BACK YOUNG

BACK YOUNG
6. Awal masuk sekolah


__ADS_3

...Hallođź‘‹...


...Balik lagi👦...


Zolla atau Feby, sekarang sudah siap dengan seragam sekolahnya, lalu ia berjalan ke ruang tamu untuk sarapan, mereka sarapan di ruang tamu karena mereka tidak memiliki meja makan. Saat sampai di ruang tamu, Feby tidak melihat kehadiran Devin.


“Devin mana bu?” Tanya Feby karena tidak mendapati Devin.


“Tadi temannya menelpon terus Devin langsung berangkat.” Jawab Gina.


“APAA?” Teriak Feby tidak percaya. Zolla menjadi kesal karena berasa seperti di permainkan oleh Devin.


“Kalo gini ceritanya mending gue gak usah sekolah, tapi sayang udah ganti seragam juga.” Gumam Feby, Setelah itu Feby memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.


"Bu? Bapak mana?” Tanya Feby.


“Udah berangkat kerja tadi.” Jawab Gina.


“Sepagi itu?” Tanya Feby.


“Kamu kenapa sih? Biasanya juga kamu tidak pernah menanyakan bapak kamu kerja.” Jawab Gina.


“sekali-kali lah tanya gitu, masa gak boleh.”


“Eh Bu, btw sekolah Feby di mana? Lupa soalnya.” Tanya Feby sambil memasukan bekalnya kedalam tas.


“Sma Darmawangsa.” Jawab Gina.


Setelah mendengar itu Feby menjadi terkejut, pasalnya sma itu adalah tempat Hani bersekolah


“Asiik gue punye bebes.” Batin Feby senang.


“Oh yaudah deh, kalo gitu Feby berangkat dulu, Asalammualaikum.” Ucap Feby seraya mencium tangan Gina.


Gina terpaku dengan perilaku Feby kalo biasanya Feby bersikap dingin dan tidak pernah mengucapkan salam kepadanya, tapi kini Gina merasa sangat di hargai oleh Feby.


----


Feby berlari untuk sampai di sekolahnya, tapi saat sampai gerbangnya sudah tutup.


“Pake acara tutup segala sih?" Decih Feby.


Feby berjalan ke sekeliling sekolah guna mencari jalan alternatif untuk masuk, hingga ia menemukan sebuah pagar tembok tepat di taman belakang sekolah, dengan lihai ia memanjat tembok itu dan mendarat dengan selamat sentosa.


Brukk..


“Akhirnya gue bisa masuk juga.” Ucap Feby sambil menepuk-nepuk telapak tangannya, Sebelum ia hendak meninggalkan tempat itu, Feby sudah di kejutkan dengan sekumpulan pria yang tengah bolos.


“Astaga! Ini umat kenapa disini? Ah bikin malu aja, mana mereka bujang lagi.” Batin Feby merasa malu sendiri.


“Uhuk..uhuk ini yang ngebakar sampah dimana sih?” Tanya Feby menyindir para pria yang tengah merokok.


“Lagi pada bolos ya? Kalo gitu gue permisi numpang lewat.” Ucap Feby sopan setelah itu ia berlari menuju kelas, meninggalkan mereka yang masih terdiam.


“Dia Feby kan?” Tanya pria yang memakai kucir rambut dan bername tag Reza.


“Berani banget dia masuk basecame kita.” Ucap pria yang bername tag Jovan.


"Positif thinking aja, siapa tahu dia mau ketemu sama Jovan." Ucap Aldo terkekeh.


...-----...


Setelah sampai di kelas, Feby duduk di bangku paling pojok sendirian, dari tadi dia memerhatikan teman sekelasnya, ada yang memandangnga tajam dan ada juga yang memandangnya sendu.


"Tuh orang kenapa natap gue kayak sedih gitu?" Batin Zolla bertanya-tanya.


"Gue sangat benci melihat orang yang menatap gue kasihan!" Batin Feby kesal.


"Yang bener aja nih? Masa gue bertransmigrasi ke tubuh korban bullying sih? Ngada-ngada nih!"


"Risih gue di lihat kayak tai gini!"

__ADS_1


"Itu juga si cunguk kenapa sinis banget dah natap gue?" Jengah Feby.


“Feby?”


Feby tersadar dari lamunannya karena guru kelas meneriaki namanya.


“Iya ada apa Bu?” Tanya Feby menatap guru kelasnya.


“Kamu dengerin ibu?” Tanya guru yang sedang mengajar.


“Dengerin Kok Bu.” Jawab Feby berbohong, karena emang sedari tadi dia tidak mendengarkan penjelasan gurunya.


“Coba kamu kerjakan.” Titah Bu pitri membuat semua orang menatap Feby remeh. Feby memang di kenal sebagai murid teladan tapi Feby juga di kenal sebagai murid yang kurang pintar dalam belajar.


Karena sekarang tubuh Feby milik Zolla, mau gak mau Zolla harus memperlihatkan bakatnya dalam belajar kepada semua orang, dengan santai Feby berjalan ke depan dan mengisi semua pertanyaan di atas papan tulis, semua orang yang ada di sana terkejut melihat aksi Feby. Feby sangat terkenal bodoh dalam pelajaran bahkan saat ulangan pun ia tidak pernah terlewatkan untuk remedial, tapi sekarang dengan sangat mudahnya Feby menyelesaikan soal matematika yang mereka anggap susah.


Jangan di tanya kenapa,meskipun Zolla tidak di berikan kasih sayang yang lebih oleh orangtuanya, tapi Zolla selalu di tuntut untuk menjadi orang yang bagus dalam segala hal, baik dalam penampilan ataupun pengetahuan.


“Sudah Bu.” Ucap Feby, setelah itu ia kembali ke tempat duduknya.


Bu pitri langsung di buat tidak percaya karena jawaban Feby benar semua, padahal soal itu belum sepenuhnya di jelaskan.


“Hebat Feby kamu saya beri nilai plus.” Ucap Bu pitri senang.


“Hehe mangga bu.” Jawab Feby dengan logat sundanya.


Kalo bertanya kenapa Zolla bisa berbahasa Sunda, itu karena Bu Rena dan Hani asli orang Sunda jadi Zolla belajar bahasa Sunda dari mereka.


Kriiing..


Bel surgawi pun berbunyi, semua orang yang ada di kelas langsung berhamburan tapi tidak dengan Feby, ia masih setia duduk di kursinya sampai akhirnya dia harus bertanya pada seseorang yang ada di depannya.


“Hei? lo kenal Hani gak?” Tanya Feby kepada murid wanita yang berpenampilan culun di depannya, dia ber name tag Karin.


“Ha..hani siapa?” Tanya wanita itu gugup, sebenarnya wanita itu merasa takut jika harus berbicara kepada Feby, karena ia telah membuat Feby menjadi bahan bullyan geng Chelsea.


Waktu itu Feby menolong Karin yang di kunci di toilet oleh Chelsea dan teman-temannya, dan setelah kejadian itu karin tidak di ganggu lagi oleh geng Chelsea, tapi sekarang geng Chelsea malah mengganggu Feby bahkan lebih parah dari karin.


“lo tau dimana kelasnya? ” lanjut Feby semakin menekan.


“12 IPS 3.” Jawab Karina pelan bahkan Zolla pun tidak mendengarnya.


“Lo bilang apa? Sound suaranya besaran sedikit.” Ucap Feby agak kesal.


“12 IPS 3.” Ucap Karina dengan suara agak keras.


Mendengar itu Feby langsung berdiri dari duduknya, semua orang yang ada disana melirik Feby sinis.


"Ada apa nona-nona cantik? Kenapa kalian terus lihatin gue?" Tanya Feby cukup keras, membuat orang-orang yang berada di sana langsung berbisik-bisik.


"Kayanya kalian cocok deh jadi geng tukang ghibah!" Ucap Feby lagi.


Merasa kalau mereka kurang bermanfaat, Feby langsung keluar kelas dan berlari ke kelas yang di maksud Karin, tapi sebelum ia sampai di tempat tujuan, jalan koridornya agak macet karena banyak wanita dan lelaki yang mengerumun


“Kok gue jadi malu sama berondong ya?” Gumam Feby terkekeh.


Zolla berjalan dengan santai agar tidak bertubrukan dengan orang-orang di sekitar.


“HADEUH BISA CEPET GAK INI JALANNYA? KAYAK NGANTRI DI BERI BANSOS AJA, PAKE MACET DI TENGAH KORIDOR!” Teriak Feby kesal karena dari tadi ia tidak menemukan celah untuk melewatinya.


Mendengar makian Feby, semua orang langsung terdiam dan menatap ke arah Feby setelah itu mereka memberikan jalan kepada Feby, tapi tatapan mereka sangat tidak bersahabat. karena merasa di perhatikan Feby langsung angkat bicara lagi.


“Tinggal jalan doang apa susahnya sih?  pemisi!” Ucap Feby langsung berlari tapi sebelum pergi dari tempat itu, tepat di tengah-tengah kerumunan rambut Feby di jambak oleh seseorang, lalu Feby pun mendongak melihat siapa pelakunya, ternyata Chelsea.


“Baru sehari gak sekolah udah mulai berani lo?” Ucap Chelsea sisnis.


Zolla langsung menghempaskan tangan Chelsea kasar, lagi-lagi mereka semua yang ada di sana terkejut termasuk Chelsea dan para cowok yang di sebut-sebut sebagai most wanted, mereka tidak menyangka kalau Feby akan melawan biasanya Feby hanya menunduk dan tidak berkata-kata.


"Siapa sih?" Tanya Feby.


"Oh? Lo udah berani natap mata gue?" Tanya Chelsea heboh sendiri.

__ADS_1


“Siapa sih?" Bukannya menjawab Feby malah bertanya, setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya, tapi karena seorang Chelsea tidak mau menahan malu, ia kembali mencegat Feby.


“Ck! Apalagi sih?” Tanya Feby kesal.


“Gue peringatin jangan main-main suasana hati gue sedang gak mood!” Lanjut Feby.


"Apa? Sekarang lo udah sok jagoan ya?" Murka Chelsea.


"Ngomong apasih neng jago?" Tanya Feby jengah dengan wanita di hadapannya yang terus-terusan memancing emosinya.


Mendengar itu Chelsea semakin murka dan hendak menampar Feby tapi tangannya keburu di tahan oleh Feby, dan Feby langsung membalikan tangan Chelsea, membuat Chelsea meringis kesakitan


"Maaf ya neng! Gue gak kenal lo!" Ucap Feby.


“Lep..pasin brengsek! atau nanti lo akan merasakan akibatnya!” Ucap Chelsea sambil meringis kesakitan.


“Ck! Neng neng! gue bilang juga apa? jangan macam-macam gue nya lagi badmood! ” Ucap Zolla setelah itu ia melepaskan tangan Chelsea kasar.


Suasana semakin memanas, semua orang yang ada di sana terkejut dengan perlawanan Feby, hingga akhirnya seorang pria angkat bicara.


“Lo jangan keterlaluan! Lo disini bukan siapa-siapa!” Ucap lelaki yang berwajah tajam.


“Emang gue bukan siapa-siapa. ” Jawab Zolla enteng tapi mampu membuat pria itu menjadi marah.


“Emang lo dan dia siapa?” Tanya Zolla masih penasaran.


“GUE BILANG LO JANGAN KETERLALUAN!” Teriak pria itu dengan emosi yang membeludak.


“GUE KETERLALUAN APA?” Jawab Feby tak kalah ngegas.


Jawaban Feby membuat semua orang menahan napas. Tidak ada seorangpun yang berani berbicara ataupun melawan seorang Jovanka Imanuel.


Mendengar teriakan dari feby, Jovan  merasa tertegun karena ada seseorang yang berani melawan nya, lalu ia tersenyum miring.


“Lo bukan siapa-siapa di sini mending sadar diri aja! Tahu tempat.” Ucap sinis Jovanka.


“KATA SIAPA GUE SIAPA-SIAPA DISINI BRO?” Jawab Zolla kesal, Reza mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak karena menurutnya perkataan Zolla lucu.


Jovan melirik Reza sinis setelah itu ia kembali menatap ke depan, tapi seseorang yang di carinya sudah berlari meninggalkan kerumunan itu.


“Bubar!” Ucap Jovan datar tapi mampu membuat semua orang yang ada di sana langsung berhamburan pergi.


Chelsea yang melihat adegan saat Jovan membelanya, ia tersenyum senang setelah itu ia menghampiri Jovan.


“Jovan terimakasih sudah membantu aku.” Ucap Chelsea seraya menggenggam tangan Jovan tapi langsung di tepis oleh Jovan.


“Jangan sentuh gue!” Ucap Jovan dingin.


"Cabut!" Ucap Jovan dingin, Setelah mengatakan itu Jovan dan teman-temannya meninggalkan koridor untuk kembali ke kelasnya.


"Chelsea serius deh kayaknya Jovan suka sama lo!" Ucap Lynda teman Chelsea.


"Yang bener lo? Tapi Jovan kan sukanya sama Tania? Apa gue harus berbuat sesuatu sama Tania?" Tanya Chelsea.


"Terserah lo sih, gue ngikut aja." Jawab Lynda santai.


...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garing👍...


...Kalo part nya seru? Komen...


...Kalo punya saran dan kritik? Komen...


...Kalo mau demo? Komen...


...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...


...Kalo ada typo? Komen...


...Spam komen nya dongđź’śđź’¬...


...Ig. @destifahila...

__ADS_1


...D E S T I F A H I L A...


__ADS_2