
...Hallo🤗...
...Happy reading đź’ś...
Feby tidak mengerti kenapa Lauda mengajaknya berbicara di tempat yang sepi, Lauda mengajak Feby ke belakang sekolah atau lebih tepatnya di taman belakang sekolah.
Dari tadi Feby merasa ada yang aneh dengan dirinya, telinganya terus berdengung dan pernapasan tidak lancar di tambah lagi kepalanya sesekali merasa pusing.
"Ada apa?" Tanya Feby kepada Lauda.
"Gue gak mau lama-lama lihat wajah lo, jadi gue mau ngomong langsung ke intinya aja." Ucap Lauda langsung menghadap Feby.
"Lo mau ngomong apa? Lo mau ngomongin tentang cinta pertama lo itu? Kalau iya? Gue gak tertarik!" Ucap Feby ketus, Feby tidak mengetahui kenapa dia berbicara ketus seperti itu.
"Gue tahu lo udah ingat semuanya, jadi gue minta agar lo jangan deket-deket sama Vano lagi! Karena dia udah jadi milik gue!" Ucap Lauda penuh penekanan.
"Ambil aja! kalau bisa lo makan aja tuh si Vano! Gue gak butuh dia!" Jawab Feby merasa jengkel.
"Aha? Gue pegang kata-kata lo itu!" Ucap Lauda dengan nada centil.
"Sekarang giliran gua yang tanya sama lo, apa benar lo selalu nukar nilai gue?" Tanya Feby membuat Lauda langsung bungkam.
"Lo baru ingat?" Tanya Lauda terkekeh.
"Ternyata benar si jalampeng ini yang selalu nukar nilai gue!" Batin Feby berdecak sebal.
"Kenapa lo lakuin itu? Apa gue punya salah sama lo? Atau semua itu terjadi gara-gara Vano?" Tanya Feby menggali informasi lebih dalam.
"Selain pintar lo juga cepat tanggap, gue bangga sama lo!" Ucap Lauda tersenyum puas.
"Hoi! Kokon lo bisa gak ngomongnya jangan sambil senyum-senyum kayak gitu? Gue jijiq lihatnya!" Tanya Feby mengoceh gaya bicara Lauda.
"Apa lo lagi memprovokasi gue? Ingat lo gak akan bisa masuk ke sini tanpa bantuan gue!"Â Jawab Lauda.
Setelah mendengar perkataan itu, Feby langsung teringat sesuatu.
...***...
"Saya bisa bantu kamu masuk sekolah SMA Dharmawangsa, tapi dengan satu syarat! Kamu harus menukar nilai kamu dengan nilai Lauda Dan juga saya bisa memberikan pekerjaan kepada orang tua kamu, gimana?" Tanya Natno kepada Feby.
Saat itu Feby sangat ingin masuk ke Sma Dharmawangsa, ia tidak bisa menolak tawaran pak Natno di tambah lagi saat itu menjadi kesempatan untuk orang tua Feby bekerja, jadi mau tidak mau Feby harus menerima tawaran pak Natno meskipun harus mengorbankan nilainya.
"Saya setuju pak." Jawab Feby ragu.
"Gadis pintar! Ternyata kamu lebih pintar dari yang saya kira." Ucap Natno terkekeh.
Feby tidak tahu jika saat itu Natno sedang tertawa atas kemenangannya.
...***...
Feby tidak bisa berpikir jernih, antara dia harus marah sama Natno atau berterima kasih kepada Natno, ingatannya muncul sedikit demi sedikit jadi Feby belum mengetahui akar dari masalahnya apa. Kenapa Natno menawari hal itu kepada Feby? Pikirnya.
"Lo kenapa? Apa lo ingat sesuatu?" Tanya Lauda menatap Feby.
Feby tak kunjung menjawab pertanyaan Lauda, ia masih tidak bisa bernafas dengan baik, jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
"Semoga lo bisa cepat ingat, agar lo tahu siapa si Natno yang sebenarnya." bisik Lauda kepada Feby.
"Tunggu! Lo kalau ngomong satu-satu dong, jangan di sekaligusin! Gue puyeng nih mikirin nya!" Gerutu Feby kepada Lauda.
__ADS_1
"Jadi inti masalahnya apa? Apa inti masalahnya si Vano?" Tanya Feby.
"Bisa di bilang begitu, dan bisa di bilang tidak" jawab Lauda membuat Feby menjadi kebingungan.
"Lo kalau ngomong sebelas dua belas sama si Jovan! Sama-sama ngeselin! Sebenarnya apasih yang lo mau dari gue?" Tanya seraya menggaruk kepalanya kesal.
"Gue gak mau lo suka sama Vano, kalau lo nggak ngedeketin dia, gue gak akan ganggu lo lagi" Jawab Lauda melipat tangannya di dada.
"Apa gue harus kasih lo surat kelengkapan seperti STNK? SIM? BPKB gituh? kalau gue memang benar-benar gak suka si vano! Gue gak suka sama dia! Mau seribu kali lo ngelarang gue deket sama dia? gue gak akan deketin dia! Karena apa? Karena gue gak suka sama si Vano! Ahk! Gimana ya? Susah ngejelasin sama orang bucin kayak lo!" Ucap Feby panjang lebar.
"Lo beneran gak suka Vano?" Tanya Lauda serius.
"Gak! Bahkan sekarang gue aja gak kenal siapa dia" jawab Feby berharap Lauda akan percaya.
"Sebenarnya gue juga korban keserakahan si tua bangka itu, jadi ini bukan sepenuhnya salah gue!" Ucap Lauda lagi-lagi membuat Feby bingung.
"Omongin aja dah apa yang bersangkutan dengan masalahnya, gue gak peduli lo jadi sad girl atau apalah itu yang terpenting sekarang, gue cuma mau tahu inti masalah gue, cuma segitu titik!" Ucap Feby penuh penekanan.
"Gue benci diri gue sendiri, karena itu gu.." Ucapan Lauda terpotong karena Feby langsung memotong pembicaraannya.
"Di luar sana udah banyak orang yang benci lo termasuk gue, jadi lo jangan benci sama diri sendiri! Sekarang lo omongin aja apa yang menjadi inti dan penyebab gue bisa terikat sama si Natno!" Potong Feby.
"Intinya kita sama-sama korban, tapi lo lebih parah sih! Karena si tua Bangka itu cuma manfaatin nilai lo dan tenaga orang tua lo doang."Â Ucap Lauda santai.
"Tenaga orang tua gue? Memangnya apa yang di lakukan si Natno sama orang tua gue?" Tanya Feby serius.
"Lo lihat aja nanti ke kantor si tua bangka itu!" Jawa Lauda masih santai.
Feby menjadi tidak karuan mendengar jawaban Lauda, ia merasa curiga sekaligus khawatir sama orang tuanya, tapi menurut Feby sekarang, kenapa Lauda tidak seperti orang jahat? Apa itu hanya siasat? Pikir Feby.
"Gue masih penasaran, kenapa dulu Vano nembak lo? Lo ngekhianati gue ya?" Tanya Lauda mengungkit-ungkit lagi tentang Vano.
"Apa lo ngomong jujur?" Tanya Lauda masih belum percaya dengan perkataan Feby.
"Ya, gue ngomong jujur!" Jawab Feby meyakinkan.
"Satu hal lagi, kenapa si Natno selalu nukar nilai gue sama nilai lo?" Sekarang giliran Feby yang bertanya.
Lauda melirik jam tangannya, sekarang sudah waktunya ia makan siang. "Udah waktunya gue makan siang, so! Good luck!" Ucap Lauda di akhiri dengan senyuman manis tapi terlihat sinis.
Mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka, bahkan sebelum mereka datang ke sana orang itu sudah lebih dulu ada, orang itu tak lain adalah Venus.
Setelah Lauda pergi kini menyisakan Feby yang masih terdiam, Venus tidak menghampiri Feby tetapi ia lebih mengikuti kemana perginya Lauda.
•••
Saat Lauda sedang berjalan, tiba-tiba seseorang menarik tangannya, lalu orang itu menyeret Lauda masuk ke dalam ruangan yang kosong.
"Ve.. Venus? Ke.. kenapa lo bawa gue ke sini?" Tanya Lauda gugup, jujur Lauda sangat takut melihat Venus bahkan melihat matanya saja sudah membuat dirinya seakan sudah mati duluan.
"Jadi lo yang udah nukar nilai Feby?" Tanya Venus membuat Lauda menjadi gugup lagi.
"A..apa maksud lo?" Tanya Lauda tidak mengerti.
"Gak usah sok polos! Gue udah tahu sikap lo!" Jawab Venus dingin tapi terdengar menyeramkan bagi Lauda.
"Jawab ya atau ya, lo kan yang udah nukar nilai Feby?" Tanya Venus lagi.
"Bukan gue tapi kakek gue." Jawab Lauda mencoba memberanikan diri.
__ADS_1
"Kenapa dia lakuin itu? Apa ini ada kaitannya sama si Vano? Vano itu?" Tanya Venus lagi.
Memang benar masalah ini ada kaitannya dengan Vano tapi Lauda tidak mau mengakuinya karena ia terlalu takut sama Venus.
"Tidak! Ini tidak ada kaitannya dengan Vano!" Jawab Lauda berbohong.
"Terus apa inti masalahnya?" Tanya Venus serius.
"Ke.. kenapa lo peduli sama Feby? Apa lo su..suka sama Feby?" Tanya Lauda tidak bisa tenang, ia terus bergetar ketakutan saat mendengar Venus berbicara.
"Bukan suka, Tapi Feby milik gue! Gue gak akan biarin lo ataupun si tua ****** itu ngusik kehidupan Feby lagi! Gue gak akan ampuni kalian!" Jawab Venus santai.
"Kalau begitu buat Feby jadi milik lo! Kalau itu sampai terjadi gue gak akan ganggu Feby lagi!" Ucap Lauda tidak gugup lagi.
"Apa?" Tanya Venus tidak mengerti.
"Apa ini salah satu trik lo?" Tanya Venus memicingkan matanya.
"Bukan! Orang yang gue suka, menyukai Feby! Jadi kalau lo berhasil jauhin Feby dari Vano, gue gak akan ganggu dia lagi!" Jawab Lauda.
Memang iya, Lauda juga tidak akan terus mengganggu Feby kalau Feby tidak muncul lagi di kehidupan Vano, tapi kakeknya, Natno selalu memanas-manasi pikirannya tentang perbuatan buruk Feby kepadanya, hal itu lah yang membuat api di pikiran Lauda susah padam.
"Gue yakin ini salah satu trik lo!" Batin Venus menatap tajam Lauda.
Venus tersenyum miring mendengar jawaban Lauda. "Gue anggap ini sebagai pembelaan diri lo! Ingat sekali lagi gue lihat lo macem-macem sama Feby? Gue gak akan segan ngehabisi lo, peringatan ini juga berlaku buat si tua ****** itu, jangan lupa kasih tahu kakek lo! Perlu lo ketahui juga gue lebih menyeramkan dari yang lo kira." Ucap Venus tajam, setelah itu ia berjalan keluar meninggalkan Lauda yang masih shock.
Venus memang tidak pernah kasar sama wanita, tapi karena Lauda sudah di anggap manusia setengah salmon oleh Venus, jadi itulah mengapa Venus tidak lemah lembut kepadanya, di tambah lagi Lauda mengusik kehidupan orang yang Venus sukai, Venus tidak akan biarin Lauda ataupun kakeknya menang.
"Lakukan sesuka lo, gue mungkin bakal ada di pihak lo." Gumam Lauda saat melihat Venus.
...TBC...
...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garing👍...
...Kalo part nya seru? Komen...
...Kalo punya saran dan kritik? Komen...
...Kalo mau demo? Komen...
...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...
...Kalo ada typo? Komen...
...MAU NGOMONG APA SAMA FEBY?...
...MAU NGOMONG APA SAMA VENUS?...
...MAU NGOMONG APA SAMA JOVAN?...
...MAU NGOMONG APA SAMA BENUA?...
...SHIPPER VENUS MANA SUARANYA?...
...SHIPPER BENUA MANA SUARANYA?...
...SHIPPER JOVANKA MANA SUARANYA?...
...PENDUKUNG TRIO GEN MANA SUARANYA?...
__ADS_1
...Ig. @destifahila...