BACK YOUNG

BACK YOUNG
10. Dodol Garut


__ADS_3

...Hallo GAYS👋...


Pagi ini Feby sudah siap dengan seragam barunya, tak lupa ia juga memakai sepatu dan tas yang baru kemarin ia beli. Feby keluar dari kamarnya dan hendak menuju ruang tengah, disana sudah ada Gina, Heri dan Devin.


“Tumben lo belum berangkat? Nungguin gue?” Tanya Feby.


“Iya, aku nungguin kakak.” Jawab Devin sambil tersenyum.


"Woah! Gila bener lo." ucap Feby dengan cengengesan.


“Feby mau berangkat sekarang? Ibu sudah buatin bekal buay kamu dan Devin.” ucap Gina seraya menunjuk dua kotak bekal.


“Iya bi aku mau berangkat sekarang.” Jawab Feby seraya mengambil bekalnya dan memasukan ke tas barunya.


“Kalo gitu Feby berangkat dulu ya pak, Bu.” Ucap Feby sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Devin juga berangkat dulu." Ucap Devin seraya mencium tangan kedua orang tuanya.


Devin dan Feby sudah berada di luar rumah, Mengingat motornya yang Feby beli kemarin belum datang, jadi Feby harus memaki motor yang ada dulu.


“Biar gue aja yang ngendarain motornya.” Ucap Feby meraih kunci motor dari tangan Devin.


“Apa? Gak ah! biar aku aja, nggak lucu kalo kakak yang ngendarainnya mending aku aja.” Jawab Devin tidak terima.


“Ya terus kalaj mau lucu gue harus gimana? Apa gue harus pake kucir dua?” Tanya Feby.


“Bukan gitu maksudnya.” Jawab Devin menjadi gelalapan.


“Sudah lah Justin, biar gue yang ngendarainnya kalau gue jadi penumpang nanti paha gue kelihatan.” Ucap Feby final tak mau di bantah atau di goyahkan.


“Yaudah deh terserah.” Jawab Devin pasrah.


“Nah gitu dong lo harus patuh pada guru fakboy lo." Batin Feby tersenyum puas.


“DEVIN? SEBENARNYA LO SEKOLAH DI MANA? KOK GUE GAK LIHAT LO DI SEKOKAH GUE?” Teriak Feby bertanya kepada Devin, karena mereka sedang berada di perjalanan jadi tidak memungkinkan untuk berbisik-bisik.


“AKU GAK SEKOLAH DI TEMPAT KAKAK, AKU SEKOLAH DI SMA 20 JAKARTA” Jawab Devin tak kalah teriak.


“OH PANTESAN GUE GAK LIHAT KEMARIN, LO MAU GAK SEKOLAH DI TEMPAT GUE?” Tanya Feby menawarkan kepada Devin.


“YA MAULAH TAPI BAPAK GAK PUNYA UANG UNTUK NGEBIAYAIN NYA.” Jawab Devin.


“KALAU LO MAU GUE BISA NGEBIAYAIN NYA.” Ujar Feby yang membuat Devin terkejut.


“EMANG KAKAK PUNYA UANG?” Tanya Devin ragu.


“KREDIT DULU.” Jawab Feby di selingi tawaan, Devin awalnya menganggap perkataan Feby serius tapi setelah mendengar kakaknya tertawa ia langsung tersadar kalau itu hanya gurauan.


Tak butuh waktu lama Feby sudah sampai di gerbang sekolah, Devin masih setia menunggu kakanya untuk masuk, selepas kakanya masuk kedalam gerbang ia segera melajukan motornya.


"Mimpi hanyalah mimpi mustahil untuk terkabul." Batin Devin.


Feby memasuki sekolah untuk kedua kalinya setelah ia bertransmigrasi ke tubuhnya yang sekarang, ia berjalan di koridor dengan santai seperti sungai, tidak terusik dengan bisingan orang-orang azab di sekitarnya.


"Cih! Masih punya muka untuk ke sekolah?"


"Not shy."


"Caper kuy."


"Ck! dasar miskin tak tahu diri."


"Heol Daebak! dia pikir kalau dia Jennie blackpink?"


"Marshanda lewat."


Jujur dalam hati ia sangat ingin tertawa saat ada orang yang mengucapkan 'Marshanda lewat' Dari dalam hati ia terus tertawa terbahak-bahak.


"Ampun dj ini kumpulan bocah mulutnya sepedas mie Siwon dah!" Batin Feby merasa kesal dengan orang-orang yang mencibirnya.


Sekarang Feby sudah berada di depan kelasnya, ia tidak langsung masuk melainkan, ia bersender di ambang pintu dan melihat orang-orang sekelasnya. Semenjak kejadian kemarin saat mereka bisa pulang lebih awal, mereka sudah tidak sebenci seperti dulu lagi kepada Feby.


“Jangan berdiri di lawang pintu nanti nongtot jodoh.” Teriak Rifki teman sekelas Feby, meskipun Feby baru masuk sekolah ia ingat betul dengan wajah teman sekelas nya tapi ia tidak pernah melihat wajah yang berbicara padanya.


“Lo bisa ngomong Sunda?” Tanya Feby berbinar seraya berjalan menghampiri Rifki.


“Bisa dong,  gini-gini gue dari Garut.” Jawab Rifki membanggakan kotanya.

__ADS_1


“Berarti lo udah nyobain dodol dong? Gimana sih rasanya dodol itu?” Tanya Feby penasaran.


“Lo belum pernah nyoba? Rugi kalau belum nyoba.” Jawab Rifki membuat Feby lebih penasaran.


Jangan tanya dengan reaksi mereka semua yang ada di kelas, mereka terkejut dengan nada bicara Feby yang tidak lembut dan juga mereka tidak menyangka kalau Feby akan akrab dengan Rifki yang notabenenya ketua kelas, tetapi ada satu gadis yang lebih terkejut tangannya terkepal kuat dan mata sudah berwarna merah.


"Kenapa lo ambil semua yang gue suka?"  Gumam seseorang itu.


“Lo mau?” Tanya Rifki sambil menunjukan kresek yang berisi dodol.


Belum sempat Feby menjawab perkataan Rifki, semua orang yang ada di kelas langsung mengurubuni Rifki dan Feby.


"Gue mau."


"Bagi gue satu."


"Gue juga mau dodol."


"Minta satu pak ketu."


"Bagi satu gue penasaran dengan rasanya."


Cibir orang-orang yang mengurubuni Feby dan Rifki, karena Feby tidak ingin kehabisan jadi ia langsung mengambil tiga dodol, setelah dapat ia langsung keluar dari kerumunan.


"Gila kayak mau di bagi sembako aja." Gumam Feby setelah ia berhasil keluar.


"Tapi gue cuma dapat tiga, gak apa-apa lah yang penting gue dapa.t" gumam Feby setelah itu ia memasukan dodolnya ke tasnya dan langsung duduk di kursinya.


Setelah acara pembagian dodol selesai mereka semua bubar, ada yang kebagian satu ada yang kebagian sepotong dan ada juga yang tidak kebagian.


“Gue cuma dapet satu."


"Masih mending satu gue sepotong."


"Masih mending lo kebagian, lah gue? Udah susah payah nyari malah dapat bungkusannya."


Feby yang mendengar itu langsung menyembunyikan tasnya takut jika mereka merampas dodol milikinya.


“Berarti gue beruntung dong dapat tiga?” Batin Feby bahagia.


Tak lama kemudian Bu Tian datang membawa kertas ulangan.


“Gue lupa kalau sekarang ulangan."


"Mati dah gue!"


"Gara-gara dodol nih gue jadi lupa sama ulangan."


"Gak apa-apa deh kalau di remed kan ada Feby."


Feby yang mendengar cibiran itu hanya tersenyum miring, mereka tidak tahu kalau Feby yang sekarang bukanlah Feby yang dulu. Bu Tian membagikan kertas ulangan nya kepada masing-masing orang, ia mengasih waktu mengerjakannya hanya satu jam.


•••


Hani dan Feby sekarang sudah berada di kantin, dari tadi mereka tak luput menjadi pusat perhatian, bukan perhatian memuja tetapi perhatian yang mematikan.


Belum sampat dua suapan masuk kedalam mulut Feby, seseorang sudah membuat piringnya ngamuk melayang ke udara, baik Hani ataupun mereka yang ada di kantin merasa terkejut melihat itu, tapi mereka lebih dominan senang karena dapat melihat pertunjukan, Feby langsung melirik ke arah orang tersebut, lalu ia langsung menyeringai setelah melihat wajahnya.


“Gue sangat benci jika ada seseorang yang mengganggu waktu makan gue.” Ucap Feby seraya menatap lawan bicaranya.


“Tapi mereka juga benci jika tidak melihat pertunjukan.” Jawab Chelsea tersenyum sinis.


Melihat senyum nya yang kayak setan itu Feby langsung membuang muka karena tidak kuat menahan kesalnya.


“Senyum lo kek setan valak jadi jangan tersenyum di hadapan gue.” Ucap Feby lalu mengambil air yang ada di atas meja dan meminum nya sampai habis.


Chelsea terpancing emosi karena perkataan Feby, lalu ia kembali berbicara  lagi.


“Oh Feby? Lo sudah mulai berani ya sama gue? Atau lo udah berani nantang gue?” Tanya Chelsea yang membuat semua orang langsung menjadi tegang, mereka tahu kalau jika ada orang yang berani atau menantang Chelsea maka tempat terakhir orang tersebut adalah di tempat sampah.


“Gue tanya sama lo, sejak kapan gue takut sama lo?” Tanya Feby menaikan sebelah alisnya.


Hani hanya menonton tanpa berniat membatu Feby, karena ia sudah mengetahui  kalau Feby tidak akan tinggal diam jika di usik apalagi sampe di ganggu saat makan ia sangat sensitif soal makanan.


“LO? ORANG MISKIN KAYAK LO! Gak PANTES MENDAPATKAN SEMUA INI, LO ITU CUMA SAMPAH DI SINI! LO CUMA HAMA! BAHKAN KELUARGA LO ITU CUMA PEKERJA RENDAHAN.” Teriak Chelsea marah karena Feby berani menjawabnya.


Saat Chelsea sedang berkoar-koar trio most wanted sudah berdiri di ambang pintu kantin, mereka melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Brak..


Feby langsung menggebrak meja, semua orang yang ada di sana langsung di buat terkejut dengan apa yang di lakukan Feby termasuk Chelsea.


“Emangnya kalau gue miskin kenapa? Masalah buat Lo? mentang-mentang lo kaya, jadi lo bisa halu kalo lo itu tuan putri! Halu lo gak ngotak tau gak? Kesannya kayak orang butuh perhatian.” Ucap Feby tak kalah sinis.l


Chelsea langsung teruslut emosi dan hendak menampar Feby tetapi tangannya di keburu di cekal oleh seseorang.


“Jo..jovan?” Ucap Chelsea gugup sekaligus senang.


“Lo gak sepantasnya mengotori tangan lo dengan menampar wanita tak tahu diri ini.” Ucap Jovan menatap tajam Feby.


“Lihat, temanya saja gak sudi untuk membelanya.” Lanjut Jovan menatap Hani yang masih duduk cantik di mejanya, Feby melirik Hani dan hani juga meliriknya seakan berkata. "deerr lah"


Suasana kantin semakin mencengkeram dan pertarungan sengit antara dua vs satu masih tetap berlanjut.


Cuih..


Feby meludah setelah Jovan selesai berbicara, lagi-lagi mereka di buat terkejut dengan apa yang di lakukan Feby.


“Wahh! Gila! Sungguh drama yang elok di lihat, gue menganggu permaisuri Chelsea dan kaisar Abdul menyelamatka nya? kisah nya cukup menarik tapi karena lo gak tahu permasalahannya, mending lo jangan ikut campur.” Ucap Feby menatap tajam Jovan.


“Oh iya gue lupa, orang tua kalian pasti gak pernah ngarajarin tentang attitude ya?” Tanya Feby kepada Chelsea dan Jovan.


“Apa?” Tanya Jovan tidak terima dengan perkataan Feby.


“Kalau kalian di ajarkan attitude dan moral, kalian pasti akan menghargai sesama manusia, bukannya memaksa untuk menjadi raja di antara manusia. Kami yang miskin tahu cara menghargai manusia dan cara yang baik untuk memperlakukan manusia, tapi kenapa kalian seperti orang odob yang tidak tahu adab? Apa kalian menilai seseorang dari segi materinya? Apa karena mereka miskin kalian permalukan dia dan menganggapnya sampah? Lalu bagaimana kalau kalian menjadi orang miskin itu? Apa kalian menerimanya? Tentu tidak karena kalian punya hak untuk melawan.” Ucap Feby panjang lebar dan dapat di dengar oleh semua orang, Chelsea sudah semakin tersulut emosi dengan perkataan Feby.


"Gila kalau saja mamah Farida tahu anaknya jadi seorang cendikiawan pasti dia kaget." Batin Feby merasa malu sendiri.


“Kata-kata lo cukup menyentuh, tapi itu tidak berarti buat gue karena gue sangat membenci lo sampai kapan pun.” ucap Jovan seakan mengejek.


“LO JANGAN MENCERAMAHI TENTANG ATTITUDE KE GUE, KARENA GUE TAHU BETUL TENTANG ATTITUDE!” Teriak Chelsea dengan kemarahan yang memuncak.


“Waahh najis lo! Lo bilang lo tahu betul tentang attitude? Attitude mana yang lo maksud hah? Wani maneh ka urang?” Tanya Feby yang membuat semua orang menahan tawa hermasuk Hani dan Reza.


“Lo bisa bahasa sunda?” Tanya Reza penasaran dengan Feby, karena Feby berbicara bahasa Sunda.


“Iya dong.” Jawab Feby seakan lupa soal masalahnya dengan Chelsea dan Jovan.


Belum sempat Reza berkata Jovan sudah meninggalkan kantin di ikuti dengan Aldo di belakangnya, karena Reza gak mau ketinggalan jadi ia memilih untuk menyusul Jovan. Sekarang tinggal lah menyisakan Feby dan Chelsea yang berperang.


"Mau di lanjut?” Tanya Feby sambil tersenyum.


Chelsea kesal karena Jovan tiba-tiba pergi meninggalkan nya di tambah lagi ia sudah mulai kesal berurusan dengan Feby, lalu ia pun keluar dari kantin di ikuti oleh kedua temannya.


"Tumben tuh temennya gak ngomong? Biasanya kan kalau Queen bullying akan di bantu oleh temannya." Batin Feby bertanya.


Setelah mereka pergi, Feby pun memandang keseluruhan kantin ia melihat kalau mereka sedang memandanginya banyak di antara mereka yang memandang sinis dan kagum.


“Mau makan aja harus main drama dulu, gini nih kalau jadi artis! apa-apa susah mau makan pun susah.” Gerutu Feby kesal.


“Hani hayu capcus, udah menang kita." Ucap Feby sambil menarik tangan Hani.


“Kakak tahu gak kalau kakak itu pernah nembak Jovan?” Tanya Hani saat di luar kantin.


“Serius? Ah yang bener lo?” Tanya Feby tidak percaya dengan perkataan Hani.


“Aku serius, tapi Feby nya di tolak karena katanya kalau Feby harus banyak ngaca diri.” Ujar Hani sambil menatap ke depan.


“Sok ganteng banget si bambang, dia pikir kalau dia itu dewa Yunani? Wajah kayak cucuk lauk aja bangga, eh tapi setelah itu gimana? Gue jadi penasaran nih.” Jawab Feby kembali bertanya.


“Setelah itu Jovan jadi membenci Feby dan besoknya ada berita kalau Feby menyerang Tania, seseorang yang tengah dekat dengan Jovan.” Jawab Hani menjelaskan.


“Tunggu.” Ucap Feby.


...TBC...


...Bersambung Yee......


...Spam komen! Next part xixi...


...Bro ensis mutualan yuu, @destiifahila nama ig aku itu teh☠...


...Jangan lupa vote dan komen💬💜...


...Komen apa aja lah yang ada di benak kalian, nanti kita bisa saling curhat...

__ADS_1


...[D E S T I F A H I L A]...


__ADS_2