
...Hollađź‘‹...
...HAPPYREADINGđź’ś...
Di sisi lain seorang gadis muda tengah terbangun dari pingsannya.
Eunghh..
Perlahan mata Zolla terbuka pandangannya masih belum jelas.
"Gue kira gue udah mati." Gumam Zolla seraya menelisik setiap inci ruangan.
"Tapi? kok keluarga gue tega banget ya masukin gue ke ruangan umum kayak gini? gak mungkin kan kalau mereka gak punya uang? Apa mereka sebenci itu kepada gue?" Gumam Zolla merenungi.
"Perasaan tadi gue ketabrak truk agak parah deh, tapi kenapa gue gak ada luka sedikit pun? Malah kayak sehat walapiat." Batin Zolla bingung.
Lalu Zolla melihat pakaian yang ia kenakan, Zolla bingung pasalnya saat tertabrak tadi, ia masih memakai setelan blazer tapi sekarang ia memakai swtaer dan celana jeans panjang.
"Masa baju rumah sakit begini sih?" Gumam Zolla bertanya-tanya.
Tak lama kemudian dua orang paruh baya mendatangi Zolla dan langsung memeluk Zolla.
"Feby kamu gak papa nak? Maaf ibu sama bapak telat datang soalnya tadi kita harus mengerjakan pekerjaan resmi di tempat kerja." Ucap Gina memeluk Feby.
"Bapak juga minta maaf, tadi pekerjaan bapak terlalu banyak jadi telat datang ke sini." Ucap Heri.
"Kalian bilang aku siapa? Feby? Siapa Feby? Aku Zolla bukan Feby! tante jangan ngada-ngada ya!" Ucap Zolla penuh penolakan.
"Kamu Feby sayang, bukan Zolla! kamu anak kami, kamu bukan Zolla! tapi kamu Feby, Feby." Jawab Heri meyakinkan.
Gina hanya menatap sendu pada arah Zolla, tak lama kemudian dokter datang membawa hasil yang sudah di periksa.
"Dokter anak saya kenapa dok? tadi dia gak ngenalin kami, terus dia bilang kalau dia itu Zolla, sebenarnya ini ada apa dok?" Tanya Gina khawatir.
"Mungkin karena putri ibu mengonsumsi obat penenang berdosis tinggi, itu sebabnya putri ibu mengalami delusi, jadi ia tak mengenal dirinya ataupun orang lain." Jelas dokter kepada kedua orangtua Feby.
Dari tadi Zolla hanya menyimak perkataan dokter, sebenarnya ia juga bingung dengan yang di alami sekarang.
"Obat penenang mbahmu! Gue gak pernah ngonsumsi obat haram itu!" gerutu Zolla membatin.
"Tunggu! apa jangan-jangan gue sedang bertransmigrasi?" Batin Zolla.
"Gak salah lagi! pasti gue bertransmigrasi, tapi ngeri juga ya?" Batin Zolla masih bergulat dengan pikirannya.
Setelah mendengar penjelasan dokter Heri dan Gina langsung memeluk Feby lagi.
"Nak kenapa kamu melakukan hal yang berbahaya? Memakan obat penenang itu berbahaya nak! ibu gak akan izinin kamu bekerja paruh waktu lagi, supaya kamu gak banyak pikiran." Ucap Gina sambil menangis.
"Feby? Dosa apa yang telah kami lakukan hingga kamu berani melakukan hal itu?" Tanya Heri memandang sendu Zolla.
Zolla tidak tahu apa-apa tentang masalah ini jadi gimana caranya dia harus menjawab?
"Em..maaf Bu, pak mungkin saat itu aku sedang banyak pikiran jadi aku meminum obat itu." Jelas Zolla berharap mereka percaya.
Heri mengelus-elus kepala Zolla seraya berbicara sopan kepada Zolla "Lain kali jangan tanggung masalah sendirian, kamu harus bercerita kepada kita kalau kamu lagi mendapatkan masalah, kita siap menjadi teman curhat kamu." Ucap Heri penuh arti.
Zolla tertegun mendapat perlakuan dari mereka, samar-samar ia tersenyum kecil.
__ADS_1
"Seumur-umur gue hidup, baru kali ini ada yang ngelus kepala gue." Batin Zolla.
"Iya pak, tapi kalau boleh tahu, kenapa aku bisa masuk rumah sakit?" Tanya Zolla.
"Tadi kamu pingsan saat bekerja paruh waktu, dan kata dokter kamu pingsan gara-gara memakan obat penenang terlalu banyak." Jelas Gina.
"Aku bekerja paruh waktu Bu?" Tanya Zolla memastikan, sebelumnya ia tidak pernah bekerja paruh waktu.
"Iya kamu bekerja paruh waktu, kami sudah melarang tapi kamu masih ngeyel ingin bekerja, kalau begitu sekarang ibu gak ngizinin kamu bekerja lagi." Ucap Gina final.
Dengan senang hati Zolla menuruti perintah Gina, lagipula dia tidak memiliki pengalaman dalam bekerja seperti itu.
"Apa kamu mau pulang sekarang? " Tanya Heri
"Em..boleh, lagi pula aku juga ingin cepat-cepat tidur di rumah." Jawab Zolla riang.
Mereka pun pergi dari rumah sakit, di perjalanan Zolla tak henti-hentinya memandang kedua paruh baya yang berada di sisinya, ia merasa nyaman berada di dekat mereka. Karena ngantuk Zolla tidur di pangkuan Gina. Gina tertegun dengan perubahan sikap Feby yang tak seperti biasanya. Biasanya Gina hanya mendapatkan perlakuan dingin dari anaknya, bahkan berbicara pun seperti di jadwal oleh Feby tapi sekarang Feby menjadi seorang yang berkepribadian hangat.
...•••...
Setelah sampai di rumah, Zolla sempat kaget dengan keadaan rumahnya. Benar-benar pengalaman baru, bahkan ini adalah kali pertama Zolla tinggal di rumah yang bisa di bilang jelek, rumahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, dinding yang sudah banyak terkelupas dan warna cat yang sudah memudar menampilkan kesan seperti rumah kumuh. Zolla memasuki rumah itu, betapa terkejutnya saat ia melihat seorang umat manusia yang lagi rebahan di atas sofa.
"Oi? Lo siapa?" Tanya Zolla penasaran.
Tapi orang itu tak kunjung menjawab, sepertinya orang itu tengah asik dengan buku yang di bacanya. Heri dan Gina memasuki rumah, orang yang tengah membaca buku itu langsung memandang ke arah Zolla.
"Oh? Kakak sudah datang?" Tanya devin
Menegakan badannya dan berjalan kearah Zolla.
"Iya, buktinya gue udah disini." Jawab Zolla masih memandang Devin.
Devin sempat terkejut dengan Feby pasalnya kakaknya tidak pernah berbicara lo-gue ataupun menjawab perkataan Devin kalau itu tidak penting, menurutnya Feby adalah orang dingin bahkan sangat dingin.
"Lo adek gue?" Tanya Zolla.
"Kenapa kakak tanya gitu? Ya-iyalah aku adik kakak! kalo bukan, aku juga gak akan ada disini." Jawab Devin kesal.
"Devin jangan ganggu dulu kakak kamu, dia masih harus beristirahat, Feby kamar kamu berada di sebelah sana." Ucap Gina dan di balas anggukan oleh Zolla.
Zolla memasuki kamar Feby ralat sekarang ini sudah menjadi kamar Zolla. Dengan perasaan campur aduk iba dan senang Zolla merasa kalau mereka tidak hidup dengan layak.
"Apa gue harus menemui Bu Rena aja ya? Gue harus mengambil Balck card itu dan membagi rata dengan Bu Rena? ya itu harus gue lakukan." Gumam Zolla.
"Gue kasihan sama keluarga gue yang sekarang, masa iya harus tinggal di rumah kumuh seperti ini sih? Apalagi melihat adek gue si Devin yang gantengnya ngelebihi jaehyun nct! gue merasa kasihan, gimana kalo adek gue lagi kasmaran sama seseorang terus melihat perekonomian keluarga gue kayak gini? nanti si Devin malu lagi, gak ! nggak-nggak! gue gak akan biarin itu terjadi, gue harus jadikan adik gue seorang fakboy." Cloteh Zolla.
Zolla merasa kepalanya pusing dan munculah seklebet ingatan, bagikan slowmotion di tiktok, tak lama kemudian ia tak sadarkan diri alias pingsan.
...•••...
Hari sudah mulai pagi, akan tetapi Zolla masih setia terjaga dengan pingsannya. Setelah puas acara pingsannya, Zolla terbangun dan ia mendapatkan beberapa ingatan dari kepalanya.
Zolla sekarang sudah mengetahui seluk-beluk keluarganya dan mengetahui kalau orang tuanya sering di perlakukan dengan tidak adil oleh majikannya. Tapi ia tidak tahu kenapa tidak orangtuanya sering di perlakukan tidak adil. Namun Zolla hanya mengetahui tentang keluarganya tidak dengan dirinya.
Cklek..
Pintu kamar Zolla terbuka menampilkan seorang pemuda ganteng tengah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Udah bangun? Kakak tidur di bawah?" Tanya Devin memasuki kamar Zolla.
Zolla menatap intens wajah Devin, ia berpikir akan gila kalau melihat wajahnya terus-menerus.
"Kakak gak sekolah?" Tanya Devin lagi.
Zolla tidak mengetahui kalau dia sekarang anak sekolahan, lalu ia melihat Devin yang sudah siap memaki seragamnya. Meskipun dia bukan dari keluarga kaya tapi Devin mempunyai selera fashion yang bagus jadi orang lain akan menyangka kalau Devin berasal dari keluarga kaya.
"Gue suka gaya lo." Ucap Zolla menepuk bahu devin.
"Bilang pada gue apa lo sudah memiliki pacar? Atau gebetan mungkin?" Tanya Zolla mendekat kearah Devin.
Devin mundur beberapa langkah tapi Zolla malah mendekat, Devin mundur hingga tubuhnya terkunci saat punggungnya menabrak dinding.
"Kenapa kakak jadi begini sih? Ak..aku tidak mempunyai pacar." Jawab Devin gugup.
"Jawab jujur Steven kalau lo menyukai seseorang gue bisa bantu, dan kita buat kesepakatan." Mendengar itu Devin langsung bersemangat.
"Yang Bener kak? Serius bisa bantu?" Tanya Devin girang.
"Hm.., bahkan gue bisa membuat hidup kita berubah gimana? Lo setuju gak dengan tawaran gue?" Ucap Zolla sambil melipat kedua tangannya dan memasang wajah sombong.
"Oke aku setuju, tapi kalo gak berhasil gimana?" Tanya Devin Ragu.
"Kalau gue gak berhasil, lo harus traktir gue." Jawab Zolla berhasil mengecoh pikiran Devin.
"Setuju." Jawab Devin cepat.
"Kakak gak sekolah?" Tanya Devin.
Zolla baru ingat kalau dia melupakan sekolah. "Lo kenapa belum berangkat sekolah?"Â Tanya Zolla kepada Devin, karena dari tadi Devin belum berangkat.
"Ini masih jam setengah enam." Jawab Devin mengecek jamnya.
Zolla terkejut ia pikir ini sudah jam tujuh atau jam delapan. Zolla membuka jendela lalu ia tersenyum senang, setidaknya ia bisa sekolah hari ini.
"Busett gue kira ini sudah jam tujuh, ternyata masih jam enam?" Ucap Zolla.
"Cepet ganti baju nanti berangkat bareng." Ucap Devin lalu pergi dari kamar Zolla.
"Yoi, bentar gue ganti baju dulu." Jawab Zolla cepat.
Devin masih merasa kalau wanita yang di ajak bicaranya bukanlah kakanya, bagaimana bisa seorang wanita yang dingin tiba-tiba berubah menjadi banyak bicara seperti ini hanya dengan satu malam?
...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garing👍...
...Kalo part nya seru? Komen...
...Kalo punya saran dan kritik? Komen...
...Kalo mau demo? Komen...
...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...
...Kalo ada typo? Komen...
...Spam komen nya dongđź’śđź’¬...
__ADS_1
...Ig. @destifahila...
...D E S T I F A H I L A...