalinanmu lancar, kamu dan si bayi selamat." kata sopir itu lalu pergi.
__ADS_1
Setelah dibawa masuk Manda mulai menjalani pemeriksaan apakah benar yang dia rasakan adalah kontraksi akan melahirkan atau hanya sebuah kontraksi palsu.