
...Hallođź‘‹...
“Tapi masalahnya gue gak suka makan di pinggir jalan!” Ucap Benua.
“Kalau lo gak mau di pinggir jalan, di tengah jalan aja gimana? Biar nanti kalo ada truk ketabrak.” Ucap Feby membuat Benua melirik Feby sinis.
“Gaje banget sih lo.” Seru Benua.
“Gak sadar diri dia.” Batin Feby.
“Lo yang gaje Nurdin!” Ucap Feby.
“Udah lo ikut gue aja kalau mau makan.”
Ucap Feby.
“Lo jadi orang gak higienis banget sih? Denger ya, cewek itu paling suka kalau ada cowok yang ngajak makan ke cafe.” Ucap Benua.
“Tapi gue enggak! Gini deh kalau lo mau gue temenin, lo harus nurutin apa kata gue.” Ucap Feby final.
Mau tau mau Benua harus mengikuti perkataan Feby, itung-itung percobaan pendekatan dengan Feby.
“Up to you!” Ucap Benua mengalah.
“Nah gitu dong, ngalah sama cewek, baru namanya jantan.” Sahut Feby penuh kemenangan.
...•••...
Sekarang Feby dan Benua sudah berada di warung pinggir jalan, dari tadi Benua tidak ada henti-hentinya melihat kesana-kesini hanya karena mencari tempat yang menurutnya higienis.
“Lo kalau mau duduk di tempat higienis besok-besok bawa kursi pribadi dah! Jangan tengok kanan-kiri mulu, nanti pedagangnya kesindir!” Ucap Feby kepada Benua.
Karena mendengar perkataan Feby, Benua pun menurut dan duduk di hadapannya, dalam hatinya ia masih berdoa agar makanannya higienis.
“Ben! Emang lo serius kagak pernah makan di tempat kayak gini?” Tanya Feby menyelidik.
“Gak pernah!” Jawab Benua cepat.
Feby memicingkan matanya “Sombong amat.” Seru Feby.
“Bukannya sombong tapi.. Ya intinya gue gak mau aja gitu.” Ucap Benua menggantung.
“Tapi apaan sih? Gue jadi kepo nih.” Ucap Feby penasaran tetapi Benua tidak menjawab pertanyaan-Nya.
“Lo itu anak muda, tidak pantas untuk sombong apalagi mengatakan kalau makanan di pinggir jalan tidak higienis, itu kalau kedenger netizen lo bisa di bully habis-habisan.” Lanjut Feby menasehati Benua.
“Gue gak sombong cuman gue gak pernah makan di pinggir jalan.” Jelas Benua mencoba menyangkal perkataan Feby.
“Tapi tadi lo bil..” Ucapan Feby terpotong karena pesanan nasi gorengnya sudah sampai, bapak-bapak itu meletakan dua piring berisi nasi goreng di atas meja.
“Makasih pak.” Ucap Feby ramah kepada pedagang yang memberikan nasi gorengnya.
“Sama-sama neng.” Jawab bapak-bapak itu seraya pergi dari sana.
__ADS_1
“Kok cepat?” Ucap Benua terkejut karena makanannya cepat selesai, ia pikir akan lama.
“Nah itu keuntungan pertama kalau lo makan di tempat kayak gini, beda dengan kalau lo makan di cafe bisa setengah jam nunggunya.” Jawab Feby merasa puas.
Benua mengangguk mengerti, lalu ia beralih menatap makanan di hadapannya, rasa lapar dan gengsi yang ada pada diri Benua sekarang sedang bersmack down agar bisa mendapatkan jawaban apakah dia harus makan atau tidak.
Feby yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepala, ini adalah pertama kalinya ia melihat seseorang yang sangat menjaga kebersihan.
Setelah ia berbicara seperti itu, Benua meliriknya dengan raut muka yang tersirat kekhawatiran.
“Lo takut di racun? Nih lo lihat ya! gue buktiin kalau makanannya nggak di campur betrak-betruk ini itu kucrut!” Ucap Feby seraya memakan makanan Benua.
“Nih lihat gue masih sehat walapiat kan? Gak keracunan?” Ucap Feby membuktikan kalau dirinya baik-baik saja.
Setelah melihat Feby memakan makanannya ia merasa sedikit lega, pikirnya, jika makanannya di racun maka Feby juga akan ikut teracun.
Dengan hati-hati dan tangan yang bergetar kecil ia memasukan makanannya kemulutnya. Feby yang melihat itu ia merasa sedang menyaksikan adegan slowmotion tiktok, karena melihat Benua yang hati-hati saat menyuapkan makanannya membuat Feby mengekspresikan mukanya.
"Baru kali ini gue lihat orang normal kayak autis" Batin Feby terkekeh.
Setelah Benua memakan suapan pertamanya, matanya langsung berbinar menandakan kalau makanannya sangat enak. Feby merasa puas karena melihat ekspresi Benua.
“Gimana enak gak?” Tanya Feby.
“Nggak biasa aja.” Jawab Benua berbohong setelahnya ia memakan makanannya lagi.
Saat di tengah-tengah makan Benua membuka tas ransel miliknya, karena kebetulan Benua masih menggunakan seragam sekolahnya, ia mengambil sebuah kotak persegi panjang yang berukuran sedang dan memberikannya kepada Feby.
“Apaan nih?” Tanya Feby penasaran karena Benua tiba-tiba memberikan sebuah kotak kecil kepadanya, Feby kira kalau Benua memberikan sebuah cin-cin tapi saat di buka.
“Biar lo pinter, gue beliin lo tolak angin satu dus.” Jawab Benua membuat Feby melongo.
“Hah?” Tanya Feby tak mengerti.
“Orang pintar minum tolak angin, karena lo bodoh jadi gue beliin tolak angin biar lo pintar.” Jawab Benua membuat Feby terkekeh tak percaya.Â
“Yah! Kata siapa gue bodoh? Jangan salah gini-gini gue calon prosessor!” Ucap Feby tidak terima di katakan bodoh.
“Ck ck ck! Nyebut profesor aja gak bisa, kalau lo pintar kenapa nilai ulangan Bu Tian jelek?” Tanya Benua mengejek.
Feby tampak berpikir dengan perkataan Benua “Itu karena..gue di jebak.” Jawab Feby ragu tapi membuat Benua tertawa terbahak-bahak.
“Iya gue tahu lo di jebak soal,gausah ngeles dah!” Seru Benua semakin mengejek.
“Serah lo aja deh, susah ngomong sama orang kaya lo.” Ucap Feby mengalah.
“Oh iya ngomong-ngomong tadi lo di periksa mata ya?” Tanya Benua.
“Kenapa lo baru tanya sekarang?” Tanya balik Feby.
“Karena tadi gue lupa.” Jawab Benua jujur.
“Benua, lo punya kenalan orang pintar gak?” Tanya Feby mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Emangnya kenapa?” Tanya Benua penasaran, Feby menggerakkan tangannya seraya menyuruhnya mendekat.
“Gue mau bikin si Jovan muntah paku.” Jawab Feby berbisik.
“Gue punya." Ucap Benua membuat Feby terkejut.
“Serius lo? Siapa? Dimana?” Tanya Feby serius.
“Namanya pak Komar, kalo lo mau kesana, lo tinggal cari aja toko indah jaya material disana menjual bermacam-macam paku.” Jawab Benua berbisik supaya tidak kedengaran oleh orang lain.
Feby merasa geram karena jawab Benua yang tidak masuk akal, ia melayangkan tangannya dan menggampar kepala Benua sehingga Benua meringis kesakitan.
“Aakkhh..Lo apa-apaan sih?” Tanya Benua terkejut saat mendapatkan pukulan di kepalanya.
“Lo yang apa-apaan! Gue tanya kesini di jawab kesana.” Ucap Feby ngegas.
“Lo tadi tanya tentang paku kan? yaudah gue jawab.” Seru Benua tak terima kalau di salahkan.
“Gue ngomongin tentang dukun bukan tentang toko material Beben!” Ucap Feby tak mau kalah, awalnya Benua ingin menjawab tapi mendengar Feby menyebut kata Beben rasa marahnya langsung reda, jadi ia memutuskan untuk mengalah saja.
“Yaudah deh maaf.” Ucap Benua mengalah.
"Gue mau tanya orang tua lo donatur terbesar di Sma Dharmawangsa ya?" Tanya Feby kepada Benua.
"Emangnya kenapa?" Jawab Benua balik bertanya.
"Gue cuma tanya kok," Jawab Feby.
"Hm, orang tua gue donatur di sekolah." Jawab Benua membuat Feby mengangguk sebagai jawaban darinya.
"Terus bener gak sih kalau si Venus itu anak pemilik sekolah?" Tanya Feby semakin kepo.
"Kepo banget sih lo?" Julid Benua kepada Feby.
"Gue orangnya emang suka kepo." Jawab Feby.
"Iya si Venus itu anak pemilik sekolah, gue sama si Venus bisa di bilang saudara jauh karena bokap si Venus sepupuan sama nyokap gue." Jawab Benu menjelaskan
"Oh." Monolog Feby.
...See you next partđź‘‹...
...Kalo part nya garing? Komen ...
...Kalo part nya seru? Komen...
...Kalo punya saran dan kritik? Komen...
...Kalo mau demo? Komen...
...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...
...Kalo ada typo? Komen...
__ADS_1
...D E S T I F A H I L A...