
...Halloš...
...Salam panas dari destifahilaš...
...Esoknya.....
Feby sekarang sudah berada di area sebuah mall, bukan untuk berbelanja tetapi ia hanya ingin numpang ketoilet saja.
Setelah selesai acara di toilet nya ia pergi keluar hendak menuju jalan menunggu kedatangan Rena dan Hani, saat di perjalanan melewati parkiran ia tak sengaja melihat seseorang yang sedang di pukuli oleh pria paruh baya, betapa terkejutnya saat ia melihat orang itu.
āVe..Venus?ā Gumam Feby sambil bersembunyi di balik dinding.
Feby tidak tahu harus ngapain untuk menolong Venus, tapi tiba-tiba ia mendapatkan Hidayat untuk bagaimana cara ia bisa menolong Venus.
"VENUS LO DIMANA? INI MAKANAN BUAT GUE?" Teriak Feby keras.
"Kenapa jadi bawa-bawa makanan sih?" Batin Feby menggerutu.
Venus dan pria itu mereka sama-sama terkejut saat mendengar seseorang meneriaki nama Venus, meskipun sedikit kesal pria itu melepaskan cekalan tangannya dari baju Venus.
"Nanti papah kesini lagi dan kalau jawaban kamu tetap sama! Papah gak akan segan-segan menyerang orang-orangmu!" Ancam pria itu yang notabenenya sebagai papahnya Venus.
"Mau seribu kali pun papah menanyakan hal itu, tetap jawaban aku tidak!" Jawab Venus datar tapi membuat pria itu marah dan hendak memukul Venus lagi tapi aksinya terhenti karena seseorang meneriaki nama Venus lagi.
"VEVEN LO DENGER GUE GAK SIH? LO DIMANA? GUE UDAH CARI-CARI LO KEMANA-MANA." Teriak Feby sekali lagi.
"Maapkan gue yang sok kenal ini." Batin Feby merasa malu kepada Venus.
Pria itu menurunkan kembali tangannya, ia pergi dari sana menyisakan Venus yang masih memeganngi lukanya, jujur saat ini Venus merasa bingung karena seseorang meneriaki namanya, ia berpikir kalau orang itu mengenalnya buktinya dia meneriaki nama Venus.
Feby melirik kearah tadi dan di sana ia tidak melihat pria tua itu tetapi ia melihat Venus yang memandangnya, Feby keluar dari persembunyiannya dan hendak menghampiri Venus niatnya ingin menanyai kabarnya, tetapi belum sempat ia berjalan Venus sudah berbalik kebelakang guna untuk menghindari Feby.
"Kenapa harus dia sih yang lihat?" Batin Venus menggerutu kesal.
"Eh? Oi lo berhenti disana!" Titah Feby menyusul Venus yang berjalan cepat. Tetapi lelaki itu tidak menggubris perkataan Feby ia malah terus melanjutkan perjalanan, tentu saja Feby merasa kesal karena merasa tidak di hargai.
"HEII! JUSTIN BERHENTI DISANA!" Teriak Feby berlari menyusul Venus, saat Feby sudah mensejajarkan langkahnya ia berhenti di depan membuat Venus menghentikan langkahnya.
"Apa?" Tanya Venus datar kepada seseorang yang menghalangi jalannya.
"I..itu w..wajah lo lu..luka." Jawab Feby mendadak gelalapan sambil menunjuk wajah Venus yang memar.
"Terus?" Tanya Venus masih datar.
"Nggak di obatin? Nanti infeksi loh." Ucap Feby.
"Nggak!" Jawabnya datar setelah itu ia melangkah pergi, tetapi Feby hentikan, meskipun Feby tidak terlalu tahu tentang Venus tapi ia merasa kasihan saat melihat wajahnya yang babak belur, ia merasa tidak tega.
__ADS_1
"Mau gue obatin?" Tanya Feby ragu.
"Gak usah!" Lagi-lagi Venus menjawab dengan datar.
"Oke kalau gitu lo ikut gue, nanti gue obatin." Ucap Feby menarik paksa tangan Venus.
ā¢ā¢ā¢
Sekarang Venus sedang duduk di kursi sambil di obati oleh Feby, dari tadi Feby terus ngoceh bertanya kepada Venus>
"Tadi pria itu siapa sih? Musuh lo? Atau bokap lo?"
"Eh btw gue juga pernah lihat tu si bapak ngegampar pipi lo, lo beneran musuhan ya sama dia?"
"Gue denger dari Hani lo ketua geng ya? Ketua geng kok letoy? Harusnya lo lawan si Bapak itu, mau aja lo di perlakukan kayak hewani."
"Btw juga, lo pernah bilang kalau gue sekarang berurusan sama lo, emangnya lo bakal lakuin apa kek gue? Nonjok gue atau ngeroyok gue bareng geng lo?" Oceh Feby tidak berhenti membuat telinga Venus merasa panas.
"Lo sebenernya mau ngobatin gue atau wawancara gue?" Tanya Venus yang mulai jengah dengan Feby.
"Hehe viis! Gue cuma tanya dikit aja." Jawab Feby seraya menghentikan acara mengobatinya, setelah itu ia memandang wajah Venus yang sangat elok untuk di lihat.
"Damage berondong gini amat dah." Batin Feby.
"Lo mau tau jawabannya?" Tanya Venus membuat Feby terkejut.
"Jawaban apa?" Tanya Feby tidak mengerti.
"Oh itu? Iya gue mau tau jawabannya" Ucap Feby semangat.
Bruk..
Saking semangatnya, ia duduk dengan gencar tapi ia melupakan kalau di belakangnya tidak ada kursi karena kursi nya di pakai oleh kaki venus dan alhasil ia terjatuh tepat di depan Venus, rasa malu dan ingin ketawa saat ini ia harus menahannya demi menjaga image. Venus yang melihat itu ia hanya memalingkan wajahnya ke sisi seraya menahan tawanya.
"Demi apa gue malu banget jatuh di hadapan cogan." Batin Feby meringis malu.
"Ekhm sorry gue barusan dapet musibah.. minggir dong kakinya." Ucap Feby malu, setelah itu ia mendorong kaki Venus agar terjatuh dari kursi dan setelah kursinya kosong.
"Jadi gimana? Lo beneran ketua geng?" Ucap Feby memulai pembicaraan serius.
"Iya." Jawabnya dingin, dengan jawaban yang simpel itu Feby masih bisa menerima dengan lapang dada.
"Tadi yang mukul lo itu, musuh lo ya?" Tanya Feby kepo. Venus tampak ragu untuk menjawab pertanyaan ini, ia merasa takut kalau Feby mengetahui itu papahnya.
"Iya, dia musuh gue." Jawab nya membuat Feby terdiam merasa kalau dirinya sudah menanyakan hal yang tidak sopan.
"Oh..ini terakhir ya, lo pernah bilang ke gue kalau gue berurusan sama lo, itu maksudnya apaan sih?" Tanya Feby serius.
__ADS_1
Bukannya menjawab Venus malah menyeleneng pergi tanpa pamit. Melihat itu Feby langsung berdiri dan menyusul Venus untuk yang kesekian kalinya.
"Lo kenapa sih? Pertanyaan gue bikin lo sensitif ya?" Tanya Feby mensejajarkan langkahnya dengan Venus.
Langkah Feby terhenti kala melihat pria yang tadi memukul Venus, tengah berada di depan mobil sambil menelpon seseorang. Dengan cepat Feby menarik Venus untuk kembali kedalam, ia hanya berjaga-jaga siapa tahu akan ada keributan besar terjadi lagi antara dua orang itu.
"Lo apa-apaan sih?" Tanya Venus saat Feby menarik nya masuk kedalam.
"Lo gak lihat musuh lo masih berkeliaran di sini." Ucap Feby seraya membawa Venus ke tempat aman.
"Gue bisa ngelawan." Ucap Venus.
"Kalau lo bisa lawan kenapa tadi lo diam saja saat di pukuli?" Tanya Feby membuat Venus bungkam.
"Udah lo diam aja, hari ini gue dapat Ilham untuk membantu sesama umat manusia." Ucapnya, setelah itu ia tak sengaja melihat pria musuh Venus berjalan mendekat kearahnya, Untung saja pandangannya sedang tidak fokus kepada Feby dan Venus, sehingga Feby bisa membawa Venus pergi lagi.
"Noh lihat musuh lo pasti sedang nyariin lo, cepet ikuti gue." Ucap Feby menyeret Venus lari lagi, sampai pada akhirnya ia bersembunyi di balik mobil.
"Gue tahu lo sedang berbuat baik, tapi gak gini juga." Ucap Venus mencoba mengangkat kepalanya, saat Feby menangkup kepalanya hingga kepalanya nyondong kebawah.
"Diem! Nanti kedengaran sama musuh lo! Kalau lo ketangkep gue juga akan kena getahnya." Ucap Feby berbisik.
"Lepasin dulu tangan lo di kepala gue, gue gak bisa nafas nih!" Seru Venus mencoba membebaskan kepalanya dari cengkraman tangan Feby.
"Feby leher gue sakit!" Suara Venus cukup keras sehingga pria itu tampak mendengarnya, Feby menimpuk kepala Venus dengan tangannya.
"Gue bilang diam! Kenapa lo masih ngoceh!" Seru Feby sambil menimpuk kepala Venus dengan tangannya. Venus meringis karena kepalanya di timpuk.
Setelah dirasa cukup aman, Feby melepaskan tangannya dari kepala Venus dan ia langsung berdiri, tapi tidak dengan Venus ia masih memegangi kepalanya yang terasa berdenyut dan juga lehernya yang terasa sakit.
"Gue rasa ilham yang ada di diri gue udah berkurang, jadi gue pergi dulu, gak perlu berterima kasih gue iklas kok." Ucap Feby seraya pergi meninggalkan Venus.
Venus melihat kepergian Feby, diam-diam dia tersenyum melihatnya.
"Akkh." Ringis Venus memegang kepalanya.
...See you next partš...
...Kalo part nya garing? Komen ...
...Kalo part nya seru? Komen...
...Kalo punya saran dan kritik? Komen...
...Kalo mau demo? Komen...
...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...
__ADS_1
...Kalo ada typo? Komen....
...D E S T I F A H I L A...